Voyage : 11.4

257 33 2
                                        

Baik Djati maupun Roemaga hanya bisa menyaksikan saudara mereka dengan lelah. Nusa sudah menelungkup di meja yang mereka pesan. Tidak ada tanda-tanda pergerakan, hanya tangisan yang terlihat dari bahu pria itu yang terlihat bergetar. Tidak ada yang berniat mengganggu agenda patah hati Nusa itu. Sekalipun Djati dan Roemaga ingin saudaranya itu mendapatkan balasan atas semua kebodohan yang dilakukan pada Nora, tetap saja tidak ada yang bisa membuat keduanya tega pada Nusa sebagai kakak beradik.

Keputusan Nora yang bulat dan bahkan Daniyara sudah mengkonfirmasi hal tersebut membuat Nusa patah hati luar biasa. Membuat Nusa pada akhirnya menghubungi kedua saudaranya untuk menemaninya minum-minum. Meski pada akhirnya tidak ada minum-minum itu, sebab Nusa hanya sedang menumpang menangis di kelab malam yang berisik saja. Terlebih Nusa membawa kedua saudaranya sebagai barang bukti bahwa dia tidak akan melakukan hal yang gila karena dia akan menjadi seorang ayah.

Roemaga melirik Djati dan mengirimkan pesan singkat kepada kakaknya itu.

Roemaga: aku pulang duluan aja, Mas.

Djati melirik adiknya itu dengan keras. Dia tidak mau jika sendirian mengurusi Nusa. Mereka bertiga adalah saudara laki-laki yang memang harus mengurus salah satu yang sedang terpuruk sama-sama, bukan sendiri-sendiri.

Djati: diem disitu. Berani pulang Mama akan tau kamu udah nikah diam-diam!

Ancaman Djati berhasil dan membuat Roemaga diam di tempat. Mereka bertiga saling mengunci rahasia satu sama lain, tidak akan ada yang menjadi kaleng rombeng kecuali masalah itu memang muncul ke permukaan sendiri. Sama seperti yang dialami Nusa ini. Selama masalah itu tidak muncul dengan sendirinya, maka mereka aman dari segala ikut campur tangan Daniyara. Kenapa mereka menghindari Daniyara? Karena kemungkinan besar mama mereka itu akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pada Nusa. Membela pihak perempuan tanpa memikirkan perasaan anak-anaknya sendiri.

"Kita berdua bakalan punya anak. Apa yang bakalan terjadi sama anak kita kalo kita cerai?"

Sekali lagi Roemaga menoleh pada Djati. Nusa mulai meracau, padahal tidak ada alkohol yang ditengguknya. Menimpali orang mabuk lebih mudah karena tidak akan diingat dengan baik, sedangkan menimpali orang yang secara akal memang sedang sadar sudah pasti menyulitkan.

"Kenapa kalian diem aja? Gue lagi ngomong!"

Roemaga menyerahkan hal itu pada Djati, karena jika dia membalas ucapan Nusa, yang ada malah mereka berdebat sendiri.

"Nora nggak minta diceraikan saat ini juga. Dia udah bilang ke Mama cerainya setelah dia melahirkan. Jadi, status anak itu tetap anakmu."

Nusa memukul permukaan meja dan membuat kedua saudaranya menaikkan kedua alis kaget. Tingkah saat sedang sadar saja sudah sulit dikendalikan seperti ini, bagaimana jika mabuk?

"Itu nggak ngaruh! Yang kumaksud adalah gimana sama tumbuh kembangnya, kalo kita pisah???"

Roemaga menarik bahu Nusa untuk kembali duduk tenang. Meski kelab cukup bising, tapi mereka masih bisa mendengar ucapan satu sama lain di meja itu.

"Tenang dulu, bisa? Tenang dan Mas Djati akan tetap bantu cari cara kalo lo nggak mencak-mencak gini."

Djati menghela napasnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Mama udah bilang akan tetap menarik Nora untuk tinggal di rumah. Intinya, Nora nggak akan kemana-mana. Dia akan tetap di rumah itu. Kalian cerai pun, kamu bisa menemui anakmu dengan leluasa selama Mama mempertahankan Nora di sana."

Nusa mengusap wajahnya dengan frustrasi. Kalimat Djati itu masih tidak membantu apa pun. "Itu sama aja, Mas! Aku maunya nggak ada perceraian!"

"Nusa, dewasa sedikit. Perceraian ini bukan segalanya. Kalian bisa kembali bersama, dengan catatan kalian berdua udah sembuh dari luka masing-masing. Nora sembuh dari masa lalunya, dan kamu sembuh dari rasa bersalahmu semata. Aku harus mengatakan bahwa pemikiran Nora ini benar. Dia nggak memaksakan hubungan dalam pernikahan yang dimulai dari kekacauan. Kalian butuh untuk menyembuhkan trauma masing-masing, belajar mencintai diri sendiri lebih dulu sebelum saling memberikan cinta. Mulai hubungan kalian dengan cara yang benar dan nggak ngaco seperti sebelumnya. Supaya anak kalian pun bisa dapat cinta yang nggak kacau dari orangtuanya."

Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang