"Jangan banyak gerak dulu, kalo mau apa-apa tinggal klik tombol ini. Mama udah sambungkan ke seluruh ruangan, jadi kalo kamu atau Dambha butuh sesuatu jangan sibuk kesana kemari sendiri. Paham?" ucap Daniyara dengan tegas.
"Iya, Ma."
"Terus kamu, Nusa. Pastikan apa yang Nora dan Dambha butuhkan terpenuhi, kecuali kamu sibuk kerja. Mama yang akan urus. Tugas kamu udah bukan kayak laki-laki single. Tanggung jawab penuh sama apa yang udah kamu perbuat."
Nusa menaikkan kedua alisnya dengan apa yang mamanya katakan. Dia tidak merasa tidak bertanggung jawab, jadi dia hanya diam dan menatap Daniyara yang memberikan ucapan penuh penekanan itu.
Daniyara tampak menyugar rambutnya denga gaya yang cukup keren untuk wanita seusianya. "Udah, ya. Mama mau wawancara pengasuh untuk Dambha dulu. Kalian bisa istirahat atau ngapain terserah. Jangan ribut aja yang penting."
Setelah memberikan peringatan tersebut, Daniyara pergi dan meninggalkan kedua orangtua baru itu untuk mengatasi tugas baru mereka itu.
"Kamu mau mandi duluan?" tanya Nusa.
"Hm ... Aku bisa minta tolong kamu untuk siapin air hangat?"
Nusa tersenyum hangat dan mengusap kepala istrinya itu. "Bisa banget. Tunggu, ya."
Perlakuan manis ini tidak bisa membuat Nora mengurungkan niatnya. Perceraian adalah hal yang harus mereka jalani, karena tidak ada jalan lain selain memulai sesuatu yang benar-benar berbeda diantara mereka berdua.
***
"Kenapa kamu jadi sering banget di rumah?" tanya Daniyara kepada suaminya yang memang menjadi sangat sering di rumah dengan keberadaan Dambha.
Roedjati memberikan tatapan sesaat pada Daniyara dan langsung menghampiri Dambha yang sedang berjemur dengan kacamata hitam yang diberikan oleh Daniyara. Bayi itu terlihat sangat imut dan siapa pun tidak akan bisa mengabaikan tingkat menggemaskan Dambha walau bayi itu tidak melakukan apa pun selain tidur diam di pangkuan neneknya itu.
"Eja."
Roedjati berlutut di depan Daniyara yang sedang memangku Dambha, membuat posisi orangtua usa itu malah terlihat sangat romantis. Dari kejauhan, Nora dan Nusa menghentikan diri mereka untuk melangkah mendekat. Meski Nusa sendiri memprotes tindakan Nora, tapi mereka bisa melihat bagaimana pasangan tua itu malah seperti baru membangun hubungan setelah cucu mereka lahir.
"Menurut kamu, apa ini jalan yang memang Tuhan kasih untuk kita semua, ya, Sa?" Nora berkata.
"Semua yang terjadi di hidup manusia memang campur tangan Tuhan, kan?"
Nora melirik suaminya agak kesal. "Bukan itu maksudku."
"Terus? Maksudnya gimana?"
Nora kembali menatap ke depan dimana Daniyara dan Roedjati masih dalam posisi semula.
"Kita kehilangan anak pertama kita, aku kehilangan ingatanku. Tujuannya untuk bikin kita bisa sama-sama dan akhirnya bisa membawa Dambha ke dunia. Dan ternyata Dambha bukan hanya anak yang membuat kita berkomitmen sebagai orangtua aja, tapi dia juga menjadi jembatan untuk kakek dan neneknya yang hubungannya agak hambar karena kurangnya komunikasi diantara keduanya."
Untuk Nusa yang tidak begitu suka mengaitkan satu hal dan lainnya hanya karena ikatan emosional saja, dia menjadi tersadar oleh penjelasan Nora itu. Dia tidak pernah benar-benar menyadari jika hal yang membuat pemandangan ini bisa dilihat Nusa lagi adalah putranya yang belum genap berusia satu bulan.
"Aku jadi bertanya-tanya, kapan terakhir kali aku lihat adegan kayak gini dari orangtuaku? Aku rasa nggak pernah aku lihat mereka bisa keliatan semesra ini."
Nora hanya menarik napas dan memandangi suaminya dengan tatapan prihatin. "Sabar, ya, Sa."
"Ih? Apaan? Kenapa tiba-tiba 'Sabar, ya, Sa'? Kalo mau dipandang menyedihkan, kondisi orangtuaku nggak lebih parah ketimbang kondisi keluarga kamu sendiri, ya, Elnora."
Nora tersenyum karena mengingat kembali dengan kenangan mereka dulu sebagai sahabat. Membahas keluarga mereka dengan santai dan tidak memberikan banyak reaksi terlalu sentimentil akan permasalahan keluarga itu. Mereka hanya berusaha untuk saling menguatkan dengan tawa dan canda yang mengalihkan permasalahan di rumah.
"Kangen nggak, sih, Sa?"
"Kangen kamu? Selalu."
Nora berdecak. "Kangen momen kita pas masih sahabatan aja kayak dulu. Nggak ada drama yang bikin kita saling nyalahin. Nggak ada ambisi untuk saling memiliki. Momen dimana kita cuma saling jadi tempat cerita satu sama lain buat ngilangin permasalahan di rumah apa pun itu. Persahabatan yang sehat, tanpa melibatkan perasaan—"
"Aku nggak pengen ke momen itu lagi."
Nora terkejut dengan balasan cepat Nusa itu. "Kenapa?"
"Aku nggak berniat untuk ke fase itu lagi. Aku tahu rasanya di posisi kamu. Dimana perasaan kita nggak bisa bikin kita milikin orang yang kita cinta."
Nusa mengepalkan tangannya, menunjukkan bahwa pria itu memang sangat serius tidak ingin memikirkan apa pun mengenai masa lalu mereka.
"Kita hidup di masa kini, Ra. Kita hanya perlu memperbaiki cinta yang kita punya, bukan balik ke masa lalu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
