Voyage : 13.3

235 28 1
                                        

Dambha Sasmaka Roedjati menjadi pilihan nama yang Nusa pilih. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu sudah menjadi pusat perhatian di keluarga. Bagaimana tidak? Dambha adalah cucu pertama yang akhirnya lahir setelah banyak drama keluarga. Tidak ada satu anggota keluarga yang tidak berfoto sembari menggendong bayi itu. Bahkan termasuk Roedjati sendiri, si tetua yang selalu terlihat kaku.

"Berapa hari Dambha bisa dibawa pulang?"

Itu pertanyaan satu-satunya yang keluar dari bibir Roedjati. Kapan cucunya bisa dibawa pulang?

"Belum ada kabar dari dokternya, Pa. Sesuai perintah dokter aja."

"Hm. Nanti dibawa ke rumah utama, kan?" Kali ini Roedjati bertanya langsung pada istrinya.

"Iya. Dambha dan ibunya akan tinggal di rumah utama."

"Tapi kamu bilang mereka akan cerai? Kita akan menampung perempuan yang sudah nggak menjadi istri Nusa?"

Daniyara menahan napas ketika suaminya mengatakan hal itu. Tentu saja semua tatapan mengarah pada Nora. Nada bicara Roedjati yang terlalu lempeng-lempeng saja membuat pria itu tampak tidak memiliki empati sama sekali.

"Berikan Dambha ke ibunya kalo kamu mau kita bicara berdua aja, Eja. Hal seperti ini nggak seharusnya kamu tanyakan di depan semua orang yang sedang berbahagia dengan kelahiran cucumu."

Daniyara tidak menunggu Roedjati untuk memberikan bayi itu pada Anjani yang memang tadi menggendong Dambha. Wanita itu langsung meraih Dambha dan memberikannya pada Nora dan memastikan bayi itu tenang dalam dekap sang ibu. Setelah itu, Daniyara kembali mengarah pada sang suami dan berkata tegas, "Kamu ikut aku. Kita bicara di tempat lain saja!"

Kelima anggota keluarga di sana hanya mengamati bagaimana Daniyara dan Roedjati menyelesaikan drama mereka sendiri yang sebenarnya tidak perlu dibesarkan juga. Toh, Nora juga tidak memiliki niatan untuk menjadikan ucapan Roedjati sebagai sumber sakit hatinya. Itu pertanyaan yang wajar. Kenapa mereka harus menampung perempuan yang sudah tidak mau melanjutkan hubungan dengan anak mereka?

"Jangan terbawa ucapan suaminya Mama Daniyara," bisik Anjani.

"Jani!" tegur Djati yang memang bisa mendengar ucapan istrinya itu.

"Apa? Bener, kan? Itu suaminya mama Daniyara. Kenapa kamu marah?"

"Itu nggak sopan. Kenapa kamu panggil Mama dengan mama, tapi papa dengan 'suami mama'?"

"Ya, karena aku akrabnya sama Mama Daniyara aja. Yang jodohin kita juga Mama. Papa kamu mana peduli aku jadi menantunya atau nggak."

"Nggak gitu. Papa bukannya nggak peduli, dia memang lebih fokus untuk bisnis. Untuk urusan jodoh perjodohan, memang Mama yang lebih mengurusi. Makanya Mama selalu lapor ke Papa—"

"Aku nggak berniat untuk jadi seperti Mama Daniyara, ya, Djati! Kamu nggak perlu jelasin posisi papa kamu itu. Aku tahu kamu penggemar nomor satu papa kamu, ya. Tapi aku nggak berniat—"

"Stop, stop. Ini pada kemana pembahasannya, sih? Mending kalian berdua ikut Papa sama Mama keluar, deh. Kasian bayinya di sini karena kalian malah debat." Roemaga mendorong punggung Djati dan Anjani untuk keluar dari ruangan tersebut.

Setelah ruangan Roemaga kunci barulah suasana menjadi tenang lagi. "Ah, akhirnya nggak berisik."

"Thank, Roe. Gue pusing kalo mereka masing-masing berantem. Entah kenapa hari ini malah pada naik pitam."

Roemaga meringis dan kembali duduk di sofa. "Ya, kayaknya efek karena kalian mau pisah, sih. Eh, sorry ya, Nora. Gue nggak bermaksud ngomong yang aneh-aneh. Cuma emang dasar kitanya aja yang cemas sama kondisi kalian."

Nora mengangguk dan fokus pada Dambha saja. "Nggak apa-apa. Sebenarnya dari tadi subuh juga aku sama Nusa udah kebawa emosi duluan, sih. Efek baru melahirkan jadi kemana-mana."

Roemaga dan Nusa saling menatap sebelum adik Nusa itu mengangkat kedua bahunya dan memilih menyalakan televisi untuk mengalihkan fokus.

"Roe, tutup mata dulu." Nusa memberi titah.

"Kenapa?"

Nusa memberikan gestur tangan di kedua dada, sebagai contoh bahwa Nora harus menyusui bayinya.

"Oh, paham. Gue balik badan aja. Males ke depan, pusing dengerin debat pasangan."

Nusa membiarkan adiknya bermain ponsel dengan membelakangi mereka.

"Maafin aku, ya." Nora tiba-tiba berkata.

"Kenapa? Kamu nggak salah, Ra. Kamu cuma mau nyusuin—"

"Bukan itu. Maafin aku karena situasi keluarga kamu jadi serba canggung begini. Semua bermula dari aku. Kita akan menjalani hubungan aneh dengan semua ini. Aku minta maaf."

"Hubungan kita nggak aneh, aku yakin di keluargaku ada yang menjalani hubungan lebih aneh."

"Lo nyindir gue?!" balas Roemaga.

"Apaan? Kepedean! Papa sama Mama hubungannya lebih aneh, lo nggak liat? Sampe tua, mereka itu nyangkal perasaan yang mereka punya."

Roemaga mendesah. "Lah, itu sih Mama doang yang punya rasa."

"Lo aja yang nggak sadar. Ngapain Papa kasih nama anaknya kebanyakan dari inisial huruf Mama? Djati, Danusa dari nama Daniyara."

Roemaga berdecak di balik punggungnya. "Djati, ya, namanya papa sendiri. Roemaga, juga dari nama papa sendiri, Roedjati. Papa seeegois itu, Nusa. Masih nggak ngerti juga betapa cinta Mama bertepuk sebelah tangan?"

Nora mengamati kedua adik kakak itu. Rupanya konflik internal papa dan mama mereka pun menjadi pembahasan tersendiri.

Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang