Nora tidak mengingat mengenai celana dalamnya semalam. Siapa juga yang akan memikirkan itu dalam kondisi yang kalut? Pertengkarannya dengan Nusa semalam setelah mereka bercinta ... itu sungguh diluar kendali. Nora memikirkannya berulang kali, dan dia memang tidak bisa mengulang waktu. Kemarahannya meluap karena memang berdasarkan rasa malu. Juga karena sedari awal, Nora tidak pernah mengatakannya pada Nusa. Ya, apa pun itu, memang sudah sepatutnya terjadi. Nora juga perlu mengeluarkan apa yang dirasakannya dan tidak terus menerus tertindas akan kebodohannya sejak lama.
"Elnora," panggil Daniyara.
"Iya, Ma?"
"Kamu semalam sama Nusa?"
Pertanyaan itu membuat Nora ketar ketir. Dia takut jika ada seseorang yang melihat Nora bercinta di atas meja makan keluarga. Lebih parahnya, bagaimana jika ternyata ada kamera tersembunyi yang merekam semua kegiatan itu?
"M-maksudnya, Ma?"
"Salah satu pembantu bilang, ada celana dalam wanita di keranjang baju kotor di kamar Nusa. Itu punya kamu, kan?"
Bagus. Celana dalam itu menjadi bukti yang tidak terbantahkan bagi Nora. Dia tidak bisa mengelak dari pertanyaan Daniyara itu.
"Eh, aku nggak tidur di kamar Nusa."
"Oh, Mama paham. Nggak perlu kamu jelasin lagi."
"Mama paham?"
Daniyara mengangguk dengan yakin. "Paham. Wajar itu terjadi. Kalian masih terikat status sebagai suami istri. Kamu juga lagi hamil, wajar kalo hormon itu mendorong kamu untuk mendapatkan orgasme."
Nora menyengir tidak bisa berkata-kata. Mertuanya memang sudah memiliki pengalaman, jadi pasti tidak aneh untuk menebak semua agenda yang mengandalkan hasrat seksual anak-anaknya.
"Tapi kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Daniyara.
"Aku nggak apa-apa, Ma."
"Hm, syukurlah. Mama takut aja kalo Nusa mainnya terlalu kasar karena terlalu kangen sama kamu. Gimana pun, kondisi kamu lagi berbadan dua. Main secara kasar bisa bahaya."
Nora segera menggeleng sebagai jawaban. "Nggak ada yang kayak gitu, Ma. Kebetulan ... yang wajar-wajar aja."
Daniyara sama sekali tidak tampak bergurau membahas hal itu, membuat Nora malah semakin salah tingkah. Jika Daniyara bisa bercanda sedikit, mungkin Nora bisa ikut tersenyum meski hanya sedikit.
"Apa itu mengubah keputusan kamu, Nora?"
"Keputusan?"
"Berpisah dengan Danusa."
Nora tidak pernah membicarakan perpisahan kepada Daniyara. Sejak pertama Daniyara mengurusnya, hanya pembahasan mengenai kepura-puraan mengenai anaknya nanti dan Nora yang tidak ingin bertatap muka dengan Nusa. Mengenai perpisahan, itu hanya menjadi pembahasan Nora dengan Nusa. Jika sekarang Daniyara menanyakan hal itu tanpa basa basi, itu artinya Nusa yang memberitahukannya.
"Nusa mengatakan banyak hal ke Mama?"
"Nggak. Mama hanya suka mengamatinya yang mengamati kamu. Nusa nggak mengatakan bahwa kamu mau berpisah, tapi dari ketakutannya itu semua udah menjelaskan segalanya."
Nora memilin bajunya dengan kuku, tidak bisa sepenuhnya merasa baik-baik saja membahas ini dengan Daniyara.
"Hubungan kami dimulai dengan cara yang nggak benar, Ma. Sekalipun Nusa berusaha untuk memperbaikinya sebelum ini, tapi aku nggak bisa menghentikan bayangan diriku sendiri yang mengemis cintanya dulu. Aku sangat memalukan. Aku marah dan kecewa sama diriku sendiri yang nggak bisa bersikap tegas untuk memprioritaskan diriku sendiri dari cinta yang ku punya untuk Nusa. Aku terlalu bodoh ... dan aku nggak ingin ada di fase itu."
"Tapi kalian sekarang udah mengalami kemajuan. Usaha kamu dulu membuahkan hasil. Dia mencintai kamu. Seperti yang Mama bilang di rumah sakit, you fell first then he fell harder."
"Itu nggak memperbaiki apa pun, Ma. Aku ingin merawat diriku yang pernah terluka. Aku mau mulai memprioritaskan diriku sendiri. Nggak lagi termakan cinta."
"Dan nggak bisa kamu sembuhkan di dalam pernikahan kalian ini?"
Nora menatap Daniyara dengan lembut. Di ruang keluarga itu, Nora bisa melihat bahwa suasana hangatnya bukan hanya melalui desain interior saja. Melainkan karena Daniyara memang sosok hangat yang sangat peduli pada anak-anaknya, bahkan kepada Nora yang bukan anak kandungnya.
"Nggak bisa, Ma. Berada di pernikahan ini ... aku masih merasa sesak. Selama aku belum melepaskan luka itu lebih dulu, selama aku belum bisa fokus untuk diriku sendiri, selamanya aku akan terus bertengkar dengan Nusa hanya dengan topik yang sama yang datangnya dari masa lalu. Masalahnya bukan di Nusa, Ma. Tapi di aku. Aku yang harus menyelesaikan luka di diriku. Supaya aku nggak melukai Nusa ke depannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
