They voyage to distant lands that we called;home.
|Danusa Roedjati.|
|Roedjati series #2|
Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[Haiii! Cerita Nusa dan Nora udah tamat, yes. Baca duluan tersedia di Karyakarsa freelancerauthor. Aku tinggal bikin harga paket full bagi yang lebih suka langsung beli dan baca semua part. Nanti harga paket udah termasuk buat baca extra part, ya. Happy reading semuanya!]
Ada satu cara untuk bisa mengubah hubungan yang tadinya mendung menjadi cerah. Cara ampu itu adalah dengan menghujani hubungan dengan keringat yang dipadu padankan dengan gerakan gusar sekaligus menuntut dari ketatnya penyatuan tubuh. Hanya dengan ini, suasana mendung di hati tertiup angin kesegaran akan cinta.
Nora yang berada di atas pangkuan suaminya berusaha untuk menghirup udara sebanyak mungkin, meski hanya berhasil meraih sedikit demi sedikit. Dorongan Nusa kepada tubuhnya begitu kuat dan memabukkan. Sulit bagi Nora untuk bisa membagi pikirannya pada hal lain disaat begini.
"Nusa ... Danusa ...."
Lenguhannya atas nama sang suami mengisi penuh kamar mereka. Nusa mengencangkan pegangan dimana dia mengikat kedua pergelangan tangan Nora di belakang tubuh perempuan itu. Menahan Nora untuk mencakar punggung sang pria, sekaligus untuk membuat Nora kehilangan kendali. Semakin tidak bisa melampiaskan tangannya dengan mencakar dan menyentuh Nusa, semakin perempuan itu hanya bisa fokus pada hujaman Nusa saja.
Nora meletakkan keningnya di bahu sang suami, secara perlahan berusaha untuk menggigitnya karena tidak ada cara lain untuk bisa melampiaskan rasa puasnya sekarang ini.
"Nakal sekali," bisik Nusa.
"Nggak ada pilihan lain ... kamu memaksa aku untuk gigit pundak kamu."
Nora tidak peduli jika dia terdengar begitu murahan dengan deru napasnya yang tersengal-sengal. Toh, Nusa tetap suka bahkan malah tampak lebih suka jika Nora seperti sekarang ini.
Tanpa aba-aba, Nusa memukul bokong istrinya itu hingga Nora merasakan sensasi baru lagi. Dia terkejut, tapi bukan seperti kaget karena pertama kalinya. Nora terkejut karena tanpa sadar dia merasakan apa yang diberikan oleh Nusa itu membuatnya senang. Seperti ada adrenalin yang bertambah terpacu. Seperti ajakan untuk bersikap nakal dan memuaskan diri.
"Lagi ..." Nora meminta.
Dia ingin merasakannya lagi. Memastikan mengenai sesuatu.
Plak! Nusa menampar kembali bokong Nora sampai perempuan itu tersengal napasnya sendiri dengan indah.
"Enak, hm? Sampai minta lagi."
Nora tanpa malu-malu mengangguk. Membuat Nusa sangat gemas dan langsung membanting tubuh perempuan itu ke ranjang, kembali membuat Nora telentang di bawah kendali Nusa.
"Apa kita pernah ngelakuin kayak tadi?" tanya Nora saat mereka ada celah untuk fokus bicara.
"Kayak apa? Smack your ass?"
Sekali lagi Nora mengangguk. Dan jawaban dari Nusa membuat Nora bertanya-tanya sendiri.
"Kita sering melakukannya, dan sayangnya kamu nggak mengingatnya sekarang."
Apa mereka memang segila itu sebelumnya dalam bercinta? Kenapa Nora mau? Padahal, kan, mereka berstatus sahabat saja. Jika memang mereka sudah memiliki rasa saling cinta ... kenapa mudah sekali berhubungan intim tanpa status yang jelas?
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nusa sembari menyentuh kening istrinya.
Nora menggelengkan kepalanya dan memeluk punggung Nusa. Kedua tangannya sudah tidak dikunci oleh pria itu, jadi sepuas hati dia bisa mencakar punggung suaminya.
Kembali tubuh mereka bersatu, Nusa bergerak begitu konstan dan semakin lama semakin keras. Buah dada Nora terpental dan hanya desahan nakal yang keluar dari bibir perempuan itu. Sama-sama mencapai puncak, keduanya tersenyum dan saling mengecup pipi secara bergantian.
"I love you, Elnora."
Itu terdengar tulus, tapi kenapa Nora tidak bisa begitu saja mempercayai apa yang didengarnya? Ada apa dengan pikirannya yang terus bertanya-tanya?
***
Makan banyak setelah bercinta adalah hal yang wajar. Banyak tenaga yang sudah mereka gunakan tadi. Seharusnya memang sebelumnya mereka menghabiskan makanan yang sudah dipesan Nusa. Memang yang namanya bercinta adalah hal yang tidak bisa ditunda, apalagi jika sudah berkaitan dengan pasangan resmi seperti mereka.
"Tadi kamu bilang kita sering ngelakuin kayak tadi, itu maksudnya gimana, sih, Sa?" tanya Nora pada akhirnya.
Tidak bisa lagi dia menahan diri untuk bertanya. Semakin lama, makin dia bingung dan penasaran.
"Hm? Maksudnya gimana, apanya?" balas Nusa.
"Maksudnya, aku dulu emang semurahan itu sama kamu, ya, Sa? Sampai kita yang sahabatan bisa ngelakuin seks yang nakal kayak gitu? Aku agak terkejut juga tadi waktu kamu tampar bokongku, bukan kaget kayak pertama kali. Lebih kaget karena aku kayak udah biasa kamu gituin."
Nusa terbatuk-batuk ditengah kunyahannya, segera dia meneguk air untuk melapangkan jalan di kerongkongannya. "Kamu ngomong apa, sih, Ra? Nggak ada, ya, kamu bahas diri kamu murahan begitu. Apa yang pernah kita lakuin, itu murni karena kita sadar sama perasaan yang kita punya."
Meski diberikan jawaban demikian, Nora masih saja tidak percaya dirinya bisa melakukan hal semacam itu dengan Nusa. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Nora dulu?
"Aku pernah hamil gara-gara hubungan kita nggak?"
Yang kali ini sukses membuat Nusa tersedak keras. Pria itu buru-buru ke dapur, memuntahkan makanannya ke kitchen sink, dan Nora menjadi tidak enak sendiri karena sudah menanyakan hal semacam itu.
"Maaf, Sa. Harusnya aku bisa mikir, kamu adalah pria paling main aman. Nggak mungkin kamu bikin aku hamil, apalagi tanpa status apa pun."
Bukannya membuat batuk suaminya mereda, wajah Nusa malah makin memerah. Celetukan Nora tampaknya sudah membuat Nusa menjadi gila.