Memiliki hubungan yang aneh dengan Nusa bukanlah hal yang asing bagi Nora. Dia tahu bahwa sejak awal bertemu dengan Nusa dan bisa menjalani pertemanan saja sudah membawanya pada kata tidak asing. Namun, melihat bayinya tertidur dalam dekapan dan memiliki fitur wajah seperti Nusa ... ini baru terasa asing bagi Nora. Anak yang dilahirkannya ini membuat Nora tidak percaya bahwa dia sudah menjadi seorang ibu. Juga tidak percaya bahwa dia bisa melahirkan anak Nusa. Setelah drama yang dulu terjadi dan tidak membuat bayinya lahir dalam kondisi normal hingga tiada.
"Dambha nggak akan kemana-mana. Kenapa kamu lihat dia sebegitunya?" ucap Nusa yang membuat Nora menoleh ke arah pintu.
"Udah berapa lama kamu disitu?" tanya Nora.
"Cukup lama karena kamu melamun dan mandangin Dambha hampir nangis begitu."
"Udah selesai ngomong sama Mas Djati-nya?"
"Udah."
Nusa mengambil posisi tepat di depan Nora. Ikut melihat wajah Dambha dalam dekapan ibunya.
"Kamu mau biasain Dambha tidur di pelukan kayak yang Papa lakuin?"
Nusa tidak yakin itu posisi yang bisa membuat Nora istirahat. Tubuh Nora pasti akan sakit-sakit keesokan pagi jika mengikuti metode tidur yang Roedjati biasakan untuk menenangkan bayi.
"Kan, ada kamu. Kenapa aku harus lakuin itu sendiri? Katanya kamu mau bantu aku ngurus Damba?" balas Nora.
"Oh? Kenapa nggak kita coba untuk biasakan Dambha tidur semestinya? Nggak harus ditaruh di atas dada."
Nora meletakkan Dambha di ranjang dan berkata, "Kita coba lihat aja. Sampai berapa lama dia mau tidur tenang dalam posisi begini."
Nora tadi sudah berusaha melakukannya, dan berujung anak itu merengek dan tidak membuat Nora bisa tenang selama Nusa bicara dengan Djati. Ketika didekap, bayi itu langsung tenang.
"Kamu udah coba untuk nidurin dia di ranjang tadi?"
"Iya. Dan hasilnya memang dia lebih nyaman tidur dengan didekap."
Nusa berdecak. "Ini gara-gara Papa, nih."
"Ya, gara-gara Papa kamu memasang standar terlalu tinggi untuk mengurus anaknya. Kamu juga harus punya standar yang tinggi untuk ngurus anak."
Nusa tidak bisa mengelak bahwa papanya memang memiliki standar yang tinggi untuk mengurus dan menyayangi anak-anaknya. Meski memang tidak ada standar tinggi untuk menunjukkan pada anak-anaknya cara mencintai dan menyayangi pasangannya. Ya, sungguh adil semua yang ada di dunia ini. Roedjati mampu menjadi ayah yang baik, tapi tidak mampu menjadi suami yang baik untuk ibu dari anak-anaknya.
"Kenapa bengong, Sa?"
"Oh, nggak. Aku cuma kepikiran, gimana kalo kita rujuk untuk bisa punya waktu sama-sama kayak gini selamanya?"
Nora memutar bola matanya karena tahu bahwa Nusa sedang berusaha untuk menghancurkan dinding yang Nora buat diantara mereka. Rupanya Nusa bisa juga berusaha merebut hati Nora diam-diam seperti ini.
"Danusa ...."
"Hahaha. Iya, aku tahu kamu belum siap. Tapi nanti jangan mohon-mohon balikan ke aku kayak Mbak Anjani ke Mas Djati, ya?"
"Loh? Emangnya mereka udah pisah? Kok, Mbak Anjani minta balikan?"
"Hampir. Ya, intinya mereka lagi gonjang ganjing. Kan, kita malah gosipin mereka begini."
"Ini nggak gosipin, loh, Sa. Ini namanya tukar informasi. Lagian aku jadi penasaran, kenapa Mbak Anjani mohon-mohon ke Mas Djati? Keliatannya Mbak Anjani ini tegas dan nggak bakal ciut hanya ditinggal Mas Djati."
Kedua bahu Nusa terangkat. "Nggak pernah ada yang tahu isi hati manusia. Buktinya memang Mbak Anjani bisa mohon-mohon karena kata Mas Djati, istrinya itu udah cinta sama dia. Nggak mau pisah."
"Wowww." Nora bergumam kagum.
"Kenapa 'wow'?" balas Nusa.
"Ya, karena kalo aku diposisi Mbak Anjani, aku nggak akan seberani itu untuk mohon-mohon meskipun aku cinta."
"Hmm??" Ekspresi Nusa langsung seperti perempuan yang sedang mencibir teman sejawatnya yang berkata berlainan dengan fakta.
"Ihh, Nusa! Jangan dibandingin sama aku yang dulu!"
Nusa pun menghela napasnya. "Kamu, tuh, aneh kamu tahu nggak? Dulu kamu ngotot mau aku jadi milikmu. Begitu terkabul, kamu malah minta pisah dari aku. Udah aku tahan-tahan nggak ajak balikan, masih aja kamu sok jual mahal. Jangan main-main, please. Aku mau kejelasan di hubungan kita, Ra."
"Nusa, jangan begini."
"Iya, iya. Yaudah, tidur. Besok pagi kita mulai aktivitas lagi. Besok, aku akan ajak kamu untuk rujuk lagi. Siapa tahu, hati kamu berubah dan mau. Love you, Elnora."
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
Roman d'amourThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
