Voyage : 11.2

332 36 1
                                        

[Untuk kalian yang mau baca full dengan layout rapi, versi ebook sudah tayang di google playbook, ya. Happy reading semuanya 💙]

Kaki kanan Nora menekuk di atas meja, memberikan akses pada Nusa untuk menjamahnya lebih leluasa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kaki kanan Nora menekuk di atas meja, memberikan akses pada Nusa untuk menjamahnya lebih leluasa. Kuku perempuan itu menancap di bahu sang suami yang sedang bernafsu untuk menghantarkan gelombang cinta diantara mereka. Kehamilan bukan penghalang bagi keduanya sama sekali. Justru Nora merasa lebih gila dari dirinya yang biasanya. Hormon kehamilan yang tidak bisa dikendalikan membuat Nora bergumam asal. Tubuhnya suka dorongan dari pinggul Nusa. Mulutnya mendesahkan nama pria itu senantiasa seperti sebuah doa.

Tidak peduli mereka melakukannya di atas meja makan keluarga yang pasti akan menjadi skandal tidak biasa jika salah satu tuan rumah menyadarinya cepat atau lambat. Yang ada di pikiran keduanya saat ini hanyalah meluruhkan getaran ditubuh masing-masing yang sudah mengendap dan membuat mereka selalu tegang karena tidak kunjung mendapat pelepasan.

Nusa menciumi berulang kali bibir istrinya, menambah kecepatan dan mereka mendapatkan kesenangan serta ketenangan melalui klimaks yang hampir didapat diwaktu bersamaan.

Nora menyandarkan keningnya di bahu Nusa. Keduanya berusaha menetralkan napas yang saling berhembus kencang. Setelah beberapa menit berjalan, Nora yang lebih dulu memberi jarak diantara mereka berdua. Dengan cara mendorong dada Nusa, perempuan itu seakan baru tersadar dari hipnotis. Nora kembali memikirkan kenangan dimana dirinya terus berusaha bersedia untuk melakukan seks bersama Nusa dulu.

"Nora?"

Tidak akan Nusa sangka bahwa persetubuhan mereka malah membuat sang istri menitikkan airmata.

"Nora? Hei? Apa ada yang sakit? Aku udah berlebihan tadi, ya? Maaf—"

"Kenapa harus aku lakukan itu? Kenapa aku dengan bodohnya memberikan tubuhku ke kamu? Kenapa aku setolol itu hanya karena cinta?"

Nora menatap Nusa tepat di matanya, membuat pria itu ketakutan setengah mati. "Kenapa aku melakukan semua itu? Disaat pria yang aku inginkan, pria yang aku sodorkan cinta nggak mencintaiku sama sekali."

"Nora ... itu nggak benar—"

Tangan Nusa yang berusaha mengusap wajah istrinya langsung ditepis bersamaan dengan kalimat yang disela kasar.

"Itu benar!" Gigi Nora bergemeletuk saat mengatakan itu.

Nusa tidak tahan melihat semua ini. Dia tidak sanggup melihat Nora yang menyalahkan diri sendiri karena jatuh hati terlalu dalam pada Nusa. Dulu, Nusa pasti tidak menganggap semua perkataan dan reaksi Nora memiliki dampak yang besar. Namun, sekarang ... Nusa sungguh ketakutan untuk ditinggalkan oleh Nora.

"Aku malu, Sa. Aku malu banget setiap inget semua itu. Aku ... apa yang aku harapkan dari kamu saat itu? Cinta? Nggak ada. Bahkan kamu menyalahkan aku karena aku mencintai kamu, padahal kamu cuma mau jadi sahabatku. Aku malu sama diriku sendiri, karena aku lebih takut kamu tinggalin ketimbang menjadikan diriku prioritas saat aku hamil dan kamu menyalahkan kehamilan itu."

Nusa ingin memeluk tubuh istrinya. Namun, Nora yang histeris saat ini tidak mengizinkannya.

"Kalau ada sahabat yang aku benci, itu kamu, Ra. Ya, aku inget banget kamu bilang gitu. Kamu benci aku, Sa. Kamu nggak cinta aku, kamu membenci aku!"

Sekeras apa pun Nusa berusaha untuk bisa memberikan pengertian pada Nora. Nyatanya perempuan itu tetap gigih pada masa lalu mereka. Kalau Nusa bisa kembali ke masa lalu, dia akan memberikan pukulan di wajahnya sendiri berulang kali karena mengatakan kalimat yang menghancurkan kepercayaan diri Nora sekarang.

"Aku mencintai kamu, Nora. Aku mencintai kamu. Semua kebodohan itu cuma ada di masa lalu! Aku nggak membenci kamu. Dengerin aku—"

"Minggir, Sa."

"Nggak. Dengerin aku dulu! Aku cinta kamu—"

"Aku nggak butuh cinta kamu sekarang, karena aku udah mengingat rasa sakit hatiku dengan semua perlakuan kamu dulu!!!"

Baru kali ini Nusa bisa melihat dan mendengar teriakan Nora. Teriakan yang menjelaskan betapa luka itu mencabik-cabik Nora meski hanya berada di masa lalu.

"Kalo setelah kecelakaan itu aku nggak lupa ingatan, sejak awal aku bangun, aku nggak akan bersikap bodoh lagi dengan menggenggam tangan kamu, Sa. Aku nggak akan mempercayai kalimat bohong kamu soal kita yang punya hubungan sebelum aku kecelakaan. Aku nggak akan mengabaikan intuisiku mengenai kejanggalan yang aku rasakan saat semua kalimat cinta itu kamu berikan hanya untuk menebus rasa bersalah kamu, Sa. Aku nggak akan menikah dengan kamu. Aku ... aku nggak akan terikat dengan kamu lagi kayak gini."

Bukan hanya Nora yang merasa tersakiti dengan masa lalu mereka. Kini, Nusa bahkan merasakan sesak karena kejujuran yang perempuan itu ucapkan. Ternyata sejauh itu sikapnya menyakiti Nora. Tidak pernah terbayangkan persahabatannya dengan Nora bisa berubah menjadi kebencian begini.

"Aku mohon, Ra. Jangan menyesali apa pun sekarang. Aku benar-benar bahagia menikah dengan kamu, menjadikan kamu istriku. Aku sangat bahagia. Sangking bahagianya, aku nggak mau kamu mengingat luka yang aku ciptakan untuk kamu di masa lalu. Aku bahagia melihat kamu sebangun aku tidur, aku bahagia memakan masakan kamu. Aku bahagia ... luar biasa bahagia, ketika kita melihat hasil tes kehamilan kamu. Aku nggak bisa bohong, hatiku berdebar setiap kali kita mendengarkan suara detak jantung anak kita sama-sama. Please ... jangan menyesali semua ini. Jangan menyesali kehadiran anak kita, Ra. Aku mencintai kalian. Aku nggak lagi memiliki rasa 'bersalah' makanya aku menikahi kamu. Aku ingin hidup bahagia dengan kamu dan anak kita. Aku sungguh-sungguh, Ra."

Nora menggeleng lemas. "Aku nggak tahu, Sa. Aku nggak tahu mana yang benar dan mana yang nggak nyata. Tolong, biarin aku sendiri."

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang