Voyage : 8.5

295 33 2
                                        

[Extra part 2 udah aku update di Karyakarsa kataromchick, ya. Happy reading semuanya!]

Nora mendapati bukan hanya orangtua dan saudara Nusa saja yang ikut agenda makan malam ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nora mendapati bukan hanya orangtua dan saudara Nusa saja yang ikut agenda makan malam ini. Ada istri Djati yang turut berkumpul dan tampak ramah untuk melakukan inisiatif obrolan dengan Nora.

"Danusa sosok suami yang gimana?" tanya Sita Arjani, istri Djati itu.

"Ya, suami yang pasti kurang lebih sama kayak Mas Djati, Mbak."

"Kaku? Nggak suka kalo digangguin pas kerja? Nggak banyak omong? Nggak pernah nyatain cinta ke istri? Yang kayak gitu?"

Nora terkejut dengan bagian yang disebutkan Sita itu. Jauh sekali dengan Nusa yang memang selalu memberikan kenyamanan untuk Nora.

"Dari ekspresi kamu, Danusa bukan sosok suami yang kayak gitu, kan?"

Nora hanya bisa mengangguk pelan untuk sedikit menghargai posisi Sita yang ternyata melihat Djati sebagai suami yang kaku dan terdengar tidak ada bagian romantisnya sama sekali.

"Nggak usah masang muka nggak enak gitu. Djati sendiri emang mengakui dirinya begitu. Nggak ada rahasia dari wataknya di sini dan wataknya ketika jadi suami."

"Eh, iya, Mbak."

Nora bisa bereaksi apa lagi? Dia yang tadinya tidak ingin tahu urusan rumah tangga kakak iparnya malah sekarang jadi tahu bahwa istri Djati sangat tidak merasa nyaman dengan watak yang dimiliki anak tertua keluarga Roedjati itu.

Saat makan malam dimulai, Nora memperhatikan setiap gerak gerik masing-masing orang di meja makan panjang tersebut. Hampir tidak ada yang berusaha mencairkan suasana. Tapi setelah sosok utama, ayah mereka, menyingkir untuk mengangkat panggilan telepon, Roemaga mulai menggoda Sita dan Djati.

"Udah selama begini nikah, kalian masih belum siap juga punya anak, Mas, Mbak? Kalo kalian punya, aku yakin Mama dan Papa nggak akan mulai ngerecokin aku untuk nyusul Nusa."

"Roemaga, udah berapa kali Mas bilang. Panggil kakakmu yang bener."

"Iya, iya ... Mas Nusa."

Nusa mendengkus karena Roemaga hanya menurut pada ucapan Djati.

"Ngapain ngurusin anak? Mama bukan tipikal yang suka anak kecil. Iya, kan, Mas?" balas Nusa.

Daniyara melirik Nusa dan berkata, "Kamu kali yang nggak suka anak kecil. Apalagi anak kecil dari perempuan yang nggak kamu cinta. Bukan Mama."

Dengan balasan menusuk itu. Sontak saja berbagai reaksi muncul. Roemaga yang tampak senang karena Nusa dibantai dengan kalimat sakti mama mereka, Nusa yang kesal sendiri, dan Djati yang menghela napasnya karena sudah menebak pembahasan ini akan ada.

"Anak kecil dari perempuan yang nggak Nusa cinta?" Nora bergumam sembari menatap mertuanya lalu mengarah pada Nusa. "Emangnya pernah kamu nggak suka anak kecil dari perempuan yang nggak kamu cinta, Sa?"

Nusa menggenggam tangan Nora dan memberikan kalimat yang niatnya untuk menenangkan. Namun, bagi Nora malah terdengar seperti sebuah alibi saja.

"Aku jelas nggak suka anak kecil dari perempuan lain. Hanya anak yang kamu lahirkan yang akan aku suka. Anak kita."

Nora tadinya tidak berniat menganggap serius semua itu. Dia tahu bahwa mungkin pembahasan tersebut hanya candaan yang digunakan untuk mengisi sesi makan malam keluarga ini. Namun, tidak tahu mengapa, Nora malah merasa sesak dengan bayangan tersebut. Nusa yang tidak mencintai dirinya, Nusa yang tidak mencintai anak yang Nora lahirkan. Tidak tahu dari mana asalnya skenario di kepala Nora mulai merajalela dan tapa sadar membuat airmata terjatuh ke pipi.

"Elnora?"

Semua orang panik karena melihat Nora yang tiba-tiba saja menangis.

"Kamu kenapa? Ada yang sakit?' tanya Nusa.

"Coba cek luka bekas kecelakaannya, Nusa! Mama takut kalo Nora--"

"Nggak ada. Aku baik-baik aja, semuanya."

"Terus kenapa kamu nangis?" Nusa mulai menekankan kalimat tanyanya.

"Nggak tahu. Tiba-tiba aja airmatanya turun sendiri."

Nora bisa melihat anggota keluarga Nusa yang saling melemparkan pandangan. Dia tidak tahu apa makna dari pandangan mereka yang tidak berikan kepada Nusa dan Nora. Rasanya seperti ada sesuatu yang tidak Nora ketahui dan itu mengesalkan.

"Aku agak pusing dan mual, Sa."

Pengakuannya malah membuat seluruh orang di meja makan itu terkejut. Mata mereka terbuka lebar dan dalam sekejap, tubuh Nora sudah dibawa menuju mobil dan mereka semua membuat Nora bingung.

"Sa? Kenapa aku dibawa pergi? Sa? Ada apa, sih?"

Nusa tampak memfokuskan diri pada kemudinya. Nora menoleh ke belakang dimana mobil Djati dan Daniyara mengikuti. Ini adalah hal yang aneh. Sangat aneh.

"Sa, aku mau dibawa kemana??! Kasih tahu aku atau aku akan berusaha ganggu kemudi kamu?" ancam Nora.

"Kita harus pastiin kondisi kamu."

"Kondisi aku? Aku memangnya kenapa?"

"Kemungkinan besar kamu sedang hamil. Tapi kalo pun nggak, kita harus pastiin apa efek dari kecelakaan yang udah menimpa kamu."

"Tapi aku cuma ngeluh pusing dan mual, Sa. Kalo aku istirahat aku pasti balik sehat lagi."

"Jangan menyepelekan sekecil apa pun keluhan kamu, oke?? Pokoknya nurut aja. Aku dan keluargaku nggak akan membahayakan kamu."

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang