Voyage ; 7.3

274 32 1
                                        

Daniyara terkejut. Tidak pernah dia menyangka bahwa Nora akan melayangkan pertanyaan yang jauh dari perkiraan.

"Luka di perut?" gumam Daniyara agak linglung.

"Hm, Mama nggak tahu, ya? Lupain aja."

Meski tidak melanjutkan pertanyaannya, Daniyara tahu bahwa ada banyak kejanggalan yang bisa dirasakan oleh Nora di dalam dirinya sendiri meski tidak bisa mengingat dengan baik apa yang sudah terjadi.

"Apa yang membuat kamu resah sampai menanyakan luka di perut kamu, Nora?" tanya Daniyara.

"Eh ... cuma bingung aja, Ma. Luka apa yang bentuknya kayak bekas melahirkan. Padahal aku kecelakaan dan harusnya yang dioperasi bukan disitu. Aku nggak mungkin hamil, jadi besar kemungkinan aku takut adanya mal praktek."

"Hal semacam itu nggak akan terjadi ke kamu, Nora. Nggak ada dokter yang kami pilih sembarangan. Kami pasti akan menuntut kalo ada semacam hal itu."

Kini wajah Nora dilingkupi dengan kebingungan sekaligus rasa terkejut yang tidak bisa ditutupi.

"Maksud, Mama aku memang hamil saat itu?"

Inilah yang tidak ingin Daniyara lakukan dengan menyembunyikan segalanya. Membuat Nora seperti orang yang kehilangan arah dan terkesan bodoh. Padahal, Nora hanya korban yang tidak mengingat apa pun.

"Nusa yang lebih tahu kondisi kamu saat itu. Tapi Mama cuma pesan satu hal, Nora. Jangan terlalu mempercayai siapa pun kecuali diri kamu sendiri. Kalo kamu memang sudah mendapatkan kesempatan untuk bisa bekerja sendiri, maka lakukan dengan baik. Itu bisa menjadi salah satu penyokong kamu jika terjadi sesuatu."

***

Nora pulang dan mendapati mobil suaminya yang sudah terparkir di garasi. Dia tidak diberitahu bahwa Nusa akan pulang lebih awal. Tumben sekali. Tidak pernah Nusa pulang tanpa mengabari lebih dulu.

Memarkirkan motornya, Nora berjalan masuk ke rumah tanpa berpikiran sama sekali bahwa suaminya sudah menahan marah di dalam rumah.

"Sa, tumben kamu pulang nggak kasih tahu aku dulu? Aku kira kamu belum pulang makanya aku santai."

Nora melepaskan sepatunya dan duduk di kursi untuk memijat kakinya yang pegal dengan sepatu hak.

"Kenapa kamu nggak bilang kalo kamu ke rumah Mama?" tanya Nusa.

Tidak mengerti kenapa suaminya mempermasalahkan kedatangannya ke rumah sang mertua, Nora menoleh pada Nusa yang bersedekap dengan wajah kesal.

"Pengen main ke sana sebentar habis cari kerja, Sa. Aku nggak kemana-mana, loh. Cuma ke tempat Mama Daniyara. Itu, kan, bukan tempat orang lain, Sa."

"Tetep aja! Harusnya kamu izin ke aku. Kamu pikir aku nggak cemas sampe rumah dan kamu belum pulang? Aku berusaha menunggu kamu dan nggak menghubungi supaya nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Kamu minta supaya aku nggak mikir terlalu cemas. Ya, aku lakukan. Ternyata kamu malah keluyuran."

Nora mengernyit tidak mengerti kenapa dia dituduh keluyuran. Padahal dia tidak melakukan apa pun selain bertandang ke rumah orangtua Danusa saja.

"Kok, keluyuran? Aku ke rumah mertuaku sendiri. Kenapa malah jadi kemana-mana pembahasan kamu, Sa?"

"Pokoknya aku nggak suka kamu ke rumah Mama tanpa ada aku! Jangan pernah ke sana sendirian lagi!"

Nora menghela napasnya. Dia semakin tidak mengerti dengan sikap suaminya ini.

"Sebenarnya kamu ini kenapa, sih, Sa? Kenapa kamu jadi anti banget kalo aku deket-deket sama keluargamu? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan? Apa yang ada di rumah orangtuamu sampai aku nggak boleh tahu dan sendirian ke sana?"

"Nora, kamu tahu sendiri sikap keluargaku sedingin apa, kan? Yang selalu ngomong sama kamu itu Mama, nggak dengan anggota keluarga yang lain. Aku nggak mau kamu sakit hati kalo ada omongan mereka yang nantinya nggak dikontrol. Apalagi disaat aku nggak ada. Aku nggak bisa membela kamu kalo kamu sendirian."

"Sa, keluarga kamu nggak seburuk yang kamu katakan. Mama kamu memang satu-satunya anggota keluarga yang selalu ada di rumah. Kamu nggak perlu secemas itu. Saudara kamu nggak tinggal disitu, Papa kamu pun jarang di rumah. Kalo pun ada, Papa kamu nggak pernah banyak omong. Beliau tipikal yang lebih suka diam. Mama kamu memperlakukan aku dengan sangat baik, Sa. Bahkan aku nggak tega lihat Mama Daniyara selalu sendirian di rumah tanpa ada teman ngobrol."

"Tanpa kamu Mama punya genk sendiri. Kamu nggak perlu mencemaskannya. Mama akan membuat acara ketemuan dengan teman-teman sosialitanya kalo kamu nggak datang hari ini! Berapa kali aku harus kasih tahu kamu, apa pun itu, lebih baik kita menjalani pernikahan kita sendiri tanpa harus tinggal atau terlalu banyak melibatkan diri dengan keluargaku."

Nora berniat untuk membalas ucapan Nusa, tapi dia mengingat bahwa tidak akan ada yang mengalah jika diteruskan. Nusa akan selamanya merasa bahwa apa yang dia katakan adalah benar.

"Ya, udah. Lagi pula begitu aku mendapatkan panggilan kerja, aku nggak akan sering-sering ke rumah orangtua kamu. Semakin kita bahas, semakin nggak selesai-selesai. Aku mau mandi, terserah kamu mau pesan makanan atau nunggu aku masak sesuai suasana hatiku aja."

Lalu, Nora beringsut pergi ke kamar tanpa mempedulikan Nusa yang sudah begitu keras kepala membahas larangannya pada Nora agar tidak pergi ke rumah orangtua pria itu. Meski terkesan aneh dan ada banyak yang ditutupi, Nora akan menyimpan jawaban bahwa pria itu tidak ingin ada anggota keluarganya yang menyakiti Nora, itu saja. Jika ada rahasia lain ... Nora tidak tahu harus melakukan apa.

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang