Nora tidak bodoh untuk bisa mencerna bahwa ada sesuatu yang tidak akan dirinya dapatkan dengan mudah jika bukan karena kontribusi Nusa. Seluruh tubuhnya bisa merasakan keanehan itu meski otaknya tidak mengenali sama sekali nama perusahaan tersebut. Yang bisa Nora bisa pastikan adalah persyaratan yang jauh dari kata normal. Ya, diluar semua persyaratan lowongan kerja di Indonesia yang memang tidak masuk akal, tapi yang Nusa sodorkan jelas lebih tidak masuk akal. Melihat reaksi Nusa yang tidak menganggap seluruh persyaratan itu aneh dan terlalu mendetail pada Nora, melihat betapa santainya pria itu, sudah jelas bahwa memang Nusa adalah orang dibalik semua itu.
Tentu saja Nora tidak ingin membuat hal semacam ini menjadi kebiasaan. Nusa yang mengendalikan segalanya terasa begitu aneh dan tidak nyaman untuk Nora rasakan. Pria itu memang suaminya, tapi bukan berarti bisa mengendalikan dimana dan bagian apa Nora harus bekerja. Kesannya malah Nusa semakin menunjukkan diri sebagai pria yang obsesif dan ingin mengendalikan pergerakan Nora. Padahal kenapa pria itu harus melakukannya? Nora tidak tertarik untuk main serong, dia hanya ingin memiliki kegiatan, yaitu bekerja.
"Kamu mau ke mana, Nora?" tanya Nusa yang melihat istrinya sudah rapi menggunakan kemeja dan rok span.
"Cari kerja."
Nora bisa melihat raut tidak suka dari suaminya. Namun, pria itu tidak melanjutkan ucapan apa pun. Nusa menahan diri.
Untuk meredam kemarahan pria itu, Nora mendekati Nusa dan membujuk dengan pelukan.
"Aku nggak kemana-mana. Aku cuma cari kerja, Sa. Aku nggak berniat melakukan hal yang aneh-aneh. Jangan berpikir yang macem-macem gitu, dong."
Nusa membalas pelukan itu dan berkata, "Emangnya kamu tahu apa yang aku pikirin? Aku mikirin macem-macem apa?"
"Kelihatan dari ekspresi kamu yang keberatan. Aku ngerasanya kamu takut kalo aku kabur sama rekan kerjaku nantinya. Padahal, aku cintanya sama kamu, loh. Aku nikahnya sama kamu. Aku milik kamu. Apa yang kamu cemaskan, hm?"
Nusa tidak memberikan jawaban apa pun. Tampak tidak memiliki jawaban yang mau untuk dibagi pada Nora.
"Memang hanya ketakutanku yang terlalu berlebihan. Aku nggak mau bikin kamu makin kepikiran. Aku harusnya mendukung kamu untuk lebih senang menjalani hidup ini."
Meski tidak memiliki jawaban yang memuaskan, Nora tidak berusaha menekan suaminya untuk memberikan jawaban lainnya. Yang terpenting Nusa tidak mempermasalahkan lagi apa yang ingin Nora capai.
"Yaudah, kita sarapan dulu bareng. Nanti kamu bisa bawa mobil untuk muter-muter."
"Eh, kalo aku minta dibeliin motor aja boleh?"
"Motor? Nggak aman buat kamu. Mobil aja."
"Mobil justru bikin aku nggak aman dari bully an nantinya. Masa iya cari kerja tapi pakenya mobil? Lagian aku kaku banget kalo pake mobil, aku lebih seneng pake motor. Kamu sendiri inget, kan, dulu aku kemana-mana pasti naik motor. Naik mobil kalo jemput kamu pas lagi nggak bawa mobil."
Nusa menghela napasnya dengan berat, tapi pria itu tidak bisa menolak lagi permintaan Nora.
"Oke. Aku beliin motor nanti. Untuk hari ini kamu pakai kendaraan online aja. Lebih aman."
"Oke. Makasih, ya, suamiku!" Nora mengecup pipi Nusa.
"Yang sini nggak dapet ucapan terima kasih?" ucap Nusa sembari menunjuk bibirnya.
"Nggak pagi ini. Nanti malem baru boleh."
"Awas kalo PHP, ya."
"Nggaaaakkk."
***
Nora tidak sepenuhnya berbohong untuk mencari lowongan kerja pada Nusa. Namun, dia tidak sepenuhnya jujur, bahwa selain mencari kerja dia juga mengunjungi rumah mertuanya—orangtua Nusa.
"Astaga! Kenapa kamu sendirian naik motor? Ada apa? Nusa ngapain kamu? Kalo dia memperlakukan kamu semena-mena, tinggal aja disini seperti dulu. Nggak perlu tinggal sama Nusa yang nggak akan peduli perasaan kamu—"
"Ma, aku nggak diapa-apain sama Nusa. Aku kesini karena keinginanku sendiri. Aku naik motor karena habis cari lowongan kerja. Karena masih siang, aku memutuskan mampir kesini. Nusa sama sekali nggak bersikap buruk, Ma."
Nora yakin betul kalimat cepat yang sarat dengan kecemasan dari wajah Daniyara memang benar-benar tulus. Wanita itu tidak sedang mempermainkan Nora dengan berperan sebagai ibu mertua yang baik. Justru Daniyara memang tampaknya berusaha melindungi Nora dengan sangat baik.
"Oh ... Mama pikir ... kalian bertengkar."
Nora tersenyum dengan manis dan menggeleng. "Sama sekali nggak, Ma. Justru aku merasa sangat dijaga sama Nusa."
Daniyara tersenyum kecil tidak begitu terkesan dengan kalimat itu. Justru wanita itu langsung mengajak Nora untuk ke taman belakang dimana meja makan outdoor tersedia dan sudah ada berbagai macam hidangan yang ditutupi tudung saji kaca yang memperlihatkan segala jenis menu. Dalam sekejap saja nafsu makan Nora menjadi naik.
"Ayo, makan! Kebetulan Mama nggak ada yang nemenin makan. Mama tadi memang mikirin kamu, eh, kamu dateng beneran. Kita makan berdua."
Nora senang sekali karena dia bisa menjadi bagian dari hidup Daniyara. Setidaknya dia bisa mengisi kesepian yang Daniyara rasakan.
"Kalo Mama kesepian, Mama bisa telepon aku untuk datang."
"Ya, kalo kamu belum dapet kerja nanti Mama suruh sopir jemput kamu."
Mereka duduk saling berhadapan, menyisakan kursi di ujung sebagai satu-satunya milik kepala keluarga.
Daniyara senang sekali dan senyumannya terpampang jelas. Namun, senyuman itu tidak lagi bertahan ketika Nora tiba-tiba bertanya.
"Ma, aku mau tanya soal luka di perutku. Apa Mama tahu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
