"Nora, mau ikut Mama?"
Nora yang baru saja memberikan sebotol ASI kepada Nusa pun menoleh pada ajakan Daniyara itu.
"Mama ajak Nora kemana?" balas Nusa dengan tatapan menyipit.
Bagaimana tidak menyipit, Daniyara tampil all out dengan pakaiannya yang begitu muda. Insting Nusa yang pencemburu jelas langsung mengambil alih.
"Ke butik."
"Ke butik kenapa ajakin Nora, Ma?" balas Nusa lagi.
Daniyara berdecak dan melirik putranya itu dengan kesal. "Kamu nyusuin Dambha aja! Kenapa, sih, dari tadi kamu motong pembicaraan Mama sama Nora terus? Kamu apanya? Bodyguard? Protektif sekali, padahal udah nggak punya hak atur-atur Nora yang udah menjanda."
Nora tidak bisa melerai perdebatan anak dan mama itu. Apa yang dikatakan Daniyara tidaklah salah. Namun, kalimat itu jelas memukul ego Nusa yang sudah ditata beberapa waktu belakangan ini dengan menyibukkan diri dalam pekerjaan. Sekarang, Nora kesulitan untuk melerai adu mulut keduanya.
"Itu nggak membuat Mama punya hak untuk ajak Nora untuk seperti perempuan lajang!"
"Kenyataannya memang Nora melajang. Kenapa, sih, kamu Danusa? Kebakaran jenggot? Lagian Mama cuma ajak Nora ke butik, bukan nongkrong di pub atau semacamnya."
"Nora udah jadi ibu. Mama jangan macem-macem, deh. Meskipun Mama cuma ajak ke butik, tapi aku nggak yakin Mama nggak akan mempengaruhi Nora untuk cari pria lain--"
"Oke, stop!" Nora menghentikan ucapan Nusa yang mulai mengacau karena bayangan cemburu yang bahkan belum ada sosok yang harus dicemburui. "Aku mau ikut Mama, karena udah cukup lama aku nggak keluar rumah sama sekali. Dan untuk membuat kamu berhenti untuk cemas kamu bisa ikut juga, Nusa."
Daniyara tidak menolak ide dari Nora itu. Yang bermasalah tetap Nusa karena tidak rela jika Nora menunjukkan diri ke khalayak umum. Sekalipun khalayak umum juga tidak akan peduli dengan keberadaan Nora. Memang dasarnya saja Nusa yang pikirannya terlalu berpusat pada rasa cemburunya.
"Mama nggak masalah kalo dia ikut, asal dia nggak ganggu waktu khusus kita sebagai perempuan aja, Nora."
"Waktu khusus perempuan? Apa lagi, sih, Ma? Jangan bikin aku makin kesel--"
"Udah, Nusa! Jangan diterusin. Kamu fokus sama Dambha dulu, aku mau ganti baju."
***
Daniyara adalah seorang pemilik butik yang dulunya adalah seorang desainer terkenal pada masanya. Sebelum adanya media sosial seperti sekarang, Daniyara sudah memiliki namanya sendiri dan bahkan sempat melalang buana di Eropa. Foto-foto muda Daniyara di masa kejayaannya sebagai desainer terpampang di ruangan kerja wanita itu. Nora bisa melihat betapa bebas, lepas, dan lebarnya senyuman Daniyara.
Melihat semua bukti kesuksesan Daniyara, Nora jadi mempertanyakan kenapa wanita itu bisa menikah dengan Roedjati jika mampu hidup sendiri.
"Mama terlihat sangat cantik dengan senyuman yang lepas seperti di semua foto ini." Nora berkata.
"I do. Perempuan mana yang nggak bahagia, di usia dua puluhannya sudah sukses dan dikenal di kancah Eropa? Semua foto itu, Mama lagi bebas-bebasnya."
"Bebas-bebasnya, dengan kata lain lagi tergila-gila sama bule Itali yang fotonya sampe dibanting Papa, gitu maksudnya?" ucap Nusa.
Nora menatap Daniyara yang tidak menanggapi ucapan putranya itu. Sepertinya Nusa menjadi saksi dari banyaknya kejadian dalam kisah orangtuanya.
"Lebih ganteng dari Papa Roedjati?" bisik Nora pada Daniyara.
Kedua alis Daniyara naik dengan senyuman yang mengartikan bahwa memang bule Italia yang dimaksud lebih tampan dari Roedjati. Namun, Daniyara berbisik lebih kecil lagi agar Nusa tidak menangkapnya.
"He is gay. Tapi Roedjati berhasil marah karena Mama simpan foto kami berdua. Jangan bilang-bilang bagian ini ke siapa pun, Nora."
Nora membuka mulutnya tanpa berkata apa pun. Dia tidak mengira bahwa Daniyara menggunakan hal itu untuk mengetes perasaan suaminya sendiri.
"Mama, Nora ... Jangan membicarakan hal diam-diam. Aku akan kasih tahu Papa bahwa Mama masih inget sama bule Itali itu." Nusa memprotes.
"Kamu bilang ke Papamu, dia juga nggak akan peduli. Fotonya udah nggak ada juga, jadi Papamu nggak akan marah-marah atau merusak barang kenangan itu lagi.
"Papa lebih seram ketika cemburu, Ma. Jadi Mama harusnya nggak memancing kecemburuannya."
"Itu bukan kecemburuan, Danusa. Saat itu dia marah karena egonya tersentil. Dia nggak mau istri yang dia beli mahal dari orangtua si perempuan malah menyimpan apa pun dari masa lalunya. Papamu hanya memenuhi egonya agar Mama nggak macam-macam."
Nora semakin kebingungan dengan cerita yang mengalir dari mulut Daniyara.
"Mama dibeli mahal?" gumam Nora.
Nusa menghela napas. "Mama salah paham. Papa mencintai Mama dan mau Mama berhenti menjadi tulang punggung orangtua Mama yang terlilit hutang, makanya Papa menikahi Mama. Mama nggak dibeli, Papa memang menginginkan Mama."
Daniyara mendengkus tidak percaya. "Itu yang dikatakan Papamu kepada kalian. Kalian nggak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi. Tapi nggak masalah, itu bagian dari masa lalu. Nggak perlu diungkit lagi. Karena masa lalu nggak pernah nyaman untuk kembali diingat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomansaThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
