Elnora dibuat begitu berdebar gugup. Tidak disangka bahwa kesulitannya malah membawa kegugupan untuk ... entah harus bersikap bagaimana. Danusa dia minta untuk menutup mata, tapi rasanya akan tetap sama, percuma! Bagaimana mungkin Nusa menutup matanya untuk menggendong tubuh Nora yang bobotnya lebih besar dari anak-anak? Tidak heran jika Danusa pada akhirnya memprotes dan mengajukan cara lain dengan memilih menatap ke depan, tidak menatap kepada Nora, lebih tepatnya tubuh Nora. Tapi sama aja masih bikin malu!
"Tangan kamu pegangan aku."
"Hah??" sahut Nora dengan terkejut. "Pegangan apa?"
"Pegangan leher aku. Kalo pegangan yang lain nanti kamu malah mikir macem-macem."
Nora memukul dada pria itu karena berani menggodanya. "Jangan bercanda, Sa!"
"Siapa yang bercanda? Udah, cepetan kalungin tangan kamu di leher aku biar nggak jatuh."
Nora tidak siap menurutinya, tapi mereka akan kesulitan juga untuk mengangkat tubuh Nora keluar dari air jika terus melakukan hal ini.
"Oke, oke!"
Danusa menunggu dan bersiap hanya menatap ke depan. Tangannya yang terselip diantara kaki dan punggung Nora perlahan mulai mengencang kuat. Hal itu membuat Nora memekik tertahan karena sesuatu yang aneh menjalar di tubuh perempuan itu dengan sangat kuat. Kenapa aneh? Nora merasa terkejut, tapi seakan sadar dengan sentuhan tangan Danusa.
Ketika pria itu sibuk untuk mengatur konsentrasinya menggendong Nora dan berusaha tetap mengarahkan tatapannya ke depan, Nora malah sibuk menatap gurat wajah Nusa dari jarak yang sangat dekat. Kekaguman merambat di kepala Nora mengenai figur seorang Danusa Roedjati. Pria ini tampaknya tidak termakan usia karena penampilannya yang masih cocok dikategorikan sebagai remaja putra jika saja dia memerankan tokoh anak SMA di produksi filmnya sendiri. Sayang, Danusa tidak berniat masuk ke dalam film produksinya sendiri.
"Don't look at me like that."
Nora berdehem menetralkan salah tingkahnya yang tidak bisa ditata dengan baik saat ini. Dia ketahuan mengagumi sahabatnya sendiri dengan serius. Nora bisa saja membuat Nusa tak nyaman dan berhenti mengurusnya jika terus melakukan hal semacam ini.
"Maaf."
Danusa tak suka permintaan maaf dari perempuan itu.
"Kenapa minta maaf?" balas Nusa menuntut jawaban.
Elnora membuka mulut untuk menjawab, tapi kembali terdiam karena malu menjelaskan bahwa Nora suka mengamati ketampanan sahabatnya sendiri. Memilih untuk tidak menjawab apa pun, Nora menunggu dirinya di dudukkan di ranjang dengan handuk yang kini melingkupi tubuhnya.
"Makasih ..."
"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Kenapa kamu minta maaf?" Danusa menghentikan tindakan Nora yang berniat untuk mengalihkan pembicaraan.
Dengan gugup Nora mengalihkan tatapan dari Danusa yang menatapnya intens dan begitu dekat. Namun, sikap Nora tidak akan berpengaruh bagi Danusa yang menghentikan gerakan leher perempuan itu dan kini mereka saling bertubruk akan tatapan.
"Kamu minta maaf karena aku menegur kamu yang melihat wajahku?" tanya Danusa lagi.
"Aku malu, Sa. Aku nggak sengaja lihat figur wajah kamu dan aku nggak ada niatan untuk merusak persahabatan kita dengan sikap aku yang menyebalkan atau membuat kamu nggak nyaman. Maafin aku."
Danusa semakin memangkas jarak diantara wajah mereka. Nora yang terkejut berniat untuk mundur, tapi pria itu menahan kepala Nora dengan sengaja.
"Siapa bilang kamu menyebalkan dan bikin nggak nyaman?"
Kali ini Nora tidak bisa berkutik sama sekali. "Aku membuat kesimpulan sendiri."
"Kesimpulan kamu itu salah, Nora. Aku suka kamu perhatikan, tapi situasi tadi memang nggak nyaman buatku. Aku nggak bisa lihat kamu dengan tubuh telanjang kamu."
Jantung Nora berdegup kencang. Dia bukan perempuan bodoh untuk menangkap maksud dari ucapan Danusa yang terdengar memiliki arti lain. "Maksudnya kamu nggak nyaman karena nggak bisa lihat aku tanpa pakaian? Kamu mau lihat aku tanpa pakaian?"
Nora tidak bisa menghentikan ucapan dari mulutnya yang terlalu frontal. Di hadapan Danusa, dia memang selalu bisa mengeluarkan ucapan yang seharusnya tidak dibeberkan dari kepalanya.
Mata Danusa melebar dengan tuduhan yang benar adanya. Ketertarikan seksual diantara mereka memang ada sejak lama hingga membuahkan hasil yang harus gugur beberapa bulan lalu. Bukan gugur, bayi itu terpaksa diambil dan dikuburkan karena tidak menunjukkan sinyal kehidupan di dalam perut Nora. Namun, Danusa tidak bisa mengatakan hal itu pada Nora.
"Bu ... bukan gitu, Ra. Maaf. Aku nggak bermaksud membuat kamu berpikir aku menilai kamu murahan. Aku ... aku."
"Oke, lupain pertanyaan aku, Nusa."
Danusa tidak menyerah, dia tetap di posisi yang sama dan mengatakan kembali membujuk Nora. "Aku udah bilang, Ra. Kita hampir pernah punya hubungan yang lebih dari sahabat sebelum kamu kecelakaan. Aku benar-benar mau memulainya dengan kamu."
"Aku juga udah bilang kalo aku butuh waktu, kan? Aku butuh belajar dari awal untuk menggunakan fisikku dengan baik lagi. Aku nggak mau merusak apa yang kita punya sekarang, Sa."
Danusa tak bisa menunjukkan senyuman sama sekali. "Oke."
Jika dulu Nora begitu santai untuk mengiyakan adanya friend with benefit diantara mereka, sekarang tidak lagi. Danusa cemas jika memori terakhir Nora mendorong perasaannya menolak kehadiran Danusa yang membuat perempuan itu kecewa dan kehilangan. Tapi gue nggak bisa mundur! Nusa akan terus berusaha untuk bisa mengambil hati Nora dan menjadikan perempuan di hadapannya ini pasangannya, teman hidupnya. Agar Nusa tidak merasa berhutang terlalu jauh. Nusa akan membayar hutangnya dengan membahagiakan Nora.
{Aloha! Maaf membuat kalian menunggu lama. Aku udah upload chapter 3 full di Karyakarsa, ya. Semoga kalian suka, terima kasih.}
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
