Voyage : 14.1

196 26 1
                                        

Pagi-pagi sekali kamar Daniyara sudah diketuk untuk mengambil bayi yang memang tenang tidur di dekapan kakeknya itu. Dengan helaan napas yang sudah bisa menebak siapa pelaku yang tidak sabaran mengetuk pintu.

"Ma, aku mau ketemu anakku."

Ya, Nusa memang ayah baru yang masih sangat antusias untuk memiliki waktu bersama dengan Dambha.

"Kamu ini baru pulang langsung ke kamar Mama? Mandi dulu, Danusa."

"Ma, aku udah mandi. Kenapa disuruh mandi lagi? Makanya Mama melek dulu. Lagian, aku heran kenapa Dambha jadi kebiasaan tidur di sini. Mulai nanti malam kasih Dambha ke Nora, dia mamanya."

Daniyara menggeplak kepala putra keduanya itu. Dia kesal sekaligus memberikan peringatan pada ketidakpekaan Nusa.

"Dambha tidur di sini cuma malam hari aja sampai pagi. Nora udah capek ngurusin bayi dari pagi sampai mau jam tidur Dambha. Kamu pikir Nora nggak butuh waktu istirahatnya? Dia cuma punya waktu untuk ngurus diri sendiri di malam hari, itu pun Mama yakin dia cuma pakai untuk tidur. Seenggaknya, Nora harus dapat waktu tidur yang berkualitas. Mikir nggak, sih, kamu? Jadi ibu itu capek!"

Nusa hanya bisa menunduk karena dia sudah salah bicara. Bukan salah bicara lagi sebenarnya, tapi memang tidak tahu apa-apa mengenai Nora. Untungnya memang ada mamanya yang bisa mengerti semua kebutuhan Nora. Ternyata memang semua ini ada hikmahnya.

"Yaudah, yaudah. Aku emang salah, tapi aku kangen sama anakku, Ma."

Daniyara melebarkan pintu kamarnya dan menunjukkan betapa tenangnya Dambha dalam dekapan kakeknya. "Kamu yakin tega bangunin Dambha yang pulas gitu?"

"Kalo ditanya tega atau nggak, aku bisa jawab tega. Karena aku sekangen itu sama anakku. Tapi aku nggak mau malah bikin Dambha uring-uringan karena belum waktunya bangun malah aku ganggu. Daripada nanti aku nambah kerjaan untuk Nora. Mendingan aku tunggu sampai Dambha bangun, deh."

Daniyara mengangguk dan mendorong punggung Nusa untuk keluar. Sebab wanita itu masih mengantuk, dan rencananya hari ini dia akan mulai aktif lagi mengurus butik setelah berbulan-bulan hanya terfokus pada masalah Nusa dan Nora.

***

Udara masih begitu dingin pagi ini, dan Nusa tidak bisa terlelap meski dia sudah berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dia sudah seperti orang gila yang hampir tidak pernah pulang ke rumah dan selalu ikut ke lokasi syuting, padahal tidak ada yang mengharapkannya untuk berada di lokasi. Itu semua dia lakukan karena putusan sidang cerainya dan Nora sudah berhasil ketuk palu. Pokoknya, semenjak resmi menjadi mantan suami istri, Nusa menjadi mengambil banyak pekerjaan yang tidak perlu untuk dilakukannya.

"Kamu olahraga atau jalan santai pagi-pagi begini, Sa?"

Nusa membalikkan badan dan melihat Nora yang menggunakan pakaian olahraga lengkap dan tampak berkeringat.

"Oh, hai, Nora! Aku ... nungguin Dambha bangun. Kamu sendiri? Habis dari mana keringetan begitu?"

Nusa berusaha untuk tidak salah tingkah sendiri untuk melihat figur Nora yang lebih berisi. Meski sudah melahirkan, tapi untuk bagian-bagian tertentu masih berisi, terutama pada bagian buah dada Nora yang tercetak jelas meski perempuan itu menggunakan warna gelap.

"Aku habis dari ruang olahraga yang Mama sediakan. Aku cuma punya waktu sedikit buat olahraga. Makanya buru-buru, takut Dambha bangun dan aku belum mandi. Aku nggak tahu kamu pulang hari ini, makanya aku pikir nggak ada yang gantiin aku kalo aku nggak cepet-cepet olahraga. Ternyata kamu di rumah. Aku bisa titip Dambha dulu kalo nanti di kebangun, ya?"

Titip Dambha? Nusa adalah ayah kandung anak itu. Kenapa harus ada kata titip?

"Aku ini ayahnya Dambha. Apa arti dari ucapan titip itu, Ra?"

Segala hal menjadi sangat sensitif bagi Nusa belakangan ini. Bukan Nora yang mudah marah, justru malah Nusa yang melakukan bagian itu. Pada dasarnya, Nusa memang memiliki kepribadian yang cenderung sumbu pendek, dan karena mengerti hal tersebut, makanya Nora hanya tersenyum dan meminta maaf.

"Iya, maaf, ya. Aku nggak bermaksud untuk menyinggung posisi kamu sebagai ayah Dambha. Aku cuma nggak mau ganggu waktu kamu aja. Soalnya belakangan ini aku perhatiin kamu sibuk banget sama banyak projek. Makanya aku pastikan dulu, kamu bisa punya waktu atau nggak buat Dambha."

Nah, kalimat itu terdengar salah lagi bagi Nusa. Menurutnya, Nora sedang menyindir seringnya pria itu absen dari dunia Dambha.

"Sa, aku serius aku nggak menyinggung kamu."

"Aku nggak ngomong apa-apa."

"Tapi ekspresi kamu nunjukkin segalanya."

Nusa hampir mengumpat karena Nora yang ingat masa lalu mereka sama dengan Nora yang memahami segala gelagat Nusa. Tidak aneh jika Nora bisa membaca setiap gestur dan ekspresi pria itu.

"Hm, yaudahlah. Aku nggak mau kita berantem. Aku mau tenang, dan kapan-kapan mari kita bicarakan mengenai jam bersama Dambha."

Nora mengangguk. "Iya. Aku mandi dulu, ya."

Nusa berdehem dan mengangguk sebagai balasan. Meski sebenarnya ada kalimat tertahan di mulutnya yang jika diucapkan akan berbunyi, "Mau aku mandiin atau kita bisa mandi berdua supaya nggak terlalu dingin?" Sayangnya, Nusa hanya bisa menelan kalimat itu lagi karena dia ingat, status mereka sudah bukan lagi suami istri.

Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang