Ada yang aneh. Nora merasa aneh. Sudah dia katakan bahwa belakangan sedikit demi sedikit kilasan dari memorinya yang tertutup memang muncul. Bahkan menghantuinya sampai ke mimpi. Memang Nora berusaha untuk tidak kabur dengan realita yang dijalaninya kini, tapi semakin hari segalanya semakin jelas. Sama seperti malam ini, Nora merasa bahwa dia bermimpi. Mimpi yang sangat menyakiti hatinya. Mimpi yang memperlihatkan dengan jelas bahwa dirinya sedang mengandung, seperti yang dirinya alami sekarang.
Dalam mimpi itu Nora memegangi perutnya dengan perasaan yang sangat terluka. Dia mendengar semua perkataan tajam dan begitu tega Nusa bahwa pria itu tidak menginginkan anak yang Nora kandung. Nusa berseteru dengan Daniyara untuk tidak menikahi Nora dan memberikan anak yang dilahirkannya kepada Djati yang belum memiliki keturunan.
Nora menangis, airmatanya jatuh begitu saja dan dia mendapati dirinya berlari dengan kandungan yang besar. Berlari tanpa melihat keadaan sekitar di jalanan hingga tubuhnya terpental dan pandangannya ke langit yang mendung saat itu membangunkan Nora dengan napas tersengal dan airmata yang sudah membuatnya harus mengusapnya berulang kali.
Nora melihat ke arah dimana Nusa tertidur di sampingnya. Pria itu yang kini menemani dan membersamai Nora. Pria itu ... memalsukan segalanya. Nusa ... dialah pria yang mengacaukan hidup Nora. Pria yang membuatnya menjadi wanita gila yang melakukan segala cara agar bisa mempertahankannya.
Nora ingat bagaimana dia mengambil satu-satunya kesempatan yang ada untuk bisa bersama Danusa Roedjati. Meski harus menghadapi risiko menjadi pihak yang Nusa tak inginkan sebagai pasangan dalam hidup pria itu, karena Nora hanya bisa mengambil satu kali kesempatan tidak untuk kedua kalinya atau kesempatan lainnya untuk menjadi milik Nusa.
"Kalau ada sahabat yang aku benci... itu kamu, Ra."
Nora mengingatnya. Mimpi yang berulang kali nyata menghampirinya, membuat jantungnya berdentum keras dan merasa bahaya akan datang lebih cepat dalam diri Nora.
"Mimpi lagi?"
Nusa terbangun dan hendak mengusap kening istrinya, tapi Nora menepis tangan pria itu dengan cepat.
Sempat tertegun dan merasa bingung, Nusa mendekat hendak memeluk perempuan itu untuk menenangkan, tapi lagi-lagi Nora memberi jarak dengan sentakan kasar.
"Sayang?" panggil Nusa semakin merasa bingung.
Nora segera turun dari ranjang tidur mereka, menyalakan lampu dan mengambil kopernya di samping lemari besar milik mereka.
"Nora?" Nusa bergerak panik menyusul istrinya turun. Dia banting koper yang Nora isi sebagiannya dengan baju perempuan itu. Napasnya mendadak menggebu karena Nora sama sekali tidak bicara, justru mengambil tindakan yang membuat Nusa ketakutan. "Apa yang kamu lakuin?!"
Nora menatap tajam pada Nusa, perempuan itu mengingat semuanya.
"Aku ngelakuin hal yang benar," balas Nora tajam.
Nusa menggeleng, dia tak percaya dengan apa yang istrinya katakan. "Kamu... kamu ingat?"
Nora memilih mengabaikan pertanyaan Nusa dengan kembali menarik koper besarnya, dia buru-buru mengisinya dengan segala baju yang ia miliki. Apa pun yang memang miliknya bukan dari pembelian Nusa beberapa bulan belakangan.
"Sayang... kalau kamu memang ingat semuanya aku minta maaf."
Nusa mengikuti kemanapun istrinya bergerak. Dia takut jika harus ditinggalkan Nora. Cukup dengan Nora yang koma sudah bisa menjungkirbalikkan hidupnya, apalagi jika ditinggalkan dan tak diinginkan lagi.
"Nora... Sayang, aku nggak mau kamu pergi." Nusa berusaha menahan lengan perempuan itu.
Tanpa pertanda apa pun Nora melayangkan telapak tangannya pada pipi Nusa.
"Brengsek," lirih Nora.
"Kamu penyebabnya!" Nusa mengernyit tak paham. "Kamu penyebabnya..."
Lalu Nusa buru-buru menangkap tubuh istrinya, Nora pingsan. Perempuan itu pasti kelelahan, tak heran, karena mengingat masa lalu mereka hanya menyisakan luka... luka yang melelahkan.
***
Nusa kebingungan untuk meraba apa saja ingatan yang hadir di kepala istrinya. Beberapa waktu belakangan memang Nora selalu mengeluh ingatan yang sangat sedikit muncul, tapi perempuan itu tidak pernah mengeluh mengenai hal tersebut. Sampai akhirnya malam ini, sesuatu yang tidak Nusa harapkan akhirnya datang.
"Bu Daniyara? Apa ada yang bernama Ibu Daniyara?"
Sontak saja Nusa dan mamanya berdiri. "Saya, Suster."
Nusa menghela napasnya karena tatapan sang mama. Dia tidak memikirkan hal lain selain menghubungi Daniyara karena kondisinya yang sedang kalut. Siapa lagi yang bisa mengerti keadaan Nora selain Daniyara? Sebab wanita itu sudah mengurus Nora sejak awal semua kejadian kacau ini terjadi.
"Ma—"
"Tunggu disini, Danusa. Kamu hanya akan membuat kondisi Nora makin buruk kalo memaksa masuk."
Nusa hanya bisa mengangguk dan menyerahkan semuanya pada Daniyara. Tidak ada yang bisa dilakukannya jika ingin kondisi Nora tidak makin bermasalah.
Dalam waktu beberapa menit Djati sudah datang membawa paper bag dengan wajah tenangnya.
"Mama di dalam?" tanya Djati.
"Hm."
Djati tidak mengambil pusing dengan respon Nusa dan bersiap membuka pintu, tapi ditahan adiknya itu.
"Kenapa?"
"Jangan ganggu dulu. Nora dalam kondisi yang nggak pas untuk dikunjungi—"
Djati menunjukkan layar ponselnya. Membuat Nusa tidak bisa berkata-kata. Disana, Daniyara menyuruh Djati masuk meski Djati mengatakan tak mau mengganggu Nora. Namun, jelas-jelas Daniyara menuliskan bahwa hanya Nusa yang tidak diizinkan Nora untuk masuk ke ruangan perempuan itu.
"Sial."
Djati menaikkan sebelah alisnya dan menepuk bahu adiknya itu sebelum masuk ke dalam ruang perawatan Nora.
"Berdoa aja supaya Nora nggak berniat memberikan anak kalian untuk jadi anakku nantinya."
Nusa hampir memukul kakaknya jika saja tidak mengingat bahwa dia sedang belajar mengendalikan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
