Tangisan Dambha menggema ke seluruh ruangan membuat semua orang kompak mencari tahu apa yang terjadi pada bayi itu. Nora berusaha menenangkan bayinya dengan membawanya keluar dari kamar karena di dalam kamar Dambha tidak kunjung berhenti menangis.
"Nora? Kenapa kamu sendirian? Rida mana?"
Rida adalah pengasuh yang memang dibayar Daniyara untuk membantu Nora mengurus bayi, agar Nora memilki waktu istirahat yang cukup.
"Rida nggak bisa nenangin Dambha, Ma. Makanya aku gendong. Terus aku suruh istirahat dulu, karena Rida nggak berhenti dari tadi."
Daniyara menyentuh kening cucunya, tidak menemukan tanda demam. "Nggak demam. Apa mungkin karena ditinggal Nusa di luar kota?"
Celetukan itu memang terdengar tidak masuk akal. Tapi jika Nora mengingat, Dambha memang menjadi rewel sekali empat hari belakangan, dimana selama empat hari itu pula Nusa tidak menemani karena harus ke luar kota.
"Aku mau menyangkal, Ma, tapi kayaknya memang iya. Selama empat hari ini memang Dambha rewel sekali."
"Sini, Mama bantu gendong."
"Jangan, Ma. Ini udah malam. Mama harus istirahat."
Daniyara mengabaikan hal itu. Dia menggendong Dambha tapi membawa langkah menuju kamar wanita itu.
"Mama? Mau dibawa ke mana?"
"Sudah, kamu liat dulu. Kalo cara ini berhasil, berarti kita bisa istirahat malam ini."
Cara apa? Nora tidak mengerti dengan yang Daniyara maksud sampai dia melihat sendiri bagaimana wanita itu membangunkan Roedjati.
"Eja. Eja, bangun! Cucu kamu nggak berhenti nangis."
Pria itu terbangun setelah mengusap telinganya yang pasti pengar karena suara tangisan Dambha yang nyaring.
"Kenapa dia nangis sekeras ini, D?"
"Gendong dia." Daniyara membalas dengan titah.
"Hm?"
"Gendong cucu kamu."
Roedjati yang masih setengah mengantuk hanya menuruti tanpa tahu maksud dari perintah Daniyara itu. Tadinya Nora sudah bersiap untuk maju dan mengambil Dambha, tapi ketika secara perlahan tangisan bayi itu reda, Nora tidak bisa tidak menganga melihatnya.
"Lihat? Cara Mama berhasil." Daniyara memuji dirinya sendiri.
"Tapi, Ma—"
"Nggak usah nggak enak gitu. Papa biasa dekap anak-anaknya waktu masih bayi dan susah tidur. Dengan ngerasain hembusan napas Papanya, ketiga anak Mama selalu berhasil tidur di malam hari. Sudah tugasnya sebagai ayah dari dulu. Dia udah biasa. Tidur tanpa ubah posisi."
Daniyara yang menjelaskan semua itu membuat Nora takjub. Hubungan orangtua Nusa itu memang unik. Entah bagian mananya yang membuat Daniyara ingin bercerai dari Roedjati jika katanya menikah di zaman sekarang. Padahal dari panggilan masing-masing saja sudah khusus. Minus yang Nora lihat juga hanya sebatas sikap kaku dan cuek Roedjati. Ah, bagian gila kerjanya mungkin yang membuat Daniyara makan hati.
"Udah, kamu balik ke kamar. Tidur dulu, isi tenaga buat besok. Dambha nggak akan rewel, Mama jamin."
"Tapi nanti jatah menyusunya gimana, Ma?"
"Mama akan bangunkan Rida untuk istirahat di sofa itu." Daniyara menunjuk sofa di pojok ruangan kamar tersebut. "Dia nanti yang akan siapin ASI di botol Dambha. Kamu istirahat, besok kamu butuh tenaga lagi, Nora."
Meski tidak enak hati, pada akhirnya Nora memang kalah dengan rasa lelahnya. Dia harus tidur untuk bisa mengurus Dambha nantinya.
***
Nusa mendapati ponselnya berdering dengan pesan masuk dari mamanya. Dia tidak tahu apa yang akan dikirimkan mamanya jika tidak segera membukanya.
Mama: Sent picture.
Mama: Persis kamu waktu masih bayi. Maunya tidur di dada papa kamu.
Tidak pernah ada dalam bayangan Nusa bahwa dia akan mendapati putranya tidur di pelukan sang kakek. Tidak tahu bagaimana ceritanya, tapi Nusa terus memandangi foto tersebut. Rasanya seperti dirinya yang berada dalam pelukan papanya. Dambha memang bagaikan lem yang merekatkan kembali keluarga itu.
Nusa tidak tahan untuk tidak menelepon nomor mamanya itu. Dia ingin tahu kronologi bagaimana Dambha bisa berada dalam dekapan Roedjati.
"Halo, Ma."
"Kenapa? Kurang banyak fotonya?" balas Daniyara.
"Kok, bisa anakku tidur sama Papa?"
"Dia rewel. Nggak bisa bikin Nora istirahat sama sekali. Terus Mama inget, dulu kalian juga hampir setiap malam rewel maunya tidur di deket dada Papa kalian. Ternyata Dambha juga gitu. Untungnya dia nggak rewel karena yang meluk bukan kamu, tapi kakeknya."
"Aku itu replika Papa, ya, jelas Dambha membaca kalo kakeknya punya kemiripan sama papanya yang asli."
Daniyara hanya mendengkus dipanggil itu. "Syutingnya belum selesai? Jam segini masih belum kedengeran lagi tidur kamu."
"Belum selesai, Ma. Ngejar target scene."
"Terus kira-kira pulang kapan? Kasian Nora ngurus anak kalian sendiri."
"Aku usahakan pulang cepat. Aku mungkin akan pulang lebih dulu juga, tapi karena masih banyak scene, aku harus tanggung jawab juga kalo ada apa-apa disini."
"Yaudah. Usahakan segera, Papa kamu udah tahu. Mama takut Dambha jatuh dari dekapannya karena tangannya udah nggak sekuat dulu."
"Oh, Mama berarti tahu segimana berkurangnya tenaga Papa dibanding dulu, ya?" Nusa menggoda mamanya.
"Halah, mulai otakmu! Mama tutup teleponnya, bye!"
Daniyara benar-benar melakukannya. Bahkan ketika Nusa menghubungi lagi, nomor mamanya sudah tidak bisa disambungkan ke panggilan. Rupanya Daniyara bisa juga salah tingkah. Kalau begini, Nusa jadi semangat untuk menggoda orangtuanya saat kembali nanti. Berkat Dambha, Nusa akhirnya kembali merasakan keinginan untuk melihat orangtuanya akur kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
