They voyage to distant lands that we called;home.
|Danusa Roedjati.|
|Roedjati series #2|
Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
[Extra part 4 sudah aku upload di Karyakarsa FreelancerAuthor. Terima kasih sudah membaca kisah Nora dan Nusa sudah sampai sejauh ini, ya. Besok kita ketemu extra part terakhir. Habis itu aku mau fokus nulis yang lain :)]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nusa merasa bahwa akhir dari hidupnya sudah dimulai. Baik Daniyara dan Djati menyatakan hal yang sama. Hal yang menjelaskan bahwa Nora tidak mau pulang ke rumah yang selama ini mereka tempati bersama. Dia tidak mau, tapi juga tidak mampu untuk memaksa.
"Mama dan Mas Djati nggak bisa begini, dong. Kenapa kalian nggak menjelaskan ke Nora bahwa pasangan yang udah nikah, memang harus tinggal bersama. Apalagi Nora hamil! Kenapa malah kalian misahin aku dan Nora? Kalo kalian nggak bisa bujuk Nora, biar aku yang masuk ke dalam untuk bujuk dan bicara sama dia."
"Heeeh! Tunggu!" Djati menahan tubuh adiknya untuk tidak masuk begitu saja ke dalam.
"Kamu harusnya lebih paham, karena kondisi Nora yang hamil justru kami nggak mau memaksa. Terakhir kali dia lupa ingatannya karena kecelakaan, itu juga kondisinya lagi hamil. Yang namanya perempuan yang lagi hamil, bicara nggak tepat sedikit bisa bikin dia ngelakuin hal yang nggak dipikir matang, Sa! Kamu harusnya belajar dari pengalaman ini."
"Aku belajar dari pengalaman, Mas! Karena aku belajar, maka aku mau memperbaiki apa yang dulu aku rusak. Aku nggak berniat memisahkan diri dari Nora dan anak kami."
"Kamu nggak perlu susah payah melakukan itu, Danusa." Kini Daniyara bicara dengan nada datar.
Hal itu membuat Nusa sontak saja menoleh dan menatap bingung pada mamanya. Ekspresi terlalu serius yang muncul dari Daniyara membuat Nusa menangkap ada satu lagi hal yang tidak beres, tidak sesuai seperti apa yang Nusa inginkan.
"Apa maksud Mama bicara gitu? Nggak perlu susah payah? Kenapa Mama mengatakannya?"
"Karena Nora mulai belajar untuk menerima fakta, bahwa kalian memang nggak benar-benar ditakdirkan bersama. Kamu memaksanya untuk bersama lagi. Dulu, dia hamil karena berusaha mengikat kamu. Dengan akhir yang bikin anak kalian nggak selamat. Sekarang, Nora hamil karena memang kamu menjebaknya saat ingatannya belum pulih. Hubungan kalian ini kacau. Makanya, Nora tadi bilang bahwa dia akan menuruti rencana awal kamu."
Nusa mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Rencana awal aku? Rencana yang mana? Aku cuma berencana untuk menjalani rumah tangga kami dengan normal—"
"Nora setuju begitu anaknya lahir, aku yang akan mengurusnya." Djati menyela ucapan Nusa hingga membuat adiknya itu mundur beberapa langkah dan bersandar pada dinding rumah sakit.
Nusa menggelengkan kepala berulang kali, mulutnya sudah terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari sana. Justru hembusan napas saja yang terdengar.
"Nusa, berhenti mengacaukan hidup Nora. Dia sudah setuju dengan keinginanmu. Kami nggak bisa memaksanya, kalo itu yang Nora mau. Ketimbang harus kehilangan anak itu lagi, lebih baik kamu ikuti aja keputusan Nora ini. Toh, ini juga keputusan awalmu dulu. Kamu nggak mencintai Nora dan nggak bisa menerima anak itu. Jadi, berhenti memaksakan diri hanya karena rasa bersalah."
***
Nusa hanya berusaha mengikuti apa yang Nora rencanakan. Dia tidak memaksa, dan tetap berusaha tenang agar sedikit demi sedikit bisa membujuk perempuan itu.
Nora tinggal di rumah Daniyara? Nusa turuti.
Nora yang tidak mau terlalu banyak interaksi dengan Nusa? Pria itu juga turuti.
Namun, satu yang tidak Nusa turuti. Yaitu, Nusa yang sesuka hati datang ke rumah mamanya dan menatap Nora dari jarak yang bisa dilihat oleh perempuan itu.
"Kamu sengaja membuat Nora menyadari keberadaan kamu terus menerus," ucap Daniyara pada sang putra kedua.
"Itu tujuanku, makanya aku datang setiap hari. Aku nggak memaksakan keinginanku untuk memeluk dan mendekapnya erat. Tapi aku sengaja menunjukkan keberadaanku dan membuat hatinya bergetar setiap hari."
Daniyara meminum tehnya dengan tenang, tapi juga tidak bisa menutupi helaan napas berat atas sikap anak-anaknya.
"Tiga anak laki-laki hobi membuat ulah dalam kisah cintanya, dan satu anak perempuan yang hobinya kabur ke luar negeri tanpa mau pulang, sampe Mama ngerasa nggak punya anak perempuan karena selalu ngurusin tiga anak laki-laki yang hobi bikin ulah disini."
"Nggak ada yang bikin ulah, memang kebetulan kisah cinta nggak ada yang nggak rumit, Ma."
Daniyara memutar bola matanya dengan dramatis. "Oh, please ... kalian ini terlalu mengagungkan cinta. Kenapa nggak belajar dari kisah Mama dan Papa? Nggak perlu ada cinta untuk bisa bertahan dalam pernikahan. Nggak perlu dibuat rumit."
"Ya, karena Mama dan Papa cuma membangun hubungan berdasarkan mutualisme semata. Harus ada yang diuntungkan, transaksional."
"Pernikahan memang transaksional. Tidak ada pernikahan yang utuh ketulusannya. Kapian terlalu naif. Menginginkan cinta seperti kisah dongeng."
Nusa menatap mamanya dan memberikan satu kalimat yang tidak bisa dihindari oleh Daniyara.
"Mama terlalu keras pada diri sendiri. Padahal Mama bisa jujur, bahwa diam-diam Mama menginginkan kasih sayang dan cinta dari Papa. Sejauh ini menemani Papa, nggak ada perhatian yang diberikan pria itu untuk Mama. Itu sebabnya, Mama nggak pernah benar-benar bisa mengabaikan pihak perempuan yang secara sengaja atau tidak kami sakiti. Mama nggak mau ada perempuan seperti Mama. Iya, kan?"
Daniyara yang semula tertegun sejenak, memberikan senyuman miris pada Nusa. "Kamu tahu banyak tentang Mama, tapi kamu nggak tahu apa-apa mengenai pasanganmu. Sepertinya kamu memang harus lebih banyak belajar lagi. Dan ... selamat belajar untuk mengerti apa maunya Elnora, ya, putraku Danusa."