[Kawan, epilog dan extra part hanya tersedia di Karyakarsa FreelancerAuthor dan di versi ebook, ya. Disini sampe part akhir aja, yaitu part 15. Happy reading💙]
Daniyara melihat putranya yang baru saja keluar dari kamar yang Nora tempati. Tatapan ibu dan anak itu saling mengunci, tapi keduanya tidak terkejut sama sekali. Yang ada justru mereka saling bertatapan dengan kedua alis yang diangkat seolah menunjukkan pertanyaan, "Apa?" Yang memiliki arti yang berbeda bagi keduanya.
Bagi Daniyara, pertanyaan yang disampaikan melalui tatapannya adalah, "Apa ada perubahan diantara kalian?"
Sedangkan bagi Nusa, dia menyampaikan pertanyaan, "Apa yang Mama harapkan dari aku yang keluar kamar Nora?"
"Udah baikan?"
Nusa menghela napasnya dengan pertanyaan mamanya itu. "She is crying on my chest last night and said divorce is the better decision for us."
Daniyara merapatkan bibirnya karena mendengar kalimat yang sangat menyedihkan dari putra keduanya itu. "Oh, Mama salah tanya kalo gitu. Sorry."
Lalu wanita itu pergi tanpa menoleh pada Nusa yang hanya bisa mengusap wajahnya dengan sangat frustrasi. Dia tidak bisa mengerti kenapa takdir mempermainkan cintanya dan Nora seperti ini. Walau pun sebenarnya memang mereka sendiri yang melakukan kesalahan hingga takdir memberikan dukungan kecil untuk bisa mengurangi rasa sakit yang ada.
Nusa menyandarkan kening di dinding, mengetukkannya dengan pelan tapi menjelaskan betapa hampir gilanya dia saat ini.
"Sisa semalam masih ada, Sa? Padahal nggak minum alkohol."
Menoleh, didapatinya Djati yang sudah mengenakan pakaian formal sepagi ini di rumah orangtua mereka.
"Ngapain Mas Djati di sini?"
"Mau jemput istrimu."
Untuk yang satu ini sukses membuat Nusa tidak bisa mengabaikannya. "Jemput Nora? Ngapain Mas Djati yang jemput dia? Aku suaminya!"
Djati berjalan mendekati sang adik dan memberikan sentuhan pelan di bahu Nusa. Dari ekspresi yang Djati tunjukkan, Nusa bisa memperkirakan sesuatu yang tidak pernah dia kira akan dilakukan oleh Nora dan Djati.
"Nora yang memintaku untuk membantunya mengurus perceraian kalian secara langsung. Maaf, Sa. Mama juga nggak bisa menyelamatkan bagian ini. Nora benar-benar serius dengan perpisahan kalian. Dan kamu ... harus bersiap juga untuk mengurusnya."
***
Semua orang pasti kebingungan dengan keputusan yang Nora tetap jalankan. Dia tidak memberikan penjelasan yang dalam mengenai alasannya untuk berpisah dari Nusa. Tapi untungnya memang keluarga Nusa menghargai apa pun keputusan yang Nora ambil. Meski memang suasana rumah menjadi agak kelabu karena Nusa yang mempengaruhi seluruh suasana hati orang-orang di rumah itu.
"Teh untuk menenangkan gejolak morning sickness kamu."
Nora mendapati Daniyara yang menghidangkan teh untuk mereka berdua bisa saling bicara dari hati ke hati.
"Aku nggak mengalami morning sickness lagi, kok, Ma."
"Iya, Mama tahu. Yang suasana hatinya gampang berubah dan uring-uringan juga bukan kamu yang lagi hamil, tapi Nusa."
Tidak bisa dipungkiri bahwa pria itu memang lebih cocok untuk disebut sebagai pihak yang hamil dengan semua tingkahnya. Namun, Nora tahu itu adalah bagian yang diberikan pada Nusa oleh bayi mereka untuk membuat mereka tetap bisa saling beriringan sebagai orangtua si bayi.
"Nusa selalu mengeluarkan pertanyaan yang sama dari mulutnya selama kamu kekeh mengurus perceraian kalian. 'Kenapa takdir membuat kalian merasakan cinta yang membuat menderita?' kurang lebih begitu yang dia keluhkan."
Nora menyeruput sedikit demi sedikit teh yang Daniyara hidangkan. Dia merasakan ketenangan dari hangatnya teh tersebut melewati kerongkongannya.
"Itu sebabnya aku mau menyembuhkan diri dari cinta yang membuat derita itu, Ma."
"Gimana maksudnya? Kamu mencintai Nusa dan itu adalah sumber penderitaan kamu?"
"Lebih tepatnya sumber penderitaan kami berdua. Dari awal, hubungan yang salah dan obsesif memang nggan benar. Hal yang nggak benar ketika dipaksakan pasti berbuah resiko yang nggak mengenakkan pula. Itu yang membuat kami menderita. Memaksakan kehendak dan meneruskan hanya akan bikin kami makin gila."
Daniyara menarik napas dan setuju akan bagian tersebut. "Kalo Mama hidup di zaman kalian, pasti Mama akan melakukan pemberontakan yang sama seperti kamu."
Nora menoleh pada Daniyara dengan terkejut. "Mama ... nggak baik-baik aja?"
Daniyara mengerutkan hidungnya. Sudah jelas jika gerakan itu adalah bentuk supaya Daniyara tidak menangis di depan Nora.
"Setiap perempuan yang menikah dan menjadi istri memang nggak pernah baik-baik saja, Nora. Itu sebabnya, Mama selalu berada di pihak perempuan, dalam tiga kasus anak-anak Mama, tentu Mama berada di pihak menantu. Jangan sampai kalian tertekan karena kelakuan pria yang merasa bisa mengendalikan segalanya."
"Mama ..."
"Jangan tatap Mama dengan kasihan begitu. Karena sekarang bukan jatahnya Mama untuk itu. Ini bukan cerita Mama, ini ceritamu. Jadi, mari kita lihat jalan cerita seperti apa yang akhirnya kalian jalani."
Nora hanya bisa mengangguk. Tidak ingin mengorek lebih dalam kisah Daniyara. Toh, jalan kisah Daniyara pasti sudah lebih rumit mengingat usia yang jauh dari kata muda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
