VOYAGE ; 6.3

316 30 1
                                        

[Hai! Chapter 12 full udah aku upload di Karyakarsa freelancerauthor, ya. Anyway, cerita inti udah tinggal 3 chapter aja. Ayo, diikutin kisahnya Nusa dan Nora sebelum move ke cerita saudara Nusa yang lain.]

]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nusa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nusa."

Nusa memilih untuk tidak mendengarkan panggilan dari istrinya. Dia sibuk untuk meminta pelayan mengemas barang-barangnya dan Nora. Membuat seluruh kebutuhan mereka masuk ke dalam beberapa koper untuk mereka segera bawa pergi. Nusa tidak ingin berada di rumah itu lebih lama. Dia memikirkan bagaimana jika ingatan Nora terus berkembang dengan segala sikap Mamanya yang dengan sengaja suka sekali membawa sinyal-sinyal mengenai masa lalu Nora. Walau jika dipikirkan memang bukan masa lalu, kejadian yang menimpa Nora bahkan tidak terlalu lama terjadi.

"Nusa!"

"Kenapa?"

Setelah beberapa saat, pria itu baru menoleh dan menatap Nora secara penuh.

"Apa harus seburu-buru ini? Kita bahkan belum bicara apa pun ke Mama Daniyara. Aku rasa kita bisa tinggal selama beberapa hari lagi untuk tetap disini sbagai keluarga."

Nusa dengan begitu yakin menggelengkan kepalanya. Pria itu seolah meyakinkan Nora bahwa pilihannya ini adalah yang paling tepat. Nora tidak akan mengerti dengan pilihan tepat Nusa ini.

"Sayang, ini adalah pilihan yang tepat. Kamu nggak akan nyaman untuk lebih lama tinggal disini. Semua kegiatan di rumah ini terlalu monoton. Bahkan untuk beraktivitas di meja makan saja kita nggak bisa leluasa. Jadi, segera pindah ke rumah kita sendiri adalah pilihan yang paling tepat."

Sungguh Nora tidak tahu kenapa suaminya itu tampak begitu tegang dan tidak suka berada di rumah tersebut. Sedangkan Nora merasa senang dan bahkan seolah dia memiliki ikatan yang hangat disini. Entah kenapa Nora merasa begitu diterima dan diurus begitu baik disini. Hatinya hangat untuk berada di rumah yang dimiliki oleh orangtua Danusa Roedjati itu.

"Kamu ragu untuk pindah dari sini, Nora?" tanya Nusa.

"Bukan ragu. Tapi aku merasa aku masih kangen aja disini. Hatiku menghangat. Aku merasa aku sangat diterima disini. Kayak ... apa, ya? Aku ngerasa memang disini aku tinggal dan diurus sangat baik. Aku nggak perlu takut dengan apa pun, id rumah ini aku merasa aman banget."

Nora mendapati bahunya diusap dengan lembut oleh Nusa. Mereka saling bertatapan dan pria itu memeluknya. Padahal Nora tidak merasa butuh sebuah pelukan. Dia hanya ingin tidak terburu-buru untuk pindah yang sama artinya dengan pergi dari kediaman tersebut.

"Aku tahu kamu sangat senang diperlakukan dengan baik disini. Tapi bagaimana pun, kita sudah menikah. Kita harus menjadi mandiri dan nggak bergantung di keluarga ini. Kita sudah dewasa dan harus bisa menjalani rumah tangga ini berdua. Syukur-syukur kita diberi momongan dalam waktu dekat dan bisa menjalani peran sebagai orangtua, itu lebih baik lagi."

Nora memberi jarak denga melepaskan pelukan Nusa. Dia tatap sang suami dan dengan hati-hati berkata, "Aku nggak mau buru-buru untuk punya anak juga. Kalo yang pindah ini nggak bisa aku nego dengan kamu. Maka urusan anak harus aku nego. Aku nggak mau terlalu cepat hamil."

"Iya, Sayang. Aku juga nggak mau buru-buru. Bagaimana pun kamu harus pulih sepenuhnya lebih dulu. Jangan pikirkan soal kehamilan sekarang-sekarang ini. Aku juga masih mau berduaan sama kamu dan menikmati bulan madu kita. Aku akan lakukan pencegahan supaya kamu nggak hamil dalam waktu dekat. Tenang aja."

Sebenarnya Nora agak tidak mengerti dengan sikap suaminya itu, terkadang menyatakan agar Nora tidak hamil terkadang membicarakan keberadaan anak. Terkadang juga seperti ini, memberikan ketenangan pada Nora untuk tidak memikirkan mengenai kehamilan. Sungguh Nora tidak paham apa yang ada di kepala suaminya mengenai keberadaan anak.

***

Nusa sudah membawa barang-barang mereka ke dalam mobil. Nora sendiri bisa melihat keberadaan mertuanya, dan kedua iparnya yang duduk di gazebo taman sedang bersantai. Nora melirik ke depan, dimana suaminya tidak peduli pada keberadaan mamanya dan kedua saudaranya. Ada keinginan Nora untuk belok arah dan mengajak bicara keluarga suaminya itu. Namun, bagaimana pun Nusa adalah pemimpinnya, jadi bersikap seenaknya sendiri tidak termasuk dalam kategori istri yang baik.

"Sa, apa kita nggak pamitan dan jelasin ke Mama soal ini?" tanya Nora pada sang suami yang berniat langsung duduk di balik kursi kemudi.

"Mama pasti paham, Nora. Buktinya Mama nggak mengatakan apa-apa. Lagi pula, biasanya kalo Mama lagi ngumpulin anak-anaknya sendiri, itu artinya ada pembahasan yang nggak perlu kita tahu."

Nora menoleh ke arah dimana Daniyara dan kedua anaknya duduk dan hanya menatap ke arah mereka dari jarak yang cukup jauh. Sepertinya memang mertuanya itu tidak ingin membahas apa pun mengenai kepindahan Nusa dan Nora yang tiba-tiba ini. Atau mungkin Daniyara memang sudah paham yang dilakukan Nusa ini adalah untuk membangun rumah tangga yang tidak diikut campuri oleh keluarga manapun.

"Nora, ayo kita berangkat. Kita masih bisa berkunjung dan menginap kapan-kapan disini. Nggak perlu seberlebihan itu. Kita cuma pindah rumah, bukan pergi ke luar negeri."

Menghembuskan napasnya sejenak, Nora akhirnya mengangguk dan mengikuti perintah suaminya. Mereka harus belajar dewasa dengan menjalani rumah tangga yang mandiri. Perlahan-lahan, Nora harus menghapus kebiasaan berkumpul dengan keluarga suaminya. Sebab mungkin saja sekarang tidak ada masalah dengan tinggal bersama mertua, tapi ke depannya, siapa yang tahu jika ada masalah yang mendera dan orangtua idtakutkan akan ikut campur?

"Tersenyum, Sayang. Mari kita menjalani pernikahan ini berdua."

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang