They voyage to distant lands that we called;home.
|Danusa Roedjati.|
|Roedjati series #2|
Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
[Extra chapter 3 udah aku upload di Karyakarsa freelancerauthor, ya. Happy reading semuanya!]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika sebelumnya Nora hanya akan melihat sekelibat ingatan ketika dia tidak sengaja menutup mata atau tertidur. Kini, Nora bisa melihat segalanya dengan jelas. Dia mengingat kebodohannya yang terus berusaha untuk bertahan di sisi Nusa. Nora bisa mengingat dengan baik bahwa dia sudah menjadi salah satu perempuan buta hanya untuk mempertahankan Nusa yang tidak benar-benar mau memberikan kesempatan pada Nora.
"Kamu belum makan apa pun, Elnora." Daniyara berusaha untuk menyuapkan bubur kepada Nora yang masih sibuk dengan isi pikirannya yang kacau.
"Nanti aja, Tante."
"Kenapa jadi balik lagi panggil Tante? Mama! Kamu harus tetep panggil Mama."
Nora hanya bisa mengangguk dan tersenyum agak canggung. Setelah dia mengingat semuanya, melihat Daniyara menjadi hal yang sangat memalukan.
"Kenapa? Kamu canggung lagi?"
"Rasanya agak aneh kalo aku dengan percaya diri masih bisa panggil Mama tanpa malu atau canggung. Aku udah jadi orang yang bikin semua ini terjadi."
"Ini semua salah Nusa, bukan kamu."
Nora menggelengkan kepalanya. "Kalo sejak awal aku nggak kegatelan untuk menjadi perempuan yang ada dalam hidup Nusa, nggak akan ada kejadian-kejadian semacam ini. Nusa dari awal nggak pernah mau bikin hubugan persahabatan kita jadi hal yang kacau. Yang nawarin untuk tidur bareng ... Itu aku."
Daniyara menghela napasnya karena pengakuan itu.
"Kalo Nusa menganggap kamu memang cuma sekedar sahabatnya, nggak akan dia nafsu sama kamu. Mana ada sahabat yang murni sahabatan kalo bisa saling nafsu? Itu artinya Nusa memang memiliki perasaan sama kamu. Dia nggak akan mengacaukan persahabatan kalian dengan nidurin sahabatnya sendiri apa pun alasannya. Ini memang murni kesalahan Nusa yang nggak bisa menahan nafsunya sendiri. Nggak tegas dan nggak sadar dengan perasaannya sendiri untuk kamu."
"Perasaan? Ma, dari awal yang kecintaan itu aku."
"You fell first, then he fell harder."
Sejujurnya kalimat itu terlalu anak muda dan terlalu kekinian untuk meluncur dari mulut Daniyara. Namun, nyatanya wanita itu bisa menyampaikan demikian. Membuat Nora juga menyadari bahwa Nusa bisa saja melakukan segala hal dengan perempuan lain meski sudah mendapatkannya dari Nora. Untuk apa Nusa tidak melakukannya dengan perempuan lain, jika bukan karena rasa cinta yang pria itu miliki untuk Nora?
Tapi Nora kembali pada ingatan dimana Nusa menolak keras keberadaan anak yang dikadung perempuan itu. Bahkan mengatakan agar anak itu diurus oleh Djati dan istrinya saja. Itu hal yang paling menyakitkan, dan bahkan kalimat itu juga yang membuat Nora akhirnya lari hingga mengalami kecelakaan dan kehilangan semuanya.
"Udahlah, dari pada kamu terus mikirin hal itu. Mendingan kamu makan dulu. Sebentar lagi Djati dateng untuk bawa barang Mama, kamu harus banyak istirahat, bukan banyak beban pikiran."
***
"Ma, anak tengah Mama di luar masih nunggu."
Djati memberikan bungkusan yang dibawanya kepada Daniyara. Lalu menatap ke arah Nora tanpa canggung sama sekali.
"Jadi, anaknya mau dikasih ke aku?"
Daniyara langsung melotot dengan ucapan Djati yang terlalu blak-blakan. Begitu pula dengan Nora. Bukan hanya terkejut, tapi tidak menyangka Djati akan menyampaikan kalimat tanya semacam itu.
"Katanya Nora udah ingat semua, kan? Harusnya dia juga ingat terakhir kali pembicaraan kita. Nusa mau anaknya aku asuh. Tinggal gimana Nora sekarang. Mau mewujudkan ucapan Nusa dulu atau apa."
"Kamu udah gila, ya? Kenapa kamu bahas hal itu?"
"Jelas harus dibahas, Ma. Biar aku tahu juga, apa Nora mau membalas kelakuan Nusa atau nggak."
Nora menatap mertuanya dengan bingung, meminta penjelasan dari apa yang Djati sampaikan.
"Balas apa, sih, Djati? Rumah tangga adikmu ini udah rumit."
"Biar Nusa kapok dan menyadari perasaannya sendiri. Kata-katanya dan sikapnya dulu nggak bisa dikategorikan biasa. Itu nyakitin perasaan Nora. Untuk memberi sedikit hukuman ke Nusa, hal kayak gitu pasti bisa bikin dia panik."
Ekspresi Djati yang tidak ragu sama sekali untuk memberikan saran agak brutal itu membuat Nora menjadi agak penasaran jika Nusa mendapati hal ini. Apakah reaksi Nusa tidak akan berbeda seperti dulu? Apakah Nusa hanya berpura-pura mencintai Nora disaat ingatannya tertutup?
"Djati—"
"Gimana kalo itu memang yang akan aku lakukan?" Nora mengejutkan ibu dan putra sulungnya itu.
"Elnora, Djati cuma sedang menggoda kamu aja. Jangan dengerin sarannya yang asal itu."
"Aku cuma mau memastikan juga, Ma. Apa yang sebenarnya Nusa mau. Apa benar dia memang memiliki perasaan untukku? Apa reaksi yang akan Nusa tunjukkan dengan semua skenario tersebut."
Daniyara bertatapan dengan Djati yang hanya menaikkan sebelah alisnya, pertanda bahwa Djati memang sudah berencana mengacaukan emosi adiknya itu. Daniyara hanya bisa mengusap wajahnya karena kelakuan sang putra pertama.
"Udahlah, terserah kalian. Mama hanya ikutin permainan kalian aja, jadi pemain cadangan."
"Eh, nggak gitu, Ma. Mama justru pemain utama. Karena setelah ini Nora akan tinggal sama Mama lagi."
Sekali lagi Daniyara menghela napasnya berat. "Astaga ... yaudahlah. Mama mau bersih-bersih badan dulu. Terserah kalian mau bikin rencana apa."