Voyage : 8.2

267 33 2
                                        

"Mas," panggil Roemaga.

Djati mengambil ponselnya dan membuka rekaman yang entah didapatkannya dari mana. Rekaman yang menunjukkan pembicaraan Roemaga dan Danusa.

"Ini kalian mau main-main apa? Perempuan bukan ajang mainan. Kenapa kalian sibuk mainin perasaan perempuan?"

Roemaga membungkam mulutnya dengan cepat. Djati memang memiliki banyak anak buah yang diam-diam beredar hingga ke perusahaan Roemaga. Anak buah Djati tidak bisa diawasi, sebab Roemaga sendiri tidak hanya memusingkan masalah itu. Dia sibuk dengan persaingan ketat antara perusahaan. Mata-mata semacam itu sama sekali tidak masuk dalam prioritas utama Roemaga.

"Mas Djati pasang penyadap?" tanya Roemaga.

"Itu nggak penting. Yang terpenting, jangan main-main dengan perasaan orang lain."

"Tapi istri Mas Djati jalan sama laki-laki lain. Itu juga main-main."

Djati langsung menggebrak meja. Membuat Roemaga menjadi terkejut seketika.

"Jangan bahas istriku. Sekarang dia memang sedang berada di jalan yang keliru, tapi suatu saat nanti, dia akan sadar. Sedangkan kasus kalian berbeda. Kalian memiliki rahasia yang berkaitan dengan perasaan perempuan. Bagiku, nggak masalah pihak perempuan bingung dengan perasaannya. Kita yang harus mengalah dan menjaga perasaan mereka."

"Mas, aku kesini bukan untuk diceramahi. Aku nggak main-main kalo cinta perempuan. Rahasiaku juga bukan untuk menyakiti perempuanku. Tapi yang mau aku bahas adalah apa yang harus aku lakukan dengan permintaan Nusa?"

"Jangan kebiasaan panggil nama saja. Dia tetap kakakmu, Roemaga."

Roemaga berdehem dengan kalimat peringatan tersebut. "Iya, iya. Mas Nusa. Jadi gimana?

"Turuti saja. Kan, yang dia mintai dukungan kamu. Urusan lain, biar aku yang membantu mama."

Roemaga menghela napas lega. Setidaknya kakaknya yang pertama ini memang dijamin kewarasannya. Setidaknya masih ada pihak yang bisa membantu Elnora jika memang sikap Danusa sudah kelewatan. Bagaimana pun, Nusa pernah membuat Nora mengalami luka fisik yang cukup parah. Bagus ingatan Nora tersimpan rapat-rapat sampai tidak bisa disadari. Namun, bagaimana jika nantinya kotak ingatan itu mulai muncul ke permukaan?

"Sikap Mas Nusa itu terlalu keterlaluan. Dia udah nolak Elnora mentah-mentah sewaktu masih jadi sahabat. Ditolak, tapi ditidurin. Dia nggak mau mengakui anak itu dan bahkan berniat nyuruh Mas Djati adopsi anaknya. Sekarang, ketika Tuhan mengambil anak itu sebagai jalan terbaik, Mas Nusa masih berusaha menghancurkan Elnora melalui ambisinya."

Djati mengambil ponselnya kembali dan masih tampak tenang. "Sebenarnya udah bisa ditebak semua itu. Nusa itu punya sifat yang cenderung obsesif. Dengan dia terus menerus menahan Elnora sebagai sahabat sejak dulu tanpa beneran memperbolehkan perempuan itu mengenal laki-laki lain, obsesi itu udah keliatan. Sayangnya aja, dia bodoh dan malah menaruh obsesi ke perempuan lainnya lagi disaat dia belum sadar sama keinginan untuk memiliki Elnora sepenuhnya. Memang seharusnya begini. Karena kalo nggak begini, Nusa nggak akan belajar."

"Tapi, Mas, masa demi bikin Nusa belajar, nasib Elnora sebagai perempuan nggak berdaya harus dipermainkan?"

Djati menatap adiknya yang tidak terima pihak perempuan diperlakukan dengan tidak adil. Djati tampak bangga karena adik bungsunya itu memang mampu menyayangi dan memperlakukan wanita dengan baik.

"Yakinlah, Roemaga. Yang nantinya carut marut bukan Elnora. Melainkan saudara kita sendiri."

***

Nora mendapatkan pekerjaan sederhana. Ya, begitulah kurang lebih yang digunakan Nusa ketika menyematkan jabatan yang didapatkan istrinya.

"Admin di perusahaan kecil gajinya nggak seberapa. Kamu yakin nggak masalah?" tanya Nusa yang masih berusaha untuk mempengaruhi istrinya.

"Itu lebih wajar ketimbang gaji yang ditawarkan perusahaan kecil kemarin. Aku lebih sreg ini, Sa. Lagian, apa yang aku harapkan dengan gaji yang besar? Aku nggak butuh hidup boros. Pekerjaan itu cuma buat kegiatan aku supaya nggak bosen di rumah aja."

Nusa yang kembali diingatkan hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam. Dia tidak ingin membuat istrinya tertekan dan malah kabur ke rumah dimana Daniyara berada.

"Oke. Kalo keputusan kamu udah final. Aku nggak akan mempertanyakannya lagi. Jadi, mulai kapan kerjanya?"

"Besok udah mulai kerja."

"Yaudah, besok berangkat bareng aku."

"Ngapain? Aku bisa berangkat sendiri. Lagi pula, kamu udah sediakan fasilitas. Kenapa harus diantar?"

Nora menunjukkan sisi dimana dia bisa melakukan segalanya sendiri. Hal itu agaknya membuat Nusa tersinggung.

"Aku suami kamu. Rasanya wajar kalo pengen tahu dimana kamu kerja. Lagi pula, berangkat bareng nggak identik dengan 'nganterin'. Aku pengen punya kebersamaan. Ah, tapi kalo seorang suami mau antar kerja istrinya juga bukan masalah. Kenapa kamu memperdebatkannya? Kamu sembunyiin apa dariku di tempat kerja baru kamu itu? Apa jangan-jangan kamu menerima bantuan Mama untuk bisa dapat pekerjaan dan menolak bantuanku untuk kamu dapat kerjaan?"

Nora mengerutkan keningnya pada tuduhan Nusa yang terlalu dipenuhi kecurigaan. "Kenapa sekarang kesannya yang salah aku? Mama nggak pernah kasih bantuan apa pun, beliau malah kasih dukungan moral supaya aku bisa berdikari sendiri. Sedangkan kamu? Bantuan yang kamu berikan itu ... aku yakin itu adalah salah satu perusahaan yang kamu punya, kan? Kamu mau terus mengatur gerakanku, Sa. Aku nggak ngerti kenapa kamu nggak bisa percaya aku sama sekali!"

Nora mengusap wajahnya karena dia mulai menggebu-gebu terbawa emosi. "Aku nggak ngerti kenapa kamu setakut ini hanya karena aku berhubungan terlalu baik dengan mama kamu. Kamu beneran bikin aku bingung. Kamu sangat aneh, Danusa."

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang