Voyage ; 8.1

295 31 2
                                        

Semakin hari, kata-kata dari bibir Nora semakin meresahkan saja bagi Nusa. Semakin didengar, semakin mengarah pada hal yang Nusa hindari. Kenapa juga perempuan itu seperti bisa menebak-nebak masa lalu yang dilupakan? Kalau begini, Nusa jadi bingung untuk mencari cara agar mengamankan ingatan Nora sepenuhnya agar tidak bermunculan secara permanen. Walaupun itu adalah sesuatu yang sangat mustahil untuk dilakukan. Siapa yang bisa mengendalikan ingatan seseorang? Tidak ada. Kecuali Tuhan yang melakukannya.

"Ngapain pagi-pagi udah di kantor gue?"

Roemaga muncul dengan raut yang tidak terkesan dengan keberadaan kakak keduanya itu.

"Maga, kakakmu ini butuh bantuan yang nggak sedikit untuk mengamankan segalanya."

Roemaga mengernyit dengan ucapan Danusa.

"Bantuan? Buat apa? Nggak pernah seorang Danusa Roedjati meminta bantuan, apalagi ke adiknys sendiri. Biasanya semuanya bisa dilakukan sendiri."

"Ini bukan bantuan yang gimana-gimana, hanya minta seorang adik untuk membuat Mama berhenti mempengaruhi apa pun ke Elnora."

Kening Roemaga semakin naik dengan apa yang kakaknya ucapkan itu.

"Tunggu, tunggu! Gue nggak punya pengaruh apa-apa buat bikin mama nggak mempengaruhi apa pun ke Elnora."

"Lo bisa, Maga. Sangat bisa. Dibanding  Jati, ucapan Lo lebih didenger Mama. Karena lo punya semacam ... vibes kayak ibu-ibu arisan yang bisa mempengaruhi satu dan lainnya."

"What the fuck is that? Gue bukan ibu-ibu tongkrongan arisan. Kalo gue bisa mempengaruhi mama, itu karena gue nggak macem-macem kayak lo, Sa."

Nusa menaikkan sebelah alisnya kepada sang adik. "Yakin kalo lo nggak macem-macem? Terus soal Mattea Ebe Anais itu apa?"

Sontak saja Roemaga memaki dengan keras. "Shit!"

Nusa senang dengan reaksi adiknya yang tidak lagi setenang sebelumnya. Membahas Ebe, perempuan yang memang memiliki rahasia dengan Roemaga sangatlah berguna. Memang, tidak akan ada anak-anak Daniyara yang tidak memiliki kisah aneh mereka sendiri. Nusa yakin bahwa adiknya tidak akan hidup lurus-lurus saja. Meski memang, mereka memiliki kategori tersendiri untuk bisa memuaskan hasrat seks mereka masing-masing. Yaitu tidak akan melakukannya dengan sembarangan wanita. Djati, Danusa, dan Roemaga selalu berkomitmen untuk melakukan seks dengan wanita yang memiliki nilai di mata mereka.

Dan ketidakyakinan itulah yang membawa Nusa bisa mengulik rahasia paling rahasia dalam hidup Roemaga. Rahasia yang pasti akan menyebabkan kemarahan dalam keluarga mereka. Membayangkan bahwa mamanya akan semakin murka, bukan hanya pada Nusa saja, ketenangan mengisi jiwa Nusa.

"Apa yang lo lakuin dengan cari tahu soal Ebe?"

Nusa menggeleng pelan. "Gue nggak ada urusan sama dia. Urusan gue adalah membuat lo berada di pihak gue begitu ada masalah yang bikin mama berniat menjauhkan gue dan Nora."

Roemaga memijat keningnya dengan sangat frustrasi. Dia tidak bisa melanggar janjinya pada Ebe untuk membuat semua orang tahu hubungan mereka. Jika Nusa membuka mulutnya, maka habislah segalanya.

"Tanpa mama ikut campur pun, masalah lo dan Elnora udah rumit. Kalo ingatannya balik, tanpa dipengaruhi mama, dia pasti kecewa dan berusaha jaga jarak dari lo, Nusa."

"Itu urusan gue. Disaat itu, lo harus bikin mama nggak ikut campur soal apa pun. Pastiin dia nggak bantuin Nora. Pastiin mama mengabaikan Nora yang ingat segalanya nantinya. Karena disaat itu, cuma gue yang boleh bantu dan bawa dia pulang."

"Lo tahu cara kayak gitu bakalan nyakitin Nora lebih jauh, kan?" ucap Roemaga.

Nusa tahu, dan memang tujuannya adalah sekalian saja merasakan sakit sepenuhnya. Jangan lagi setengah-setengah. Jika memang Nora mengingat segalanya nanti, maka Nusa akan membuat perempuan itu bergantung pada bantuannya. Licik memang, tapi bagi Nusa, itu adalah cara terbaik.

"I know."

"Kalo tahu kenapa tega nyakitin? Lo bisa bayangin luka sedalam apa yang udah lo kasih ke dia, dan ditambah kelakuan lo yang nggak berubah malah makin jadi liar. Jangan bilang lo mau bikin Elnora sampe gila?"

Nusa menghela napasnya. "Nggak sejauh itu! Pikiran lo itu terlalu berlebihan. Gue cuma mau bikin Nora sepenuhnya bergantung ke gue apa pun keadaannya."

"Itu bukan cinta, Nusa." Roemaga langsung teringat faktanya setelah menyeletuk seperti itu. "Oh, gue lupa, lo nggak menyadari cinta yang lo punya untuk Nora. Pantesan, yang muncul dari diri lo adalah obsesi untuk bikin Nora bergantung ke lo. Padahal mencintai seseorang dengan cara yang normal dan nggak tega menyakitinya adalah cara yang paling baik akhirnya."

Nusa memutar bola matanya dengan muak. "Gue tahu lo cinta mati sama perempuan itu. Kadar kecintaan lo beda sama gue, Maga. Jangan samakan, dan berhenti untuk sok bijak. Karena nyatanya cinta yang lo punya buat perempuan itu nggak berbalas seperti apa yang lo mau, kan?"

Sekali lagi Roemaga terdiam. Dia kalah dari ancaman yang kakak keduanya itu berikan. Mau tidak mau Roemaga menyetujui kerjasama ini. Kerjasama yang tidak Roemaga inginkan, tapi terpaksa dia lakukan.

Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang