They voyage to distant lands that we called;home.
|Danusa Roedjati.|
|Roedjati series #2|
Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nusa menciumi tengkuk istrinya begitu masuk ke dalam kamar. Pria itu tidak menyiakan kesempatan yang diberikan oleh Nora. Untungnya memang Nora baru selesai mandi hingga aroma perempuan itu masih begitu kental akan aroma sabun. Sisa kelembaban di tubuh perempuan itu juga memberikan dorongan bagi Nusa untuk semakin berani menggerakan tangannya ke bagian depan handuk yang diselipkan Nora.
"Nakalnya tangan suamiku ini." Nora mencubit tangan Nusa yang tidak akan terasa apa pun bagi pria itu.
"Kamu yang ajakin tadi, ingat?"
"Ingat. Tapi apa harus seburu-buru ini? Kan, aku mau ganti baju dulu."
"Ngapain ganti baju? Begini aja. Udah tinggal buka doang."
Nora kembali mencubit tangan suaminya yang tidak bisa dikendalikan itu. Namun, bukannya mengalah, Nusa malah menunduk untuk menciumi bahu hingga punggung istrinya yang tidak terbalut handuk.
Tentunya gerakan seduktif yang Nusa lakukan tidak pernah gagal untuk membuyarkan konsentrasi Nora untuk menetapkan pilihannya yang awal. Dia tetap akan mengikuti apa yang suaminya mau. Yaitu, bercinta sekarang juga tanpa harus sibuk untuk berganti pakaian lebih dulu.
"Memang dasar pria mesum!" keluh Nora yang tidak sepenuhnya buruk.
Pada faktanya, Nora memang selalu suka dengan kegiatan fisik mereka. Tidak akan ada asap bila tiada api. Yang pastinya menjadi api di sini adalah Nora sendiri. Dia yang selalu membangkitkan gairah Nusa dan dia memang harus menerima apa yang harus diterimanya, dengan suka rela.
"Aku tahu kamu suka dengan tingkat kemesuman suami kamu sendiri ini, kan?"
Nora menahan senyuman di bibirnya, apalagi ketika Nusa sibuk menutup pintu lemari yang terdapat cermin yang menunjukkan bayangan satu tubuh penuh dari atas sampai bawah.
"Aku nggak berusaha untuk membuat kamu tersenyum, Elnora. Tapi kenapa kamu terlihat kesenangan dengan senyuman di ujung bibir kamu itu, hm?" goda Nusa.
"Ugh, berhenti menggoda aku!"
Nora yang tubuhnya sudah sepenuhnya menghadap kepada cermin tersebut hanya bisa berusaha menghindari bayangan dirinya sendiri. Dia malu karena ternyata dia bisa menunjukkan reaksi yang sangat tidak kalem untuk ukuran dirinya yang tidak pernah macam-macam. Kalaupun macam-macam, itu hanya dilakukan dengan Nusa.
"Aku nggak menggoda kamu. Aku sedang bercinta dengan kamu."
Dalam kondisi seperti ini, Nora tidak tahu arah mana yang harus dia ambil untuk mencondongkan tubuhnya sendiri. Ke depan? Dia hanya akan semakin menekan bokongnya pada kemaluan Nusa. Ke belakang? Dia bisa melihat dengan jelas ekspresi dan bentuk tubuh mereka yang saling menyatu di depan cermin. Sungguh serba salah sekali situasi Nora saat ini.
Belum sempat Nora memutuskan, dagunya sudah lebih dulu ditekan oleh Nusa agar tidak pergi kemana-mana. Kepalanya bersandar di bahu sang suami, dan Nora bisa merasakan sesuatu yang tidak biasa untuk dirinya sendiri.
Memejamkan mata rasanya adalah salah satu pilihan untuk tetap tenang. Namun, saat dia memejamkan mata, tangan Nusa yang bergerak di bawah sana membuat Nora bisa merasakan dengan lebih jelas. Tanpa bisa menahannya, Nora mengeluarkan suara yang sangat jelas akan desahannya sendiri. Matanya terbuka, begitu juga mulutnya. Dia tanpa sengaja menangkap bayangannya sendiri dan secara otomatis berpegangan pada suaminya yang berdiri tegak tidak terganggu sama sekali. Persis seperti kejantanan pria itu yang juga sama tegaknya dan mengganggu Nora di bagian belakang.
"Sa ... ehm ... aku nggak mau main berdiri."
Nora sedang berusaha dengan peruntungannya sendiri. Dia tidak mau berdiri terlalu lama untuk melihat dirinya sendiri dijamah dan bahkan menunjukkan reaksi penuh kenikmatan di depan cermin. Meski ini dilakukan bersama suaminya, Nora tetap malu.
"Ya, nanti."
Nora yang mendengar itu berusaha untuk menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau nanti, dia mau segera. Jika tidak, dia akan ...
"Ahh! Nusa! Danusa!"
Nora merasakan tubuhnya begitu semangat untuk mengeluarkan orgasme pertamanya hanya dengan jemari suaminya saja. Wajah penuh nafsu itu terekam jelas di matanya dan juga di mata Nusa yang tersenyum bangga dan mengecupi pipi perempuan itu.
"Sekarang! Aku nggak mau berdiri!"
Nusa masih bisa tertawa dan mengangguk. Dia menggendong Nora dengan gaya pengantin dan membawa mereka untuk merebahkan diri di atas ranjang.
Nora mengatur ritme napasnya dan berusaha untuk melihat apa yang dilakukan suaminya lagi karena terdapat jeda yang bisa dibilang lama heningnya.
"Sa? Kamu ..."
Nora tidak sempat untuk memprotes apa pun karena mendapatkan pelayanan yang sangat baik saat ini. Dia mendapati Nusa yang menunduk dan memposisikan wajahnya di kewanitaan Nora. Segala hal yang sifatnya mengejutkan akan kalah jika disandingkan dengan Nusa. Pria itu memang memiliki kemampuan untuk mengejutkan Nora.
"Kamu nggak suk?" tanya Nusa saat sudah beberapa kali menjalankan lidah dan bibirnya di bawah sana.
"Memangnya aku ada protes?" Nora membalas dengan cepat agar napasnya tidak tersendat-sendat akibat desahannya.
Dia biarkan Nusa beraktivitas di sana, dan Nora nikmati segalanya yang Nusa berikan. Suasana hati yang semula agak menjengkelkan bagi Nora akhirnya bisa menghilang dengan percintaan mereka. Semoga saja efek dari bercinta ini juga bisa membuat Nusa tidak rungsing saat besok makan malam bersama keluarga pria itu.