They voyage to distant lands that we called;home.
|Danusa Roedjati.|
|Roedjati series #2|
Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
{Yang mau baca duluan chapter 11 full, sudah aku upload di Karyakarsa FreelancerAuthor, ya. Happy reading semuanya!}
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Daniyara duduk di kursi santai sembari menikmati suasana pagi di pekarangan rumahnya. Di sisinya, Djati dan Roemaga menemani. Wanita itu memberikan waktu untuk bicara bagi anak-anaknya. Lebih tepatnya, mewanti-wanti kedua anaknya selain Danusa untuk menjadikan permasalahan saudara mereka itu sebagai pembelajaran yang penting.
“Djati, jangan mengulangi kesalahan. Meskipun kamu awalnya menikah tanpa cinta dengan istri kamu, jangan sampai kamu mempermalukan keluarga.”
Djati memutar jemarinya di pinggir gelas teh mahal yang menjadi kesayangan bagi mama mereka itu. Permasalahan Djati juga bukan hal main-main, Daniyara selalu memantaunya melalui orang dalam yang sudah wanita itu percaya. Namun, mengawasi Djati tidak serumit Danusa yang sangat sulit diatur, karena mungkin Danusa adalah anak tengah.
“Mama nggak akan pernah kelewatan satu pun perkembangan apa pun di hubunganku dan Anjani. Mama tenang aja, aku nggak kekanakan seperti Danusa. Aku selalu tahu gimana caranya mengendalikan diri sendiri.”
Daniyara menoleh pada putra pertamanya itu. Mengamati Djati dari samping dan secara perlahan meminum tehnya dengan menebak-nebak kejutan apa yang nantinya akan Djati suguhkan. Sebab, tidak mungkin Daniyara akan tetap tenang mengurus ketiga anak laki-lakinya. Jangankan anak laki-laki, bahkan Swara yang berada di luar negeri saja tidak bisa diatur. Anak perempuannya satu-satunya itu benar-benar sedang kabur dengan dalih melanjutkan pendidikan di luar negeri. Namun, lupakan dulu Swara yang juga dijaga oleh ketiga kakaknya, sekarang Daniyara harus fokus pada anak-anaknya yang ada di negara yang sama dengannya.
“Jadi, kenapa nggak ada perkembangan mengenai cucu Mama? Kalo memang menurut kamu Mama hanya perlu tenang, sebagai anak pertama, kamu harusnya bisa memberikan sinyal-sinyal kehamilan Anjani. Iya, kan?”
Djati memberikan tatapan balasan pada Daniyara. “Aku bilang mama tenang aja, bukan berarti Mama bisa menekanku dan Anjani untuk menjadi mesin pencetak anak. Kita hidup di zaman yang berbeda dari zaman Mama dan Papa hidup. Anak dariku bukan segalanya.”
Daniyara menganggukkan kepalanya dan sekali lagi menyesap tehnya dengan cara yang sangat anggun.
“Kalo bukan dari kamu, apakah dari Roe?”
Roemaga langsung terbatuk-batuk dengan kalimat jebakan yang dilemparkan mamanya begitu tiba-tiba. Dia sangat terkejut karena ucapan itu seolah menelanjangi rahasia yang dia simpan rapat-rapat.
“Kenapa Mama tiba-tiba menuntut cucu ke aku? Yang baru nikah itu Danusa!”
“Mama nggak berharap banyak dari hubungan Danusa dan Elnora. Mereka memiliki masalah yang suatu saat akan menjadi bom waktu. Mama nggak tahu apakah pada saat bom itu meledak, mereka akan tetap sama-sama atau nggak.”
“Kalo mereka pada akhirnya cerai, dan kebetulan ada anak yang lahir dalam pernikahan mereka, nggak akan ada bedanya bagi anak yang dilahirkan itu. Anak mereka tetap cucu Mama. Case closed. Mama dan Papa mendapatkan cucu walaupun cucu kalian orangtuanya nantinya pisah.” Roemaga dengan mudahnya berkata demikian.
“Kenapa mudah sekali kamu membahas perceraian? Apa kamu memang suka memudahkan pernikahan dan perceraian, Roemaga?” ucap Djati.
Sekali lagi Roemaga digempur dengan pertanyaan jebakan yang sepertinya memang sudah diendus oleh mama dan kakaknya. Namun, selama keduanya tidak ikut campur akan urusannya, maka semuanya akan baik-baik saja.
“Menikah, berpisah, menemukan pasangan lagi. Semua itu bukanlah masalah. Tidak ada yang long last forever dalam hidup manusia. Kehilangan, kepergian, kekecewaan, semua itu adalah bagian dari hidup. Cuma keluarga Roedjati yang sepertinya selalu menuntut kesempurnaan, padahal pada akhirnya akan kalah juga dengan hal-hal nggak sempurna yang diciptakan masing-masing anaknya.”
Daniyara dan Djati kompak untuk mendengkus setelah mendengar kalimat Roemaga yang begitu dewasa. Mereka kembali terdiam dan menatap ke depan untuk mendapatkan ketenangan pagi ini. Pembicaraan ini sebenarnya berfungsi untuk menjaga hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya saja. Meski terkesan sangat kaku, karena yang dibahas adalah jangan membuat masalah dan mempermalukan keluarga tapi ketiganya tahu maksud dari peringatan Daniyara memang ada benarnya. Setiap keputusan mereka akan dilihat oleh pihak lain, dan akan mempengaruhi keluarga Roedjati. Jadi, mereka harus tahu diri untuk tidak mengacaukan lebih banyak hal lagi.
Saat mereka sedang asyik duduk dan menikmati pagi bertiga. Orang yang menjadi contoh kasus yang Daniyara bahas sudah berjalan di lorong rumah dengan membawa barang-barang yang sudah pasti mengindikasikan mereka akan pergi dari rumah itu.
“Lihatlah betapa kacaunya sopan santun Danusa Roedjati itu. Entah apa yang ada di kepalanya sampai buru-buru membawa istrinya pergi dari sini, bahkan tanpa izin untuk keluar dari sini sama sekali. Setelah kita membiarkannya menikahi Elnora tanpa hambatan, dia masih aja nggak bisa percaya bahwa kita bisa menjaga rahasia sampai rahasia itu muncul ke permukaan dan menyakitinya sendiri.” Daniyara berucap dengan tetap tenang.
“Apa perlu aku tegur dia?” tanya Djati.
“Nggak perlu. Kamu hanya perlu fokus ke rumah tangga kamu sendiri sekarang, Djati. Ingat, pernikahan kamu juga masih Mama ragukan. Biarkan urusan Nusa menjadi masalahnya sendiri. Kita lihat, sejauh apa dia bersikap bodoh dan gegabah.”