Voyage : 8.3

263 29 1
                                        

Nora marah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nora marah.

Tidak ada yang bisa Nusa lakukan dengan baik karena istrinya yang memberikan jarak dan mendiamkannya. Baru diperlakukan begini saja Nusa sudah bingung. Apalagi jika nanti Nora mengingat segalanya? Nusa mungkin bisa gila. Namun, sebelum menjadi gila, Nusa harus mengatasi segalanya.

Melihat punggung istrinya saja yang menghadap padanya, Nusa berusaha menggunakan kesempatan untuk memeluk dari belakang sebaik mungkin. Meminta maaf bukan hal yang sulit, yang justru sulit adalah ketika pasangan kita bertanya hal mana yang salah hingga kita meminta maaf.

"Aku nggak bermaksud membuat kamu menjadi perempuan yang aku kekang, Ra. Aku hanya berusaha menjaga kamu sebaik mungkin. Kamu mungkin nggak tahu bahwa aku yang melihat kamu kecelakaan waktu itu ... terlalu takut melihat yang semacam itu lagi terjadi. Aku berusaha untuk menekan ketakutan itu. Meski pada nyatanya sulit sekali. Kalo kesannya aku mengekang dan jadi terlihat posesif ke kamu, suka ngatur-ngatur semua yang ingin kamu lakukan, aku sungguh-sungguh minta maaf."

Nusa tidak sepenuhnya berbohong pada Nora. Dia memang memiliki ketakutan akan terjadi hal buruk pada istrinya itu, tapi hal yang paling besar yang mendasarinya menjadi begitu mengekang kebebasan Nora adalah agar tidak ada faktor-faktor dari luar yang membuat perempuan itu mengingat apa pun. Jahat? Begitulah Nusa sedari awal.

"Nora ... aku mohon. Bicara sama aku."

Ada helaan napas yang membuat Nusa yakin bahwa Nora pasti mengalah lagi. Dan memang betul. Perempuan ini tidak akan pernah bisa mendorong Nusa menjauh. Tidak dulu, dan sekarang. Selalu nama Nusa yang akan lebih dulu dipentingkan oleh Nora. Tentu saja itu adalah kemenangan bagi Nusa. Dia tidak pernah kehilangan ruang dimana Nora akan selalu mencintainya, dan cinta itu tidak akan pernah bisa membuat Nora pergi jauh darinya. Ya, memang selalu begitu yang terjadi sejauh ini.

"Jangan lakuin hal-hal semacam itu lagi, Sa. Aku nggak bisa telorir sikap kamu yang mengekang aku terus menerus."

"Apa yang akan terjadi kalo kamu nggak bisa mentolerir sikapku itu?" tanya Nusa dengan perasaan cemas.

Nora sekali lagi menghela napasnya sebelum menjawab, "Aku nggak tahu apa yang akan aku lakukan. Tapi aku tahu, aku punya kehidupan untuk diriku sendiri. Nggak semua hal harus selalu tentang kamu, Sa. Aku butuh ruang untuk diriku sendiri. Aku juga manusia, bukan boneka yang harus selalu menjadi penghibur kamu setiap saat kamu butuh."

Nusa menelan ludahnya dengan susah payah. Dia terkejut karena Nora bisa mengeluarkan kalimat semacam itu. Jika Nora bisa berkata demikian, mungkin perempuan itu sudah menyimpannya dengan apik di alam bawah tidak sadarnya dan baru berani untuk mengeluarkannya sekarang.

"Kamu nggak akan ninggalin aku, kan, Ra?"

Nusa sedang melakukan 'judi' atas nasibnya sendiri berdasarkan jawaban yang akan dikeluarkan oleh Nora. Jika segalanya berjalan sesuai prediksi—bahwa Nora tidak akan bisa meninggalkannya—maka Nusa tidak akan berada dalam kondisi yang buruk. Namun, jika ternyata kebalikannya ... apa yang bisa Nusa lakukan?

"Nggak usah bahas yang aneh-aneh. Aku udah bilang, jangan lakuin kayak gitu. Ketakutan kamu itu, itulah yang mengekang aku. Jangan bikin aku beneran marah, Sa."

Nusa langsung memeluk istrinya itu dan membenamkan wajah di dada Nora. Dia tidak ingin kehilangan perempuan itu apa pun alasannya.

***

"Nggak, nggak. Ngapain, sih, ada makan malam segala?!" sahut Danusa dengan kesal di sambungan telepon.

Nora yang baru saja pulang kerja menatap suaminya dengan bingung. Kenapa Nusa harus marah-marah seperti itu hanya untuk 'makam malam'? Iya, kan? Nora tidak salah mendengar dengan kata makan malam, kok. Dan dia bisa menebak makan malam mana yang membuat suaminya itu kesal.

"Kayak apaan aja gitu kesannya, Mas. Orang pada bisa makan malam masing-masing, kan? Dana buat makan malam nggak mahal—"

Nora mengusap bahu hingga dada suaminya. Dia berusaha untuk tidak menginterupsi melalui ucapan. Melainkan memberikan ketenangan pada Nusa melalui sentuhan fisik yang memang ampuh sekali untuk dia gunakan.

"Sebentar," ucap Nusa pada sang istri.

Nora mengangguk, tapi dia tetap berusaha untuk menciumi pipi Nusa. Mengaburkan konsentrasi pria itu agar tidak sepenuhnya konsentrasi pada penolakan ajakan makan malam yang sudah pasti berasal dari Djati.

"Nggak. Pokoknya Mas Djati jangan paksa—"

"Kenapa Mas Djati?" bisik Nora.

Nusa menjauhkan ponselnya dan sekali berkata, "Sebentar, Sayang. Ini Mas Djati maksa buat makan malam besok."

"Oh, oke."

"Oke?"

"Iya. Oke. Aku bisa, kok. Aku belum ada kerjaan yang terlalu gimana-gimana. Mumpung masih jadi anak baru, aku nggak sibuk-sibuk amat. Besok jam berapa?"

Nora tidak ingin suaminya semakin menjauh dari keluarga pria itu. Mempengaruhi Nusa untuk mau berkumpul dengan keluarganya adalah hal yang menyenangkan.

"Tapi—"

"Nanti kasih tahu aku jamnya dan lainnya. Aku mandi dulu, ya. Aku tunggu di kamar."

Harus ada hadiah untuk membuat Nusa tidak merasa dirugikan atas paksaan berkumpul bersama keluarganya.

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang