"Gimana rasanya?" tanya Anjani.
Nora menoleh pada istri Djati itu. Pertanyaannya tidak lengkap, makanya Nora bertanya balik. "Rasanya apa?"
"Hamil dan akan menjadi janda. You'll get new circumstances in your life, but at the same time, you'll lose another thing."
"Aku nggak kehilangan apa pun selain status yang nggak diberikan ketika diriku bersedia dengan sendirinya."
Anjani menarik napas dalam dan menatap Nora dengan tidak percaya. Gelengan perempuan itu juga membuat Nora tertawa, sebab Anjani tidak mengerti apa yang Nora putuskan.
"Kamu sama gilanya dengan Danusa."
"Jadi, Mbak Anjani tahu kalo Nusa gila?"
"Hm. Lagi pula, anak-anak di keluarga Roedjati mana yang nggak gila?" Anjani menjawab dengan gemas.
"Mas Djati nggak gila, deh, kayaknya."
Anjani memundurkan lehernya. "Kayaknya! Orang lain, yang bukan istrinya, nggak akan tahu dia gilanya dalam segi apa. Dia memang keliatan datar aja dari luar, justru disitu letak nggak normalnya dia." Anjani mengawang saat melanjutkan kalimatnya. Seolah otak perempuan itu sedang berada di kehidupan yang lain. "Disitulah letak gilanya dia. Dia selalu datar dengan semua hal yang datang. Dia nggak menunjukkan emosinya. Dia menerima segalanya. Dia sangat gila."
Nora tidak mengerti kegilaan seperti apa yang sedang Anjani bayangkan mengenai Djati. Namun, dia memilih mendengarkan saja. Sama seperti yang dilakukannya bersama Daniyara setiap wanita itu mengutarakan cerita mereka sendiri yang tidak ingin dikuak secara terbuka kepada Nora.
"Kalo gitu kita memang perempuan-perempuan gila yang datang dalam kehidupan Roedjati, Mbak."
Anjani menoleh dengan cepat atas balasan Nora itu. "I'm not crazy!"
Nora tertawa kembali. "Denial adalah hal yang selalu dilakukan manusia ketika ego mereka tersentil, Mbak. Nggak apa-apa, sih dilakukan. Tapi jangan keseringan juga."
Anjani melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang wajah tak suka. Ya, begitulah watak asli istri Djati itu. Mungkin karena terlalu sering dimanjakan, makanya sikapnya jauh dari kata 'matang', meski secara usia jelas jauh dari Nora. Memang kalau dipikir lagi, Daniyara menjodohkan Djati dengan Anjani itu ada benarnya. Djati yang tidak mudah bereaksi dan Anjani yang selalu kesulitan menutupi reaksi adalah dua sejoli yang saling mengisi.
"Memang Mbak dan Mas Djati itu cocok, saling mengisi."
"Apanya yang saling mengisi. Yang ada aku capek sama sikapnya yang nggak ekspresif itu!"
"Itu alasannya kalian masih belum memutuskan untuk punya anak, Mbak?"
Kali ini Anjani mematung. Nora bisa merasakan bahwa dia sudah keterlaluan menyampaikan pertanyaan. Harusnya dia tidak ikut campur dalam urusan momongan pasangan itu. Toh, Nora juga bukan sosok bude-bude yang suka mengorek kehidupan pribadi orang lain.
"Mbak, maaf. Aku nggak bermaksud jadi julit. Aku tadi cuma kepikiran, maaf karena nggak menyaringnya lebih dulu."
"Nggak apa-apa. Pertanyaan kamu nggak sekasar itu. Tapi untuk anak ... aku rasa untuk kondisi kami, itu nggak cocok."
Nora berusaha untuk mengangguk saja tanpa membahas mengenai 'ketidakcocokan' yang dimaksud oleh Anjani.
"Tapi, Nora ..."
"Ya?"
"Apa sesakit itu mencintai Danusa sampai kamu harus melepaskannya?"
"Yang sakit itu bukan cintanya, tapi menyadari kalo selama ini aku terlalu mencintai Nusa tanpa mencintai diriku sendiri lebih dulu. Itu menyakitiku. Menempatkan orang lain diatas diri sendiri, itu yang menyakitkan, Mbak. Aku udah bahas ini sama Mama, dan, ya, Mama juga punya pemikiran bahwa kalo dia hidup di zaman yang sama denganku, dia pasti punya pilihan yang sama."
"Mama? Dia bilang gitu? Dia nyesel nikah sama dalangnya Roedjati, dong?"
"Ssttt, Mbak!" Nora mengamati sekitar mereka yang untungnya tidak ada orang lain selain mereka.
"Halah, udah, deh. Nggak usah sungkan gosipin mertua sendiri. Kita ini udah bagian dari keluarga mereka. Lagi pula, kalo Papa Roedjati dengar pun dia nggak akan bereaksi apa pun. Dia mirip kayak Djati, malah bisa kubilang lebih parah. Kakunya udah kayak besi yang dibiarin di udara dingin bersalju sampai lapisan dalamnya yang udah kaku makin kaku karena beku."
Bisa Nora setujui bagian itu. Suami dari Daniyara itu hampir tidak pernah berkata apa pun ketika mereka sedang bersama. Di meja makan selalu hening, pria itu berkeliaran di rumah pun jarang. Nora hampir tidak pernah berinteraksi dengan mertua laki-lakinya itu. Ketika menikahkan anaknya pun, pria bernama Roedjati itu seperti tidak peduli.
"Mereka pasti nggak saling cinta," ucap Nora.
"Emm, bukan, bukan! Itu salah. Lebih tepatnya, Mama Daniyara cinta sendirian."
"Hm? Kalo cinta, kenapa Mama malah kayak nggak peduli sama suaminya? Juga kepikiran untuk pisah kalo seandainya zaman kita sama."
"Dia nggak punya pilihan yang lebih bagus. Kamu pikir, aku dan yang sejenis Mama Daniyara itu lebih bahagia? Nggak. Kamu memang dari kalangan ekonomi bawah, tapi kamu nggak akan mengerti betapa terpaksa ya kami menerima pasangan yang disodorkan ke kita. Diiming-imingi bahwa pria itu unggul, tapi ternyata unggulnya hanya di segi berbisnis. Untuk pernikahan? Hambar!"
Ya, begitulah hidup. Tidak ada yang sempurna. Selalu ada bagian tidak mengenakkan. Selalu saja rumput tetangga lebih hijau di mata kita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomansaThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
