Mendapati istrinya yang sedang termenung sendiri, membuat Nusa tidak tega.
"Kamu bosen?"
"Eh, kamu udah pulang?" balas Nora.
Nusa memeluk sang istri dan mengecup bibir Nora. Tidak hanya kecupan singkat, Nusa bahkan mengangkat dagu wanita itu dan melumat lebih dalam. Untungnya Nora tidak terkejut sama sekali dengan gerakan tiba-tiba yang suaminya lakukan. Justru sebuah senyuman kecil yang tertahan Nusa dapati dari sang istri.
"Kenapa kamu senyum?" tanya Nusa dengan kernyitan di dahi seusai ciuman mereka.
"Aku bosen karena nggak ada kamu. Belakangan ini, kamu nggak keliatan sibuk sama kerjaan kamu. Jadi, aku agak ngerasa kehilangan tanpa kamu di rumah."
Bagi Nusa, pernyataan kehilangan itu sangatlah berarti. Ada bayangan bagaimana Nora yang yang dulu sebelum kecelakaan sudah kehilangan sosok Nusa. Lalu, sekarang pria itu juga sadar bahwa dia kehilangan kesempatan untuk menebus kesalahan pada Nora dan calon anak mereka yang kini telah tiada.
"Apa itu serius? Sangat serius?" tanya Nusa.
Seketika saja wajah Nusa menunjukkan rasa cemas yang tidak bisa Nora tangkap alasannya. Kecemasan yang tidak biasa membuat Nora malah menjadi kelimpungan untuk menghadapi suaminya sendiri.
"Hm?"
"Aku perlu di rumah setiap saat? Kalo itu bisa membuat kamu tenang dan nggak merasa kehilangan—"
"Bukan. Bukan begitu. Itu bukan maksudku, Nusa. Jangan mencemaskan apa pun. Aku cuma butuh kegiatan yang bisa bikin aku nggak merasa bosan dan sendirian selama kamu kerja."
Nusa seketika saja bisa merasakan paru-parunya terisi dengan udara dan secara perlahan dia merasakan ketenangan. Meski belum bisa sepenuhnya tenang jika belum ada informasi bahwa ingatan Nora akan selamanya terkubur di dalam memori lamanya yang telah rusak.
"Astaga. Maaf mengatakan hal yang ngaco. Aku pikir kamu benar-benar merasa kehilangan dengan aku yang bekerja."
Nora menggeleng pelan dan menangkup wajah sang suami. "Aku juga nggak mau punya suami pengangguran, Sa. Kerja adalah hal yang penting."
"Elnora, jangan lupakan fakta bahwa aku keturunan Roedjati. Harta papaku nggak akan habis—"
"Jangan suka sombong. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya."
Nora mengeratkan tangannya pada pundak sang suami dan tiba-tiba saja meloncat untuk melingkarkan kakinya di pinggang Nusa. Tentu saja, jika pria itu tidak menangkap bokong Nora, maka segalanya akan berbeda.
"Sekarang ... bisa mulai temani aku untuk mandi dan melakukan kegiatan menjelang malam suamiku?"
***
Nora menutup bibirnya dengan satu tangan yang terbebas. Sebab tangannya yang lain sibuk untuk menahan sebelah kakinya untuk naik dan mempersilakan Nusa melakukan dorongan sedalam yang pria itu inginkan.
Meja rias yang memang barang-barangnya disimpan di bawah laci di bagian dalam memberikan kesempatan untuk keduanya bisa menikmati sesi bercinta yang luar biasa.
Jika begini, rasanya percuma mereka menghabiskan waktu mandi bersama tadi sambil membersihkan tubuh satu sama lain tanpa melakukannya. Sebab keringat keduanya kembali deras membanjiri wajah dan tubuh mereka. Walaupun hal ini sudah bisa dibaca oleh keduanya akan terjadi, tetap saja ada bagian mengeluh nantinya mengenai kenapa mereka harus mandi jika bisa nanti setelah seks selesai?
"Nusa ... hummm, pelan."
Nora suka sekali untuk memberi pengertian pada suaminya agar bergerak dengan pelan. Namun, gerakan pinggul wanita itu yang sengaja ditambahkan ketika Nusa benar-benar pelan malah membuat sang pria bisa membaca perintah yang berbeda yang diinginkan antara mulut dan tubuh Nora sendiri.
Nusa tersenyum dengan penuh arti dan menekan dada kiri istrinya. Dia bergumam, "Stupid."
Bukan karena Nora memang bodoh, tapi karena efek dari penyatuan tubuh mereka berdua lah yang membuat wanita itu menjadi bodoh. Bodoh untuk bicara seperti biasanya. Bodoh untuk menyatakan apa yang tubuhnya mau. Semuanya serba bodoh. Cinta dan bercinta memang mampu membuat seseorang yang semula biasa-biasa saja menjadi berbeda. Dan yang lebih bodoh, Nusa tidak menyadari hal menggemaskan ini sebelumnya.
Saat masih berstatus menjadi sahabat dekat saja, Nusa hanya melihat Nora sebagai perempuan yang bisa memberikannya kepuasan secara biologis. Perasaan Nusa tertutup karena Nora yang memang begitu pasif. Penampilan Nora juga terhitung biasa saja. Berbeda dengan Geografi yang memang unik. Nusa merasa bahwa model androgini itu spesial seperti diri Nusa sendiri yang berbeda dari kedua saudaranya. Sikap cuek dan jual mahal Afi yang Nusa kira hanya untuk menarik magnet padanya, nyatanya adalah sikap jujur. Afi memiliki ketertarikan pada pria lain yang tidak bisa melihat keunikan Afi itu sendiri.
Ya, begitulah. Terkadang gajah di pelupuk mata tidak akan terlihat oleh diri kita. Dalam kasus Nusa, dia baru melihat gajah itu ketika sudah ditimpa oleh beban gajah tersebut hingga sesak dan tidak bisa merasakan dirinya baik-baik saja.
"Nusa, akh! Stop. Berhenti. Akh, Nusa. Aku nggak tahan. Please, aku mau ..."
Nusa mempercepat gerakannya untuk mengocok bagian dalam tubuh istrinya. Dia bisa mendapati ledakan orgasme pada Nora hingga wanita itu tidak bisa diam dan menepuk dada sang pria dengan gelisah. Meski begitu, Nusa tidak berhenti. Dia terus bergerak hingga dia merasakan sesuatu yang luar biasa juga menyerbunya dan membawanya merasakan klimaks yang setara dengan istrinya.
Dengan ini agenda memenuhi dan menghangatkan rahim Nora berjalan dengan baik. Misi selesai malam ini, dan Nusa akan melakukan misi lainnya untuk membuat istrinya mengandung buah cinta mereka lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
