Voyage : 10.2

334 35 0
                                        

Semakin besar usia kandungannya, semakin Nora tidak bisa berhenti mendapatkan sekilas ingatan yang datang secara rutin belakangan ini. Jika mulanya Nora akan panik, sekarang ini tidak berusaha menolak kehadiran ingatannya itu. Ingatannya tidak boleh membuatnya semakin stres, apalagi dengan kondisi yang sedang hamil. Lebih pentingnya, Nora membutuhkan ingatannya untuk digali lebih dalam karena itu berguna bagi suatu hal. Hal yang berkaitan dengan bukti yang ditemukannya di ruang kerja Nusa.

Ya, file di komputer kerja Nusa adalah bukti bahwa memang benar informasi yang diberikan oleh Dego. Rupanya memang bukan hanya di email Nora saja, tapi Nusa masih menyimpan foto-foto model androgini itu di komputer kerjanya berikut dengan kode tanggal lahir suaminya itu.

Nora tidak tahu seberapa besar rasa yang Nusa miliki untuk Geografi sampai terus menyimpan foto model tersebut. Untuk beberapa alasan, Nora cemburu, tapi dia tahu bahwa Geografi tidak memiliki rasa yang sama untuk Nusa. Model itu juga sudah pindah dari Indonesia. Nora tidak perlu panik dan cemburu berlebihan.

Terdengar bunyi air yang turun dari langit dan membuat Nora segera menutup jendela. Nusa bilang akan pulang agak malam. Kemungkinan besar Nora akan tidur duluan tanpa menunggu suaminya yang bekerja.

"Mama males bikin susu, kita makan apel aja ya? Kan, sama-sama sehat."

Nora mengajak bicara bayi di perutnya dan bergerak menuju dapur untuk menyiapkan cemilan berupa buah. Tidak ada makanan sejenis sosis, nugget, mie instan di rumah. Nusa sangat ketat mengawasi makanan yang akan Nora konsumsi. Bukan hanya karena meminimalisir kandungan gula dan garamnya, tapi juga untuk memastikan berat badan Nora tidak melesat terlalu jauh. Iya, benar. Meski kehamilan seringnya membuat perempuan makan secara berlebihan, itu tidak dilakukan Nora. Berat badan juga penting untuk diperkirakan. Karena berpengaruh pada kesehatan Nora sendiri juga.

Kembali ke kamar dengan mangkuk dan gelasnya, Nora mendapati ponselnya berbunyi. Panggilan dari Nusa masuk dan segera dia jawab.

"Halo."

"Udah minum susunya, Sayang?"

Nora meringis dengan pertanyaan itu. Dia sudah santai-santai ingin absen dari jadwal tersebut karena Nusa tidak ada. Malah mendapatkan telepon dari suaminya itu.

"Oh ... udah."

"Kenapa nggak yakin gitu jawabnya? Bohong, ya?"

"Ini ... baru mau bikin."

"Duh, susah emang kalo aku nggak ngurusin sendiri. Yaudah, aku pulang lebih cepet aja. Aku khawatir kamu langsung tidur tanpa ritual sebelum tidur kayak biasanya."

"Hah? Udah, kamu kerja aja. Iya, iya, aku bikin. Aku minum susunya, deh. Kamu tenang aja."

"Bener?"

"Iyaaa."

"Janji?"

"Iyaaa, Nusa."

"Papa, bukan Nusa."

"Hm? Papa, kan, panggilan anak kita nanti buat kamu. Aku nggak mau panggil kamu Papa. Nanti aku dikira anak kamu lagi."

"Apa-apaan, Elnora? Emangnya siapa yang bakal ngira kamu anakku??? Muka kamu nggak se-anak-anak itu."

"Oh, jadi muka aku ini muka tua?"

Nora sengaja menggoda suaminya agar melupakan pembahasan susu kehamilan.

"Ya, nggak. Kamu nggak tua. Kamu cantik, tapi orang juga tahu aku nggak nikahin anak-anak di bawah umur."

"Emang aku bukan anak-anak. Aku, kan, cuma bilang kalo aku panggil kamu Papa, nanti aku dikira anakmu!"

"Iya, nggak gitu Sayang. Maksudku, panggilan Papa itu nggak selalu anak ke papanya—"

"Udahlah! Aku males sama kamu, aku tutup teleponnya!"

Nora berhasil untuk menghentikan pembicaraan dengan suaminya dan langsung mengelus dada. Dia tidak perlu memberikan banyak alasan lagi kepada suaminya mengenai susu kehamilan. Begini sudah lebih baik.

Nora yang merasa aman memilih untuk berbaring di ranjang dan menyalakan televisi. Dia dengan tenang dan asyik menikmati waktu tanpa Nusa. Mulutnya mengunyah buah, dan tatapannya terarah pada tayangan yang disaksikan.

"Oh, ya ampun! Kenapa nggak saling komunikasi, sih?! Kenapa dia percaya omongan orang ketiga!?"

Nora gemas sendiri dengan kisah fiksi yang disaksikannya. Tanpa sadar bahwa seseorang sudah datang dan siap memberikan hukuman karena Nora menghindari jadwal minum susu kehamilannya.

"Jangan lupa susunya."

Nora menoleh dan mendapati suaminya sedang berdiri tanpa lupa membawa secangkir susu kehamilan.

"Nusa??"

"Iya, Sayang?"

"Kok, di rumah?"

"Karena aku tahu kamu nggak akan nurutin ucapanku. Jadi, aku pulang begitu kamu cari-cari alasan untuk berdebat dan nutup teleponku."

Nusa menyodorkan gelas susu tersebut kepada Nora yang langsung meringis. Namun, Nora tidak bisa pergi lagi dengan suaminya yang sudah berada di sana. Segelas susu kehamilan untuknya juga sudah ada di sana. Sungguh sangat luar biasa insting Nusa untuk membuat Nora mengonsumsi susu kehamilannya.

"Boleh diminum sekarang, kok, Sayang." Nusa masih menunggu agar gelas itu diambil sang istri.

"Hmmm! Aku minum!"

Senyuman Nusa muncul dan pria itu memberikan pelukan setelah Nora berhasil menghabiskan susunya. "Pinternya. Habis ini aku mandi, aku nina bobok in kamu. Oke."

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang