They voyage to distant lands that we called;home.
|Danusa Roedjati.|
|Roedjati series #2|
Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
[Haiii! Untuk yang mau baca duluan aku udah update chapter 14 lengkap di Karyakarsa freelancerauthor, ya. Satu chapter lagi kisah ini akan tamat. Nanti epilog dan Extra part cuma aku update di Karyakarsa sama ada di versi ebook aja, yups.]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memberikan izin untuk Nora bekerja bukanlah hal yang mudah bagi Nusa. Tentu saja karena dia takut di luaran sana banyak faktor yang bisa membuat Nora megigat kembali masa lalu mereka. Atau lebih parahnya, ada orang yang akan mengenali Nora dan memberikan penjelasan pada perempuan itu mengenai hubungan seperti apa yang mereka miliki. Jadi, satu-satunya cara adalah dengan memastikan perusahaan mana yang akan menjadi tempat kerja Nora. Juga Nusa memastikan bahwa perusahaan itu adalah bagian dari miliknya, agar dia bisa memantau siapa pun yang bicara dan bertemu Nora selama jam kerja.
"Ini aku bisa daftar kerja di sini?" tanya Nora.
Nusa memberikan brosur salah satu cabang perusahaannya yang tidak terlalu terkenal, juga tidak terlalu besar, untuk bisa menjadi tempat bagi Nora.
"Iya, kamu bisa daftar kerja disitu. Kualifikasinya nggak ribet, tuh, lihat aja."
Tentu saja kualifikasi yang diberikan adalah hasil dari pertimbangan Nusa sendiri. Dia hanya sedang mengakali istrinya, bukan membuat kebebasan untuk perempuan itu.
"Ini perusahaan jenis apa, ya? Aku nggak paham sama sistem kerjanya."
"Itu perusahaan yang bergerak di bidang jasa untuk konsumen yang butuh berbagai barang. Setahuku bisa barang yang furniture sama barang-barang yang lainnya juga. Kamu bisa tahu detailnya begitu kamu masuk kerja di sana."
Nusa menjelaskan dengan santai dan tidak terlihat kebingungan sama sekali. Meski dia menambahkan sedikit gestur dan kata-kata yang menunjukkan seolah dia tidak tahu menahu mengenai perusahaan tersebut.
Bisa Nusa lihat, istrinya itu tidak langsung merespon dengan senang brosur pencarian pegawai baru yang dibutuhkan. Ada sesuatu yang membuat Nora menahan diri dan tampak tidak yakin. Jika ada ekspresi seperti ini, maka Nusa merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dia takut jika Nora menyadari sesuatu, dan hal yang disadarinya itu berasal dari ingatannya yang terpendam.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang bikin kamu nggak sreg? Atau kamu mengurungkan niat untuk kerja?"
Nora menyangga dagunya dan tetap membaca seluruh ketentuan yang ada di lembar brosur tersebut. Dan dalam waktu yang menegangkan itu, Nusa hanya bisa menahan diri untuk tidak meledak begitu saja.
"Menurut kamu aneh nggak, sih, Sa?" ucap Nora.
"Aneh? Aneh apanya?"
Nora menggunakan telunjuknya untuk memberi poin pada setiap persyaratan yang tertulis di sana. Dia membacakannya kembali, mengira Nusa tidak mengingatnya dengan detail apa saja persyaratan dari penerimaan pegawai baru itu.
"Usia maksimal 30 tahun, pengalaman bekerja dengan tim, pendidikan terakhir minimal S1 jurusan ilmu komunikasi, diutamakan yang berdomisili di dekat kantor. Persyaratannya ... kenapa kayak udah di-setting buat aku? Aneh banget."
Nusa berpura-pura mengambil brosur tersebut dan membacanya lagi. Dia mengerutkan dahi dan membalas ucapan istrinya itu. "Mana ada, Ra? Ini syaratnya normal aja. Di dunia ini banyak yang bisa memenuhi persyaratan begini, nggak cuma kamu."
Nusa masih bisa melihat bagaimana istrinya tidak teryakinkan sama sekali dengan apa yang pria itu sampaikan. Malah yang ada Nora terus menelurkan observasinya pada brosur tersebut.
"Jurusan S1 ilmu komunikasi, itu memang jurusanku. Oke, kalo kamu bilag banyak yang lulusan itu. Tapi gimana soal domisili yang dekat dengan kantor itu. Kalo aku cek di maps, kantor itu sama tempat tinggal kita sekarang memang nggak jauh. Justru terbilang deket. Apa kamu nggak ngeri? Bisa aja yang punya perusahaan itu maniak dan diam-diam udah mata-matain aku. Dia mau aku kerja disana untuk jadi korbannya. Apa kamu nggak takut kalo aku, sebagai istrimu, digodain dan bahkan dijadiin bahan obsesi orang lain?"
Pemikiran yang terlalu jauh itu membuat Nusa tertawa. Jelas dia tertawa, karena mengingat bahwa pemilik dari perusahaan itu adalah Nusa sendiri. Jelas dia tidak akan melakukan hal gila kepada Nora. Tapi disisi lain juga dia merasa tersentil, secara tidak sadar Nora sudah menilai bahwa Nusa adalah seorang maniak yang terobsesi pada perempuan itu sampai menargetkan Nora untuk bekerja di sana.
"Kalo menurut kamu tebakan kamu seperti itu, terus kamu mau kerja dimana?" ucap Nusa pada akhirnya.
"Aku mau cari sendiri. Biar aku yang cari kriteria perusahaan yang aku mau, Sa. Kamu nggak perlu ribet cariin aku pekerjaan, Sa. Aku bisa mencarinya sendiri, kamu bisa fokus mengerjakan tugas kamu sendiri."
Itu penolakan yang sangat halus. Sampai Nusa tidak bisa memberikan bujukan lain. Jika dia terlalu memaksakan kehendak, maka Nora akan semakin curiga dan Nusa akan menjadi pria yang tidak akan dipercaya oleh Nora lagi jika itu terjadi. Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah membiarkan saja apa pun rencana yang Nora ambil. Meski risikonya dia akan terus cemas untuk ingatan Nora yang entah akan muncul atau tidak.