Voyage : 11.1

288 30 1
                                        

[Haaaiii! Aku udah resmi upload extra part 5 di Karyakarsa FreelancerAuthor, ya. Jangan lupa baca karyaku yang lain, yup!]

Nora meletakkan gelas ke kitchen sink dengan sikap waspada

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nora meletakkan gelas ke kitchen sink dengan sikap waspada. Ya, bagaimana dia tidak waspada jika hampir setiap saatnya Nusa selalu mengawasinya? Nora berusaha sangat keras untuk membatasi pertemuan dengan pria itu. Sebisa mungkin dia tidak mau menyapa apalagi bicara dengan suaminya itu. Sebab Nora tahu dia akan dengan mudah mengubah keputusannya hanya dengan menatap mata Nusa. Ah, jangankan menatap matanya, baru melihat wajah saja sudah dipastikan Nora melemah dalam sekali jentik.

"Susunya sudah habis?"

"ASTAGA!"

Nora menahan perutnya yang memang sering membuat oleng karena menampung berat bayi di dalamnya. Bukan lagi memegangi jantung yang berdebar karena terkejut, tapi yang utama bagi Nora adalah memegangi perutnya agar tidak terjatuh. Padahal, jika tubuh Nora jatuh maka perutnya juga akan ikut. Benar-benar insting seorang ibu untuk anaknya tidak menderita atau sakit sangatlah tinggi.

"Hai, Elnora." Nusa menyapa.

Sapaan itu menjadi kalimat tambahan yang tidak membantu untuk menenangkan Nora sama sekali. Justru dia malah semakin menatap Nusa dengan cemas. Jika diingat-ingat, Nora sama sekali tidak mendengar langkah kaki pria itu.

"Kamu dari kapan berdiri di belakangku?" tanya Nora.

"Hm ... aku nggak menghitungnya. Yang jelas kamu disini, aku ikut mengawasi aja."

"Mengawasi? Apa yang perlu kamu awasi?"

"Kamu yang nggak terjatuh atau apa pun itu. Segala kemungkinan bisa terjadi. Aku mau kamu nggak kenapa-kenapa."

Nora mendesah kesal karena kalimat itu. Entah kenapa dia tersulut padahal Nusa tidak menyalakan kalimat bara api.

"Ucapan kamu itu ... kamu sedang berharap aku kenapa-kenapa, ya? Kamu berharap anakku akan pergi kayak sebelumnya?"

Reaksi Nusa berubah, yang tadinya santai dan tenang, kini menjadi tegang. Siapa yang tidak akan terkejut dengan kalimat balasan semacam itu? Padahal Nusa tidak memiliki niat buruk sama sekali. Namun, ingatan Nora yang sudah kembali membuat perempuan itu menyangkut pautkan kalimat Nusa dengan kejadian lampau yang sungguh tidak mengenakkan hati.

"Aku nggak memiliki harapan semacam itu. Aku benar-benar mau kamu baik-baik aja, Ra."

Nora menggeleng dengan gusar. "Nggak, nggak! Aku ingat betapa kamu menginginkan anak ini untuk nggak jadi milik kamu. Akan aneh kalo kamu mau dia baik-baik aja. Nusa, aku tahu aku sahabat yang menjijikkan. Aku minta maaf sama kamu karena memaksa kamu menyentuhku sejak awal. Aku tahu betapa murahannya aku, hanya demi kamu nggak menyentuh perempuan lain, aku malah menjebak kamu dengan kehamilan itu. Tapi aku nggak beneran berniat untuk hamil saat itu. Yang aku tahu, aku hanya suka kamu lebih dari teman. Lebih dari sahabat. Aku lebih rela kamu menyentuhku ketimbang perempuan lain. Aku nggak bermaksud menaikkan taraf hidup dengan menjadikan kamu batu loncatan. Jadi, tolong, Sa ... tolong lepasin aku. Maafin aku."

Nora merasa seperti dirinya berlari maraton. Padahal dia hanya mengucapkan kalimat panjang kepada Nusa mengenai masa lalu mereka. Masa lalu yang isinya memang kegilaan dan obsesi akan cinta saja. Nora tidak tahu, manakah sosok Nusa yang sebenarnya. Apakah Nusa yang ada diingatan lamanya, atau Nusa yang menikahinya dan selalu berusaha untuk mengurusnya pasca kecelakaan.

"Maafin aku, Ra."

Nora mengangkat pandangannya untuk membaca apa yang terpancar di manik Nusa. Permintaan maaf itu sangat tulus, tidak pura-pura. Tidak akting belaka. Tapi Nora masih berusaha meraba, kemana arah pria itu akan bicara. Kenapa Nusa meminta maaf juga?

"Maaf karena aku nggak berniat melepaskan kamu apa pun masalahnya."

Nora tidak sempat untuk mengatakan apa pun lagi karena kedua tangan Nusa merangkum wajah perempuan itu. Dagu Nora naik, dan Nusa menyatukan bibir mereka sepenuhnya.

Pria itu memang tidak mengajak melalui kata-kata, tapi Nora terbawa dan paham dengan gerakan bibir suaminya. Sudah bertahun-tahun Nora merasakan sentuhan semacam ini dengan Nusa. Baik di masa lalu mereka yang kacau, maupun di tumpukan kenangan indah sebelum ingatan Nora kembali datang secara penuh. Mereka adalah sepasang suami istri, tidak perlu diragukan lagi. Menahan diri sudah dilakukan dalam beberapa waktu belakangan ini, jelas ada kerinduan yang tidak bisa ditahan dan dibendung keduanya.

"Nusa ..."

Nora merasakan kedua kakinya yang diangkat hingga melingkar di pinggang pria itu. Desahannya muncul karena Nusa menciumi tengkuk istrinya itu hingga bokong Nora duduk di atas permukaan meja marmer yang biasanya digunakan keluarga Daniyara makan bersama-sama.

"Nusa, ini di luar!" Nora berusaha untuk mengingatkan.

"Ini udah malam. Nggak akan ada yang kesini."

Nora berusaha untuk percaya, karena bagaimana pun Nusa adalah anak dari Daniyara dan sudah tinggal lama di sana. Tentu Nusa lebih tahu kapan orang-orang berkeliaran di rumah itu.

Nora akhirnya pasrah di atas meja. Menatap bagaimana Nusa menarik turun celana dalam perempuan itu dari balik gaun tidurnya. Mata mereka tidak terlepas, dan itu semakin mendekat napas Nora. Membaca gairah seksual dari mata Nusa membuat Nora kehilangan kemampuan bicara. Jika bicara saja sulit, bagaimana mungkin dia bisa menolak?

"Aku minta maaf karena pernah jadi bajingan, Ra. Tapi aku tahu, nggak ada perempuan lain yang aku inginkan lebih dari kamu. Aku nggak bisa membayangkan tubuh perempuan lain untuk aku sentuh, dari dulu sampai sekarang. Meski aku bersikap keterlaluan, aku nggak menyentuh perempuan lain. Terlepas kamu yang menyodorkan diri kamu dulu, aku juga menginginkan kamu. I love you, Elnora."

Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang