Voyage : 14.4

176 23 4
                                        

"Halo, Ibu Daniyara! Sudah lama sekali saya nggak melihat Ibu ke butik."

Daniyara menepuk bahu Sarisa karena asistennya itu sedang menyindirnya sebagai pemilik yang tidak pernah mengurus butik dan malah menyerahkan tugas pada Sarisa begitu saja.

"Kamu ini kalau nyindir bisa sehalus ini, ya, Sari. Anyway, saya belum kenalin ini menantu —eh, maksudnya Ibu dari cucu saya, udah jadi mantan menantu. Elnora."

Sarisa dan Elnora berjabat tangan dan berkenalan. Tatapan Sarisa tertuju pada bayi di gendongan Nusa. "Oh, ini cucunya Bu Daniyara yang baru dibawa keluar, ya."

"Ya, gimana lagi. Satu rumah protektif semua ke Dambha. Saya baru bisa pamer cucu sekarang, Sarisa."

Sudah biasa jika orangtua menjadikan cucu mereka sebagai ajang pamer. Padahal, cucu bukan suatu pencapaian. Secara alami, manusia memang berkembang biak. Tapi apa pun itu, Nora dan Nusa tidak melarang Daniyara untuk memamerkan Dambha yang memang menjadi cucu pertama di keluarga tersebut. Maklum, sedang senang-senangnya baru merasakan memiliki cucu.

"Jadi, Ibu Daniyara akan kembali aktif mengurus butik, kan?" tanya Sarisa.

"Em ... memangnya kenapa kalau kamu yang urus, Sarisa? Kamu berhasil mengurus butik selama saya sibuk ngurus di keluarga. Nggak ada yang kacau disini."

Sarisa hanya bisa menghela napas karena respon santai dari Daniyara itu. Dia tidak bisa menyangkal karena memang dia mengurus butik dengan seluruh tenaga yang dia bisa.

"Kenapa? Bayaran kamu kurang? Bonus, kan, jalan terus. Apalagi bonus dari suami saya, lancar, kan?"

Kalimat itu sontak membuat Nusa dan Nora berjengit kaget. Drama apa lagi dari uang bonus yang dimaksud untuk asisten Daniyara itu?

"Ibu, kalau ngomongin bonus dari Pak Roedjati yang lengkaplah, Bu. Itu anak sama menantu jadi kaget dengernya. Dikira saya jadi simpanan Pak Roedjati."

Daniyara tertawa. "Oh, iya, Nusa. Papa kamu kasih bonus ke Sarisa diam-diam sebagai bentuk ancaman. Kalau performa butik turun, Sarisa akan berada dalam posisi sulit. Makanya Papa kamu kasih bonus supaya Sarisa tenggelam dalam tanggung jawabnya selama ngurus butik sendiri tanpa Mama."

Nusa menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan kelakuan orangtuanya. Entah cinta seperti apa yang keduanya miliki sampai terlihat tidak saling peduli, tapi saling melindungi satu sama lain.

"Nggak ngertilah aku jalan pikiran kalian. Yang satu gila kerja, yang satu nggak bisa mengakui kalo sebenernya saling cinta."

Nusa memberikan Dambha pada Nora karena bayi itu mulai tidak nyaman. Nusa sendiri yakin entah popok yang penuh atau bayi itu mencari aroma ibunya.

"Popoknya penuh nggak?" tanya Nusa.

Nora mengecek dan menggeleng. "Aku butuh ruangan buat breastfeeding Dambha."

"Oh, kalo gitu Mama sama Sarisa keluar dulu. Nora harus nyusuin Dambha."

Sontak saja kedua orang yang namanya Nusa sebut mengernyit dan menatap Nusa dengan kilas tajam.

"Yang harusnya keluar itu kamu! Kamu udah jadi mantan suami. Ayo, keluar!"

***

Sebelum mereka benar-benar pulang, mereka dikejutkan dengan keberadaan Roedjati di butik. Tidak ada yang mengharapkan kedatangan pria itu, terutama Daniyara.

"Kamu ngapain disini?" ucap Daniyara.

"Dambha ada disini, jadi aku kesini."

Nusa melirik Nora yang pas sekali melakukan hal yang sama. Belakangan ini mereka menjadi saksi sebagai perkembangan hubungan pasangan tua itu.

"Astaga, kamu bisa tunggu di rumah. Ngapain juga sampai disini? Lagian Nora dan Nusa juga udah mau pulang."

"Oh. Kalo kamu?" balas Roedjati.

Daniyara melirik semua orang di ruangannya yang memandangi diri wanita itu dan Roedjati.

"Kalo aku? Aku kerja, Edja. Apa yang kamu harapkan?"

"Pulang bersamaku."

Pria itu terlalu lurus dalam berkata-kata. Nusa sendiri sampai menghela napas dalam-dalam karena papanya yang jauh dari kata romantis.

"Bilang aja kalo Papa mau jemput Mama. Kenapa harus pakai alasan Dambha segala? Anakku ini bukan alasan yang bisa Papa pakai terus menerus untuk bisa dekat sama Mama."

"Diam kamu, Danusa." Roedjati memarahi putranya itu.

Karena hal itu, Nusa dengan kesal mengajak Nora untuk pulang. "Kita pulang, Ra."

"Tapi Mama dan Papa?" ucap Nora.

"Mereka punya agenda sendiri. Lagi pula, mereka udah setua itu untuk dicemaskan. Nggak ada kita pun, sopir udah nungguin mereka."

Apa yang Nusa ucapkan memang benar. Makanya Nora juga tidak berkeinginan untuk menolong Daniyara atas keberadaan Roedjati. Mereka memang harus menyelesaikan masalah mereka sendiri. Karena memang mereka sudah setua itu.

"Aku nggak nyangka kalo hubungan Mama dan Papa kamu ternyata agak renggang begitu, Sa. Kayaknya waktu kuliah dulu, kamu nggak pernah cerita soal orangtua kamu yang begitu."

"Nora, aku dan saudaraku bukan anak broken home, oke? Sebagai orangtua Papa dan Mamaku itu kompak. Kasih sayang mereka untuk kami, anak-anaknya, sangat dalam. Yang rusak itu hubungan mereka sebagai pasangan, itu aja. Lagi pula aku udah pernah cerita ini juga ke kamu, kan?"

"Iya, sih. Ternyata bisa gitu, ya. Berhasil jadi orangtua, tapi gagal sebagai pasangan."

"Bisa. Buktinya kita." Balasan Nusa itu sontak membuat Nora mengatupkan bibirnya. "Dan untungnya kita masih muda, masih banyak waktu bagiku untuk memperbaiki hubungan kita sebagai pasangan."

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang