Voyage : 15.5

682 27 2
                                        

"Jangan dibuka dulu kotak kue-nya, Danusa!"

Daniyara memberikan peringatan pada putranya itu agar tidak mengacaukan kejutan untuk satu tahun Dambha dilahirkan ke dunia dan tumbuh menjadi batita manis yang suka sekali tersenyum memamerkan giginya.

"Ini mau dibantuin dibawa ke balkon, bukan mau aku buka. Salah sangka mulu sama anak sendiri."

Daniyara berdecak dengan kalimat Nusa itu.

"Siapa yang nggak bakal salah sangka kalo kamu orangnya? Dulu aja kamu nggak mau ngakuin anakmu sendiri. Mau kamu kasih ke Djati. Kenapa sekarang Mama harus selalu berprasangka baik sama kamu?"

Nusa mengangkat kedua tangan seperti buronan yang tidak bisa berlari kemana pun lagi. Dia mengaku kalah dengan argumen Daniyara yang tidak bisa dibalas dengan apa pun lagi. Apalagi sudah membawa-bawa masa lalunya yang berkarakter buruk kepada Nora dan anak mereka yang pada akhirnya tidak bertahan itu.

"Udah, kamu kumpul sama Nora sama Dambha sana. Urusan kue ini biar Mama suruh pelayan aja."

Nusa tidak memiliki alasan untuk menolak suruhan Daniyara. Lagi pula dia memang tidak niat-niat banget untuk membawa kue tersebut jika saja bukan anaknya yang merayakan ulang tahun pertamanya.

Saat menuju tempat bergabung dengan anak dan mantan istrinya, Nusa hanya menemukan Dambha yang diawasi oleh pengasuh. Karena tidak nyaman jika berduaan saja dengan pengasuh, Nusa memberikan gestur jarinya agar si pengasuh pergi.

"Mama mana, Dambha?" tanya Nusa pada sang anak yang sedang memakan jeruknya dengan sembrono.

"Nyonyo."

Dambha si bayi satu tahun yang cerdas itu menunjuk ke arah pintu yang pasti dia ketahui sebagai arah perginya sang mama.

"Mama bilang mau ngapain?" tanya Nusa lagi.

Dambha menggeleng dan masih asyik dengan jeruknya. Cara makan anak itu sungguh lucu hingga Nusa tidak tahan untuk tidak mencium pipi bayi satu tahun itu hingga meronta.

"Papaaaaa."

Dambha hampir saja menangis jika Nusa tidak segera bergerak untuk mengambilkan melon yang manis dan membuat fokus Dambha kembali pada buah baru. Untung saja Dambha ini pecinta buah, jadi tidak sulit untuk membuat anak itu tenang hanya dengan makanan yang termasuk golongan sehat itu.

Nusa menikmati buahnya bersama Dambha ketika rombongan yang membawa kue untuk bayi satu tahun itu muncul. Nusa bisa melihat Nora yang ikut bersama Daniyara dan rupanya mengganti pakaiannya.

Reaksi Nusa dan Dambha jelas berbeda. Jika Dambha kegirangan dengan kejutan yang dibawa oleh keluarganya, maka Nusa terkejut tak bisa berkata-kata karena Nora yang tampak begitu cantik dengan gaun yang terbilang sederhana tapi memeluk tubuh perempuan itu dengan pas. Baru Nusa sadari sepertinya Nora menjalani diet dan menjaga bentuk tubuhnya hingga tampak seperti perempuan single lagi.

Ah, Nusa lupa. Mantan istrinya itu memang sedang sendiri. Jika saja ada kesempatan pria lain menanyakan status Nora, sudah pasti Nusa tidak akan bisa berkutik. Dengan kecantikan Nora ini, laki-laki manapun pasti menaruh perhatiannya untuk Nora.

"Happy birthday, Dambha! Selamat ulang tahun yang pertama cucu keluarga Roedjati!"

Seluruh ucapan bahagia itu membuat Dambha berusaha memijakkan kakinya di atas kursi. Padahal bayi satu tahun itu belum bisa berjalan dengan lurus. Dambha memang aktif, tapi kakinya masih belum kokoh untuk berjalan. Namun, raut senang Dambha itu sudah mampu membuat orang-orang yang merayakan ulang tahun Dambha juga senang melihatnya.

Dambha sudah sibuk digendong sana sini, sedangkan orangtua si bayi hanya bisa tersenyum karena Dambha begitu disayang. Ya, maklum, dia masih satu-satunya cucu dalam keluarga Roedjati ini. Jelas Dambha menjadi kesayangan.

"You look so beautiful," bisik Nusa pada mantan istrinya itu ketika mereka akhirnya saling berdekatan.

"Thank you. You look great too, Nusa."

Senyuman terbit dari bibir keduanya. Seperti dua sejoli remaja yang sedang berusaha saling memuji untuk bisa lebih dekat.

"Tetep aja. Aku nggak nyangka kamu secantik ini hari ini. Padahal yang ulang tahun Dambha."

Nora menahan tawanya. "Masa iya Dambha harus dibikin cantik. Ya, mamanya, dong yang harus cantik."

Nusa bisa melihat kerlingan di mata Nora. Bukankah ini pertanda yang sangat baik? Mereka sudah berada di fase ini. Menjadi mantan suami istri selama satu tahun. Harus menunggu berapa lama lagi?

Untuk sejenak, tatapan mereka saling menghanyutkan sampai lupa bahwa ada banyak orang disana yang bukan mencuri lihat lagi, tapi terang-terangan menyaksikan kemistri yang ada pada keduanya.

"Udah, cium itu! Udah nafsu banget ngeliatinnya." Roemaga berceletuk.

Nora melepas tatapan dengan malu. Sedangkan Nusa yang tidak tahu malu langsung berlutut dan mengeluarkan kotak cincin untuk melamar perempuan itu.

"Marry me again, Elnora. Jadilah istriku, kita menjadi orangtua bagi anak-anak kita."

Ya, akhir sebuah kisah adalah awalan baru di kisah tersebut. Jadi, Nusa akan akhiri masa permantanan ini dengan Nora. Mereka memulai lembaran baru sama-sama. Dengan jalan yang baik tidak seperti sebelumnya.

Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang