Dari setiap sentuhan yang Nusa berikan, harus Nora akui bahwa dia tidak bisa mengelak bahwa dia selalu merasa pernah merasakan setiap sentuhan itu sebelumnya. Sejujurnya, dia mulai meragukan instingnya sendiri dari hati yang tampaknya mengaburkan dunianya yang sekarang. Ingatannya tidak pernah mengungkap bagaimana dia begitu suka membagi sentuhan dengan Nusa sebelumnya. Tentu saja saat di villa mereka memang sudah mengalami banyak hal, tapi ini sebelumnya ... sebelum setiap kejadian di villa, Nora merasakan setiap getaran intim dengan Nusa meski dia yakin baru-baru saja melakukannya dengan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
"Kemana isi kepala kamu itu beterbangan, hm?"
Nora kembali lagi pada dunia nyata dan melihat Nusa yang sudah kembali dari penjelajahannya di bawah sana. Di area yang selalu tertutup dengan kain pembatas agar tidak sembarangan orang bisa melihatnya. Hanya Nusa yang diberikan paket istimewa oleh Nora dan tidak akan ada yang bisa setelah Nusa. Tidak akan pernah ada pria lain yang akan bisa menjamah Nora karena selamanya ikatan mereka akan menjadi hal yang dipertahankan apa pun alasannya.
"Mikirin kamu," ucap Nora.
Lengan perempuan itu langsung dilebarkan untuk menyambut tubuh Nusa yang kembali berada tepat di atasnya. Lalu, dia bisa merasakan ciuman dalam yang disematkan oleh suaminya itu sebelum bertanya.
"Is it good thing? Or something bad about me?"
"Hal buruk apa yang bisa seorang Danusa Roedjati miliki?"
Nora bisa merasakan tubuh suaminya yang berhenti untuk beberapa waktu. Dia tidak tahu kenapa, tapi Nusa tampaknya tidak dalam kondisi yang fokus.
"Nusa?"
"Banyak, Ra."
"Hm?"
"Aku punya banyak keburukan."
Nora yang bisa merasakan betapa resahnya Nusa ketika mengatakan dirinya yang memiliki keburukan. Dia mengusap kening suaminya itu untuk bisa memberika ketenangan dan menjawab tebak-tebakan di kepala Nusa yang sepertinya mengira bahwa Nora memikirkan hal buruk dari diri Nusa.
"Tentu semua orang memiliki keburukan, Sa. Bukan hanya kamu, bahkan aku juga."
Nusa menggelengkan kepalanya. Dia berusaha mengatakan hal lain, tapi Nora menghentikannya.
"Kamu mau bahas masalah keburukan ini berapa lama? Setelah aku balik kering lagi?"
Tentu saja Nusa tidak bisa menghentikan senyuman di bibirnya. Dia suka dengan bahasa vulgar yang digunakan oleh istrinya itu.
"Kalo kamu udah kering lagi, aku dengan senang hati akan membuatnya basah lagi. Aku nggak mau membuat kamu kecewa, jadi aku akan berusaha keras untuk memastikan kamu selalu dalam kondisi terbaik untuk bisa membuatku berselancar dengan mudah tanpa hambatan."
Nora tertawa kecil membayangkan semua ucapan itu yang mengarah pada hal intim yang sedang mereka lakukan. Lalu, tawa itu terhenti bergenti dengan desahan yang tidak terhindarkan dari bibir Nora. Nusa menghujaninya ciuman di sekitar leher dan tengkuknya, menarik punggung perempuan itu untuk terbangun dan berada di atas pangkuan Nusa dengan sempurna.
Rambut Nora yang tergerai langsung mengenai wajah Nusa dan bukannya risih, justru pria itu sengaja membiarkan lidahnya terlihat jelas menjilat sebelum melepaskannya serta meraihnya untuk disatukan di belakang kepala istrinya.
Nusa mengecup permukaan bibir istrinya ringan tapi tetap basah. satu kali bunyinya membuat Nora hampir memejam, tapi kembali terbuka karena Nusa menjaga jarak wajah mereka setelahnya. Dua kali, Nora mengira akan lama dia mendapati ciuman mereka. Namun, Nusa kembali mengambil jarak setelahnya.
"Nusa ..."
"Hm?"
"Kenapa berhenti terus?"
"Apanya yang berhenti terus?"
"Ciumannya."
Nora bisa melihat seringai yang suaminya lakukan. Dia tahu Nusa sedang mengujinya dengan permainan siapa yang tidak sabaran. Namun, bukan berarti Nora tidak bisa melakukan hal yang sama kepada pria itu.
Nora menggunakan instingnya yang begitu saja bisa mempraktikkan hal yang jika dipikirkan lagi sungguh gila. Nora memijak kaki di atas kasur, berjongkok dan mengurut kejantanan Nusa dengan percaya diri. Tidak lupa Nora berusaha sedikit membasahi permukaan pria itu dengan pelumas yang entah bagaimana terlihat di nakas mereka. Nora tidak pernah mengingat kapan dia belajar melakukan semua itu, tapi dia bisa.
"Shit! You are so good with this, Nora."
Perempuan itu bisa mendengar umpatan Nusa yang tidak bisa mengelak dari rasa nikmat. Nora meneruskan kegiatannya hingga dia merasakan milik Nusa menegang dengan sempurna. Lalu, secara reflek dia mengarahkan kejantanan suaminya untuk masuk secara perlahan melalui gerakan tangan Nora sendiri. Dia seolah paham bahwa tidak harus selalu Nusa yang berinisiatif untuk masuk ke dalam permainan inti mereka, bahkan Nora bisa memulainya sendiri dan memastikan mendapatkan kepuasan yang sama tanpa harus dibuat gemas dengan godaan yang sengaja suaminya berikan.
"Hmmm... ini yang aku mau, Danusa. Your big bro inside of me."
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomansaThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
