They voyage to distant lands that we called;home.
|Danusa Roedjati.|
|Roedjati series #2|
Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
[Haiii! Selamat membaca chapter 6 disini, ya. Untuk yang udah gak sabar mau baca duluan, bisa ke Karyakarsa freelancerauthor untuk chapter 10 full. Yang baca duluan berarti tinggal 5 chapter menuju tamat :) Happy reading.]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Selamat pagi semuanya!”
Sapaan dari Nusa itu membuat orang-orang di meja makan menoleh padanya. Rona cerah dari Nusa sudah menjelaskan apa saja yang sudah terjadi. Tidak perlu ada yang menanyakan mengapa Nusa bisa menampilkan rona bahagia sekarang ini. Padahal jika dipikirkan kembali, kenapa Nusa harus bereaksi berlebihan hanya karena malam pertama? Sebab sebelum menikahi Nora pun, mereka berdua sebenarnya sudah pernah melakukan hal gila dengan status yang masih hanya sebatas sahabat saja.
“Kenapa lo senorak ini cuma karena udah buka malam pertama?” bisik Roemaga yang tidak ingin membangkitkan kemarahan Daniya dan Djati sepagi ini.
Tentu saja Roemaga tidak lebih berkuasa dibanding ibu dan kakak pertama mereka. Belum lagi jika dibandingkan dengan ayah mereka yang sejujurnya tidak terjamah. Pria yang hanya sibuk bekerja, bekerja, dan bekerja saja. Ayah mereka jarang sekali bicara di dalam rumah, dia hanya mengeluarkan suara di perusahaannya atau disaat genting saja. Itu pun tidak banyak. Yang diberikan kepercayaan untuk mengurus urusan anak-anak adalah Daniya, istri yang mentalnya sudah sangat terlatih itu.
“Jangan mulai,” ucap Nusa.
Mereka terdiam dan Daniya yang berganti bertanya, “Dimana Elnora? Kamu tinggal sendirian di kamar?”
Nusa tahu apa yang ada di dalam pikiran mamanya ketika melihat ekspresi yang tidak mengenakkan dilayangkan padanya. Sudah jelas jika Daniya memberikan penilaian bahwa Nusa lagi-lagi bersikap sama saja seperti dulu. Padahal bukan itu yang terjadi.
“Nurma!” panggil Daniya pada salah satu asisten rumah tangganya.
“Iya, Nyonya?”
“Tolong bawakan makanan pagi hari ini untuk Elnora di kamar.”
“Baik, Nyo—”
“Jangan!” Nusa menghentikannya.
“Apa-apaan kamu ini, Nusa? Kamu sudah tidak bersikap perhatian dan masih melarang Mama untuk memperhatikan kebutuhan nutrisi Elnora?”
“Bukan itu, Ma. Tapi Nora sedang mandi dan ganti baju. Dia akan kesini, bergabung dengan kita. Aku nggak ninggalin dia sendirian atau nggak peduli. Dia malu dengan apa yang kami lakukan semalam. Jadi—”
“Bisa hentikan perdebatan tidak penting kalian? Karena Papa tidak suka ada keributan di meja makan ini. Fokuslah untuk saling mengisi asupan makanan di pagi hari.”
Roedjati akhirnya yang mengambil alih perintah. Semuanya serentak diam dan tidak lama kemudian Nora memang datang dengan penampilannya yang sudah rapi dan cantik. Perempuan itu rupanya tahu bagaimana cara menghargai tubuhnya sendiri di depan keluarga Nusa. Mungkin semua itu karena ada insting yang membawa Nora untuk memahami bagaimana cara bersikap di keluarga yang memang memiliki banyak pemasukan dari bisnis mereka.
Namun, Nusa tidak suka membuat Nora tertekan dengan semua gaya hidup keluarga pria itu. Berpenampilan sempurna setiap saat, bahkan sepagi ini. Padahal, Nusa lebih suka jika istrinya itu tampil apa adanya. Apalagi jika menyisakan tanda-tanda perbuatan mereka berdua semalam.
Lagi pula, untuk apa memakai semua pakaian rapi tersebut? Karena Nusa tidak ingin membiarkan Nora berlama-lama untuk memakai baju. Mereka masih dalam masa bulan madu, jadi wajar jika masih ada dalam masa untuk melakukannya lagi dan lagi.
“Kenapa?” bisik Nora yang menyadari suasana begitu canggung.
Nusa menggelengkan kepalanya dan mengecup pipi sang istri di depan semua orang. Hanya Roemaga yang bereaksi berlebihan dengan memperagakan gerakan muntah. Sedangkan yang lainnya berusaha untuk mengimbangi gelagat Nusa yang dianggap berpura-pura memberikan segala perhatian dan cinta untuk Nora.
“Kita makan aja. Keluarga ini memang terlalu kaku dan canggung. Nggak usah dipeduliin.”
Nora mengiyakan ajakan suaminya itu. Dia mendapatkan semua pelayanan yang juga didapatkan anggota keluarga Nusa di meja makan dan para pelayannya. Ditengah setiap kegiatan itu, Nusa bisa melihat bagaimana Daniyara senantiasa mengamati Nora. Lalu, ketika pandangan Nusa dan mamanya bertemu, ada bahasa dalam diamnya mulut mereka. Tatapan Daniyara mungkin akan dianggap biasa saja bagi beberapa orang yang tidak mengerti. Namun, pria itu mengerti. Dia tahu bahwa mamanya akan terus mengawasi pergerakannya dan Nora. Di dalam rumah ini, Nusa tidak bisa bergerak dengan bebas untuk bisa menyatukan perasaannya dan Nora. Dia akan melakukan salah satu cara—keluar dari rumah orangtuanya dan membangun keluarganya sendiri dengan Nora. Benar-benar berdua. Tanpa campur tangan siapa pun selain dirinya dan Nora tentu saja.