[Selamat membaca buat semuanya. Yang mau baca duluan chapter-nya aku sediakan di Karyakarsa freelancerauthor. Yang mau ikutin disini aja juga gak masalah. Tapi nanti ekstra part khusus di Karyakarsa, ya. Anyway, cerita ini akan tamat di chapter 15. Tapi santai aja, di akun ini aku super santai updatenya.]
Nusa tidak bisa memaksa keinginan mamanya untuk membiarkan Nora menginap di rumah itu. Di kamar yang sebelumnya digunakan oleh Nora, meski Nusa memaksa memindahkannya. Daniyara tampaknya tidak ingin membantu Nusa untuk menyembunyikan kenyataan. Tak mau membiarkann putranya memanfaatkan ingatan Nora yang hilang saat ini. Jelas Nusa langsung mengecek isi kamar tersebut, pakaian bayi dan semacamnya yang sempat disiapkan di sana, Nusa memastikan semuanya tak ada. Untuk yang satu itu Nusa harus bersyukur karena mamanya bertindak cepat membereskan semuanya.
"Mama membereskan semua kenangan soal bayi karena nggak mau bikin kepala Nora menangkap informasi yang terlalu banyak. Dia bisa lebih sakit dari ini. Tapi mama juga nggak berniat menutupinya. Mama mau membuka informasi yang Nora lupakan secara perlahan! Tapi kamu malah sengaja memanfaatkannya!"
Sudah ada Djati dan Roemaga yang ikut dalam diskusi ini. Ruangan baca menjadi tempat aman supaya Nora tidak tiba-tiba datang mendengarkan. Nora tidak tahu soal ruang baca milik kepala keluarga ini yang sangat enggan ikut campur terlalu dalam untuk urusan pasangan anak-anaknya.
"Aku nggak memanfaatkannya, tapi aku mau memperbaiki kesalahan yang udah aku perbuat, Ma."
"Itu bisa jadi bumerang untuk kamu! Gimana kalo nantinya ingatan Nora kembali dan dia mengingat segalanya!? Kamu ingin mempermainkan pernikahan itu!?"
Daniyara terlalu histeris hingga Djati, putra pertamanya menahan tubuh sang mama. Pria itu mengingatkan Daniyara untuk tetap tenang selama menghadapi Nusa. Anak tengah keluarga Roedjati ini memang sangat istimewa, terlalu pembangkang dan tidak akan kapok jika belum kena batunya sendiri.
"Mama benar, Nusa. Kamu hanya akan menjadi pihak yang mempermainkan pernikahan jika melanjutkan ini. Lagi pula, kamu sangat terlambat bertanggung jawab atas Nora. Dia sudah nggak lagi hamil. Kamu nggak perlu memaksakan diri. Cari perempuan lain yang kamu suka, dan Nora bisa diurus oleh mama. Kamu cari kehidupan sendiri."
"Nggak bisa! Aku nggak akan mau melihat Nora dengan orang lain, aku tahu mama akan berusaha mencarikan pria lain dan memaksa Nora pergi dari rumah ini nantinya. Aku nggak mau melakukan itu."
Daniyara langsung mendesah kesal. "Astaga anak ini! Kamu ini kenapa?? Kalo nantinya kamu sudah menemukan perempuan yang cocok bagimu, mama sudah pasti akan mencarikan Nora pasangan. Untuk apa? Untuk memastikan kamu nggak mengajak Nora berhubungan badan seenaknya. Untuk memastikan Nora nggak dimanfaatkan oleh kamu! Kalo kamu nggak cinta sama Nora, itu lebih baik, karena nggak akan sulit buat kamu merelakannya."
"Mama, itu udah jelas. Dia jatuh cinta sama sahabatnya sendiri, tapi sibuk menyangkal." Roemaga menambahkan.
"Jangan sok tahu! Kamu anak paling muda di sini, jangan sok nebak soal perasaanku, Ru!"
"Aku nggak sok tahu, tapi lihat sendiri kelakuanmu. Seperti anak remaja yang cemburu membayangkan kekasihnya bersama pria lain. Bahkan mama belum membawa pria lain untuk dikenalkan pada Nora, tapi kamu sudah lebih dulu membayangkan yang nggak-nggak semacam itu. Pfftt! Aku berduka untuk kelakuanmu itu."
Roemaga memang menjadi si bungsu yang tidak terlalu akrab dengan Danusa. Roemaga jelas lebih dekat dengan Djati yang memang sangat dewasa serta bijak dalam berpendapat. Meski kehidupan pernikahan hasil perjodohannya juga tidak ada yang tahu bagaimana perjalanannya.
"Sudah. Kalian nggak perlu membuat masalah ini semakin besar, sekarang hanya perlu keputusan serius kamu Nusa. Apa benar mau menikahi Nora?"
"Aku nggak main-main sejak bilang ke mama tadi siang!"
"Lalu kamu akan menerima resikonya begitu Nora mengingat semuanya?" tanya Djati lagi.
"Ingatan biarkan menjadi ingatan. Aku akan memastikan Nora nggak lepas dariku. Aku tahu dia nggak bisa hidup tanpaku."
"Atau justru sebaliknya. Kamu yang nggak bisa hidup tanpa Nora, cupu! Akui saja perasaanmu, jangan pura-pura menjadi pihak yang dibutuhkan Nora."
Roemaga sekali lagi membuat kesal Nusa. Hampir saja ada adegan baku hantam jika Djati tidak memisahkannya.
"Oke. Lebih baik kamu segera menikahi Nora, sebelum perempuan itu sadar sedang kamu manfaatkan sekali lagi. Saranku, nikmati resiko yang akan menanti kamu nantinya. Yang penting, aku, mama dan adikmu sudah mengingatkan hal ini. Kami di sini bukan ingin ikut campur karena ingin kamu hancur, Nusa. Tapi kami di sini ikut campur karena kami peduli kepada kamu dan perempuan yang kamu sakiti itu. Jangan terlalu bangga dengan cinta yang Nora punya untukmu, cinta bukan segalanya."
Ucapan Djati memang menancap di hati Nusa. Apa yang diucapkan sang kakak seolah peringatan yang benar-benar akan terjadi, tapi memang kemungkinan besar itulah yang terjadi kalo Nora inget semuanya.
"Kamu sudah dengar ucapan kakakmu. Mama nggak akan banyak bicara lagi, kamu nikmati saja semua hal yang serba kamu inginkan itu. Jangan berteriak kalau nantinya kamu nggak bisa mempertahankan Nora seperti yang kamu katakan dengan percaya diri seperti tadi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
