"Aku iri sama Papa," ucap Nusa yang sedang memangku putranya untuk berjemur.
Disisinya ada Nora yang sibuk melepaskan pakaian bekas tidur sang bayi secara perlahan. Mereka berdua benar-benar mengurus Dambha berdua.
"Iri kenapa?"
"Karena Dambha bisa nyaman banget tidur di dada Papa. Aku lihat tadi pagi gimana Dambha tidur lelap dan tenang. Itu bikin hatiku agak menciut, tapi salahku juga yang sibuk banget belakangan ini."
Nora memberikan anggukan setuju. Artinya, apa yang dikatakan oleh Nusa memang benar. Artinya juga, Nusa memang tidak memberikan waktu yang cukup untuk dirinya sendiri dan Dambha.
"Sebenarnya aku paham, sih, kenapa kamu memilih sibuk sama kerjaan kamu."
"Kamu paham?" tanya Nusa dengan terkejut.
"Hm. Aku paham."
"Apa yang kamu pahami?"
"Kamu menyibukkan diri karena kamu memang nggak punya cara lain untuk menghindari aku selain sibuk kerja."
Nusa benar-benar malu karena Nora memberikan jawaban yang pas dan sangat menohok. Perempuan itu tidak memberikan ekspresi mengejek, malah biasa saja. Namun, ekspresi biasa saja itu malah membuat Nusa merasa bobrok sekali sebagai pria. Dia merasa kalah dari Nora yang bisa bersikap santai ketika saling berhadapan meski status mereka tidak lagi bersama.
Nusa berdecak. Dia tidak bisa santai meski Nora sudah memahaminya. "Aku bener-bener malu-maluin."
"Nggak malu-maluin. Justru kamu juga kasih aku waktu untuk bisa berhadapan sama kamu."
"Gimana? Maksudnya gimana?" balas Nusa dengan kaget.
"Ya, maksudnya aku juga bakalan bingung mau menghadapi kamu seperti apa karena kita memang baru menghadapi fase pisah tapi aku tetap satu rumah dengan orangtua kamu. Agak canggung, tapi lama-lama aku bisa menyesuaikan. Apalagi Papa nggak bersikap yang gimana-gimana. Papa kamu malah akrab sama Dambha, jadi aku makin lega. Ditambah, aku punya cukup waktu untuk istirahat, jadi aku nggak mikir yang terlalu jauh."
Nusa mengamati bagaimana cara Nora bicara. Jujur saja pria itu semakin rindu memiliki waktu berdua dengan Nora. Bukan sebagai sahabat lagi, melainkan sebagai pasangan. Rasanya benar-benar tidak adil. Kenapa mereka harus melepaskan status pasangan jika mereka bisa nyaman bicara satu sama lain seperti ini? Malah sekarang mereka bisa membicarakan banyak hal yang begitu dalam.
"Kapan kita bisa kembali bersama, Ra?"
Pertanyaan itu mengejutkan bagi Nora. Tatapan mereka bertemu dan Nusa mengirimkan sinyal bahwa pria itu ingin Nora menerima hubungan sebagai suami istri lagi.
"Sampai kamu bisa menyadari sepenuhnya perasaan kamu."
Kini, Nusa yang terkejut karena pria itu merasa sudah sangat yakin dan menyadari perasaannya untuk Nora.
"Aku udah pernah mengatakannya bahkan sebelum Dambha lahir. Perasaan aku untuk kamu, cinta itu, aku beneran memilikinya. Aku menyadari perasaan itu, Ra. Saat aku menikahi kamu, meski kamu saat itu nggak ingat masa lalu kita, aku mulai menyadari bahwa aku nggak cuma menikah karena rasa bersalah semata. Tapi aku memang ingin bersama kamu."
Nora tidak terlihat begitu keras mengemukakan pendapatnya sendiri. Namun, Nusa tahu bahwa perempuan itu tidak bisa diganggu gugat akan keputusannya sendiri.
"Kamu sadar nggak? Sebelum ini, kita cuma membahas di hal yang sama terus menerus, Sa. Soal cinta kita, hubungan kita. Pembahasannya berkutat di hal yang sama berulang kali. Tapi begitu kita cerai, kita malah bisa membahas serius lainnya. Kita nggak terfokuskan pada cinta yang menuntut terus menerus."
"Terus hal itu artinya apa? Kamu lebih suka kita berhubungan tapi nggak punya status?"
"Bukan gitu, Sa. Maksud aku, mari kita terus belajar mendewasakan diri kita masing-masing dulu. Mempersiapkan diri jadi orangtua yang nggak sibuk mengedepankan mengenai cinta, cinta, dan cinta terus menerus. Jujur, aku kalo inget hubungan kita dari dulu ... capek banget mempertanyakan cinta itu terus. Padahal, realita nggak melulu soal cinta. Sekali aja, aku mau belajar gimana diriku tanpa terus bergantung sama cintaku ke kamu."
"Nggak cukupkah saat kamu nggak inget apa pun mengenai cinta itu, Ra? Kamu melepaskan diri dari cintamu buat aku saat itu."
Nora menggeleng kuat. "Nggak. Itu aku masih bisa ngerasain bahwa aku punya rasa yang lebih buat kamu, cuma ingatan aku aja yang ngasih sinyal waspada. Tapi kamu juga nggak kasih aku lepas. Dulu, aku yang maksa kamu untuk terus di sampingku dengan obsesif. Terus, aku yang lupa ingatan, kamu yang obsesif. Sekarang, aku mau kita memperbaiki diri, Sa. Bisa, kan, kamu bersabar lebih lagi?"
Dambha menggerakan tubuhnya hingga Nusa mengalihkan fokus kepada bayinya. "Aku bisa apa selain nurut sama kamu? Kalo aku nggak nurut, kesempatanku untuk bisa meluluhkan hati kamu malah hilang nantinya."
Nora tertawa pelan, lalu perempuan itu mengusap kening Nusa yang terdapat keringat menetes. "Yang dijemur Dambha, malah kamu yang keringetan, Sa."
"Keringetannya bukan karena panas, tapi karena kita duduk dengan jarak sedekat ini. Gimana nggak keringetan, Ra? Kamu buat aku gugup deket kamu."
Nora otomatis menarik tangannya dan terbatuk pelan. Tampaknya Nusa akan mulai mengeluarkan rayuan-rayuan maut untuk bisa meluluhkan perempuan itu secara perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomansaThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
