Voyage : 12.4

253 26 0
                                        

Anjani dan Nora asyik berbincang berdua di gazebo yang menghamparkan pemandangan langit yang indah di malam hari. Sedangkan kakak beradik yang menjadi suami mereka sedang mengamati dari dalam rumah dengan bagian kaca yang menunjukkan betapa akrabnya istri mereka.

"Mereka bikin koalisi." Nusa berucap.

Djati yang hanya bersedekah sedari tadi hanya menarik napas dan terus mengamati istrinya yang tampak ekspresif sekali ketika bercerita pada Nora.

"Jangan bilang istri Mas Djati mau ikutan Nora? Mereka kelihatan seru banget ngobrolnya."

"Bukan dia yang ikutan Nora, tapi justru sebaliknya."

Nusa menoleh pada sang kakak dengan terkejut. Itu sebuah pengakuan yang gila untuk Nusa dengar.

"Maksudnya ... Mas Djati mau cerai?"

Djati memilih diam dan tidak menjawab Nusa. Dia tetap mengamati Anjani dan Nusa terus menuntut penjelasan dari kakaknya itu.

"Mas?? Mau jadi apa keluarga ini, masa ada dua—"

"Shut up." Djati menutupi mulut adiknya agar diam.

Djati memutar langkahnya dan memilih untuk meninggalkan Nusa. Namun, bukan Nusa namanya jika tidak penasaran.

"Emangnya Mas Djati punya masalah sebesar aku dan Nora?"

"Diam, Nusa."

"Gimana aku bisa diam? Mas Djati itu aneh. Pernikahannya baik-baik aja tapi malah nggak mau bertahan—"

Djati membanting gelas ke lantai hingga bunyi nyaringnya mengejutkan semua orang. Dalam waktu yang singkat, Djati memperingatkan adiknya untuk tidak banyak bicara. "Sekali lagi mulut kamu terbuka menanyakan itu, pecahan gelasnya bisa merobek bibir kamu. Paham?"

Nusa sudah lama tidak melihat sisi kakaknya yang seperti monster itu. Hampir dia lupa bahwa sejak kecil Djati memang dibentuk oleh papa mereka yang tidak memiliki sisi perhatian ketika sudah membentuk jiwa berjuang anak-anaknya.

Bagaimana menjelaskannya? Cara didik papa mereka dengan cara didik mama mereka memang berbeda. Mereka tinggal di rumah yang sama, tapi cara mendidik orangtua mereka adalah dua barak militer berbeda. Iya, barak militer. Karena Daniyara sendiri bukan sosok ibu yang lembut, Daniyara terlalu kuat dan tegas untuk ukuran perempuan. Itulah mengapa baik Djati, Nusa, dan Roemaga, ketiganya tidak terbiasa melihat perempuan yang meminta diberi perhatian. Mungkin itu juga sebabnya mereka kesulitan memiliki rumah tangga yang ideal, karena ideal yang dibentuk oleh kedua orangtua mereka jauh dari ideal orang lain.

Tubuh Djati menjauh dari Nusa, dan saat itu mata mereka saling bertaut dan Djati tampak sangat bengis memperingatkannya hingga Nusa hanya bisa berdehem canggung karena dia memang benar-benar takut dengan kakaknya itu.

"Ada apa, sih? Kenapa sampai memecahkan gelas?" Daniyara menegur kedua putranya yang berada di dekat area dapur itu.

"Djati? Nusa? Apa yang kalian perdebatkan sampai begini? Kalian udah tua, masih berantem aja?!"

Djati tidak ambil pusing ocehan Daniyara dan tetap diam. Nusa yang tidak pernah membayangkan kakaknya menunjukkan sisi monsternya itu hanya bisa diam dan mengangkat kedua bahunya saja.

"Mas Djati yang sensi sendiri. Aku cuma berusaha untuk ngomong tapi dia nggak sabar ngomong denganku."

Daniyara menghela napasnya. "Kamu, kan, tahu kakakmu memang nggak suka berisik. Kenapa kamu ganggu dia?"

Tidak berapa lama Nora dan Anjani ikut melihat apa yang sedang diributkan di dalam rumah. Nusa hanya bisa menatap mereka berdua bergantian dengan emosi yang berbeda. Jujur saja Nusa ingin dimanjakan oleh Nora, tapi dia juga tahu kondisi mereka yang akan segera berpisah. Lalu, ketika menatap Anjani, Nusa merasa kasihan. Anjani berada di posisi Nusa saat ini dan Nusa tidak bisa memberikan dukungan karena Djati yang begitu menyeramkan.

"Nusa, minta maaf sama kakakmu."

"Ma, kami bukan anak kecil lagi. Aku dan Mas Djati akan tahu kapan waktunya kami meminta maaf dan berdamai setelah emosi masing-masing reda."

Nusa memilih untuk pergi dan meninggalkan orang-orang yang menatap mereka dengan tegang. Nusa duduk di tepi ranjang dan mengusap wajahnya sendiri. Dia tidak mengerti kenapa kondisi masing-masing pernikahan anak-anak di keluarganya itu kacau balau. Bagaimana pun, Nusa juga memikirkan apa perasaan mamanya yang selalu mengusahakan agar semuanya baik-baik saja.

"Nusa."

Ketika namanya dipanggil, dia mendapati Nora yang memberikan senyuman di balik pintu. "Aku boleh masuk?"

"Ya, masuk aja, Ra."

Kini mereka duduk bersisian dan Nora tahu-tahu saja menggenggam tangan Nusa.

"Mas Djati pasti risih kalo kamu tanyakan terus soal proses cerai kita."

Nusa tadinya sempat kaget karena mengira istrinya tahu bahwa Djati akan menceraikan Anjani. Namun, rupanya bukan itu yang dibahas.

"Iya. Aku paham dia pasti risih."

"Mas Djati hanya membantu aku mengurus berkas dan ketemu pengacara. Sisanya dia juga pasti nggak tahu apa-apa, Sa. Wajar kalo dia marah karena kamu menyangkutkan Mas Djati ke masalah kita."

Nusa hanya mengangguk pelan. Dia juga bersyukur karena Nora yang mengira demikian bisa menghampirinya dan memberikan ketenangan pada Nusa.

"Can I kiss you?" ucap Nusa.

"Apa?"

Karena Nora yang terkejut, Nusa tidak menunggu jawaban perempuan itu. Dia langsung memajukan tubuhnya dan menyatukan bibir mereka. Toh, mereka belum resmi bercerai juga.

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang