Bukan tanpa alasan Nusa bisa hilang kendali hingga memarahi Nora yang pergi ke rumah orangtua pria itu. Nusa marah karena dia merasa tidak tenang dengan pesan yang mamanya kirimkan.
Daniyara: [Hari ini dia datang ke rumah. Menanyakan soal luka di perutnya yang berasal dari bayi yang harus dikeluarkan secara paksa itu. Perlu mama beberkan jawabannya, Danusa?]
Itu bukan pertanyaan, mamanya sedang mengejek Nusa yang tidak akan bisa menghentikan Nora untuk tahu banyak hal. Ingatannya boleh terlepas, tapi instingnya terus berjalan. Sulit untuk mengingkari insting manusia yang memang berdasarkan alasan jelas. Di alam bawah tidak sadar Nora, perempuan itu mengingat setiap luka yang asalnya dari Nusa. Tidak bisa dibohongi. Makanya instingnya mendorong Nora untuk menanyakan banyak hal yang berkaitan dengan luka di tubuhnya.
Parahnya, tidak hanya mengirimkan pesan itu saja pada Nusa. Daniyara bahkan mengirimkan gambar hasil pemeriksaan bayi yang sudah hampir lahir dengan sehat jika saja Nora tidak mengalami kecelakaan.
Rasa bersalah Nusa bertumpuk menjadi berlipat ganda. Mamanya tahu betul letak kelemahan Nusa saat ini. Menggunakan semua firasat Nora dan menyimpan foto-foto janin hingga bayi yang sebenarnya ingin Nusa abaikan, tapi tidak bisa. Mamanya seringkali menggunakan kalimat, 'Ini bayi yang kalo hidup kamu bilang biar diurus sama kakakmu. Biar jadi anak kakakmu. Lucu sekali, tapi sayang, sudah membiru karena nggak ada harapan hidup apalagi bisa jadi anak kakakmu'.
Nusa memilih untuk menyimpan gambar itu sendiri. Di dalam folder rahasia di galeri ponselnya. Tidak ada yang boleh membukanya, apalagi Nora.
"Aku nggak berniat untuk marah sama kamu sebegitunya. Maafin aku, ya."
Nusa menyambut istrinya setelah mandi dengan makanan yang dipesannya. Tidak ingin jika Nora memasak dalam kondisi hati yang tidak baik.
"Memang seharusnya kamu nggak marah-marah sama aku. Kamu aneh banget, kenapa harus marah, sih? Aku nggak godain laki-laki lain, aku juga nggak makan sama laki-laki di luaran sana. Kamu malah marah seolah kamu mergokin aku yang selingkuh."
Deg!
Itu seperti kalimat yang menyindir kelakuan Nusa tepat saat Nora memergokinya sampai kecelakaan. Nusa yang menyatakan perasaannya pada Geografi, mengabaikan bahwa Nora sedang mengandung bayi mereka dan membutuhkan dukungan mental yang tinggi dari ayah si bayi. Bukannya membuat hidup si ibu dan si bayi tenang, Nusa malah menyuguhkan pemandangan yang membuat Nora sakit hati dan berlari kencang dan lupa kondisi hamilnya. Tidak menyadari kendaraan yang melaju kencang di jalanan. Demi menghindari Nusa yang sudah mematahkan hatinya hingga menyebrang tanpa mau melihat kondisi jalanan. Insiden itu terjadi, dan Nusa terjerat dalam adegan berdarah-darah tersebut sampai tangannya masih sering tremor ketika membayangkannya lagi.
"Nusa? Sa? Kamu kenapa?"
Nusa kembali dalam mode sadar dan mendapati Nora yang 'utuh' di depannya. Tanpa menunggu lagi, dia peluk tubuh Nora dengan erat. Menghirup aroma perempuan itu yang baru saja mandi, bukan bau anyir darah, ini aroma Nora bukan Nora yang bersimbah darah, Sa. Dia memejamkan mata dan meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak terbawa ingatan tersebut. Agar tidak ada kalimat macam-macam yang terucap dari bibirnya untuk Nora dengar.
"Maafin aku, Ra. Maaf. Memang salahku. Aku yang salah, Ra. Maaf."
Berulang kali hanya kata maaf yang bisa Nusa ucapkan. Dia benar-benar tidak mau mendapati pemandangan seperti itu lagi terjadi pada Nora.
Nusa merasakan usapan pada punggungnya. Dia hampir menangis jika saja tidak menemukan bibir Nora menciumnya dengan begitu lembut. Dia mendapatkan banyak perlakuan manis dari Nora yang tidak mengingat kejadian tersebut. Namun, pertanyaannya adalah, sampai kapan akan bertahan seperti ini?
***
Nusa menekan pinggul istrinya begitu berada di depan kamar. Ciuman yang diawali Nora dengan lembut berlanjut menjadi begitu intens dan membawa mereka untuk melupakan makanan yang sudah dipesan Nusa tadi. Menuntaskan gairah mereka lebih penting sekarang ini.
Nusa menaikkan bokong istrinya dalam gendongan, agar pria itu bisa menekan kenop pintu ke bawah untuk membuka kamar. Bibir mereka masih saling mencari, tidak peduli dengan langkah yang agak terseok-seok karena tidak memfokuskan diri untuk memandang sekitar.
Seluruh tubuh membaca situasi ini sebagai make love after war yang memang bisa lebih memberikan sensasi tambahan menyenangkan.
"Sa ..."
Nora menutup bibir suaminya untuk menghentikan ciuman mereka.
"Hm?"
"Bokong aku nggak nyaman kesundul sama penis kamu."
Pipi Nora bersemu merah dengan kalimat yang diucapkannya itu. Dari dulu memang, Nusa tertarik dengan Nora karena memang perempuan itu memiliki daya tarik yang tidak bisa Nusa abaikan. Pantas saja jika Roemaga menyeletuk bahwa Nusa memiliki rasa pada Nora tapi sibuk menyangkal. Sebab mereka memang memiliki daya tarik sebagai sepasang makhluk yang saling cinta satu sama lai, yang tidak bisa dilepaskan begitu saja.
"Aku suka nyundul kamu, Ra. Jadi, siap-siap untuk sundulan lanjutannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
