Voyage : 12.5

249 25 1
                                        

Nusa memberikan gerakan menggigit bibir di bagian dalam sang istri hingga Nora terkejut. Namun, perempuan itu tidak mundur darinya sama sekali. Yang ada justru Nora meremas bahu Nusa. Seluruh tubuh Nora bertumpu pada sang suami, meski tahu berat badannya sudah bertambah banyak. Dia tidak peduli dengan berat badannya lagi, karena Nusa yang membelai pinggul dan bagian bokong perempuan itu.

"Nusa ..."

Nora mencoba untuk menjaga kewarasannya. Dia hanya berniat untuk menenangkan pria itu, bukan malah membuat masalah baru dengan membuat mereka semakin tak bisa jauh.

"You don't want it?"

Ini bukan masalah mau atau tidak, tapi Nora tidak bisa membayangkan bagaimana mereka jika besok bangun bersama. Masalahnya mereka ini mau bercerai, loh.

"Bukan gitu-"

"Oke, jadi intinya kamu mau."

"Tapi-"

Nusa tidak memberikan kesempatan pada Nora untuk membantah lagi. Pria itu tahu bahwa Nora memiliki banyak pemikiran, dan itu hanya akan membatalkan niatan mereka menjadi satu malam ini.

"Pintunya, Sa."

"Nggak akan ada yang sembarangan masuk."

Nusa begitu yakin dengan hal itu, dan Nora juga teryakinkan dengan sikap tidak gentarnya. Membuat perempuan itu mau merebahkan tubuhnya di ranjang Nusa. Kedua kaki Nora yang semula menggantung di pinggir ranjang diangkat oleh Nusa untuk berada di bahu pria itu.

Seluruh fokus Nusa tertuju pada Nora, begitu juga sebaliknya. Mata mereka saling mengikat dan percikan gairah itu adalah api yang menenggelamkan mereka hingga membara bersama. Keringat yang dibagi bersama menjadi salah satu bukti bahwa keduanya memang sedang bekerjasama.

"Nusa ..."

"Ya, call my name, Nora. Aku suka kamu memanggil namaku."

Kalimat itu seperti sebuah godaan yang merangsang Nora untuk meneriakan nama Nusa keras-keras. Memang, ya, yang namanya perempuan memang tidak terlepas dari sebuah godaan yang seorang pria berikan. Kelemahan itu selalu membuat Nora terkadang ingin memukul kepalanya sendiri karena begitu bodoh dan mudah terperdaya hanya dengan kalimat manis yang bahkan, mungkin saja tidak diniatkan untuk menggoda dari pihak laki-laki.

Nora meraba otot perut suaminya yang masih begitu terasa. Itu artinya Nusa masih menjaga dengan baik asupan makanan dan disiplin dengan workout meski sudah menjadi seorang suami. Berbanding terbalik dengan Nora yang tidak memiliki keinginan yang keras untuk tetap menjaga bentuk tubuhnya. Meski jika dipikirkan lagi, dia memang tidak bisa sebegitu menjaga karena ada nyawa lain yang harus lebih diutamakan. Bukan bentuk badan lagi, melainkan asupan untuk bayinya.

"Ahk- Nusa ..."

Nora bisa mengatakan bahwa gerakan Nusa menembus jantung perempuan itu dengan begitu dalam.

Nusa tersenyum saat perempuan itu kesulitan untuk mengeluarkan suaranya. Sebab suara Nora rasanya seperti tersedak dengan ludahnya sendiri akibat gerakan yang mengejutkan dari Nusa. Ya, tidak begitu mengejutkan, hanya saja selalu menggetarkan tubuh Nora dengan kadar yang pas.

"Suka?" bisik Nusa.

Pria itu sengaja sekali menggoda dengan bertanya demikian. Siapa yang tidak suka jika diberikan dorongan yang menyenangkan begini?

"Baju kamu bahkan belum terlepas sepenuhnya, Elnora. Seburu-buru itukah kita?"

Nora menggelengkan kepala, tidak tahu untuk apa. Dia tidak menyuruh Nusa untuk mundur atau berhenti. Dia juga tidak tahu apa makna gelengan kepalanya itu. Yang jelas, Nora menggeleng karena merasa semua yang mereka lakukan memang tidak sewajarnya. Namun, dia tidak bisa mengutarakannya.

Tubuh Nusa semakin cepat untuk menggapai puncak mereka bersama. Nora mencengkeram dada hingga pundak Nusa, menggeram karena merasakan getaran yang akan segera menerpa. Setelah itu, mereka memang mendapatkan kepuasan hanya berbeda beberapa detik saja.

Nusa tersenyum dengan bangga dan mengecup bibir Nora sebagai penutup yang belum bisa diri pria itu sepenuhnya lepaskan.

"I love you," ucap Nusa.

Nora tersenyum, menangkup wajah sang suami. Suami yang akan segera menjadi mantan itu.

"Ya, I love you-uh? Eh...."

Nusa menatap Nora dengan bingung. "Apa artinya 'uh' dan 'eh' itu, Ra?"

"Nusa ..."

"Ya?"

"Bayinya, Sa."

"Kenapa bayinya?"

"Sa ... penis kamu."

"Hah? Sebenernya maksud kamu apa? Bayinya atau penis aku?"

"Nusaaaa, aku kontraksi!"

Saat itu juga Nusa terkejut dan meneriakan bahwa Nora mengalami kontraksi. Tidak peduli seperti apa keadaan mereka setelah bercinta.

"What the hell, Danusa!? Bersihkan dulu sisa sperma kamu, baru panggil orang-orang! Bodoh sekali kamu jadi suami!"

Nusa menepuk keningnya dengan tidak percaya pada dirinya sendiri. Dia membuat Nora meringis sakit serta malu karena ulah pria itu sendiri. Dia buru-buru untuk membersihkan sisa spermanya di tubuh Nora dan memastikan perempuan itu sudah bersih sebelum membenarkan pakaian Nora dan dibantu Daniyara mereka membawa perempuan itu untuk berangkat menuju rumah sakit.

Malam ini benar-benar kacau. Ini menjadi percintaan terakhir mereka, karena setelah bayi lahir, perceraian mereka sudah semakin dekat dan pasti. Di satu sisi Nusa bahagia akan melihat anaknya, di sisi yang lain dia sedih mengingat dia segera kehilangan status suami bagi Nora.

Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang