"Acara apa, sih?" tanya Nusa yang mendapati kondisi rumah begitu ramai.
"Syukuran." Nora menjawab sembari tetap santai menyusui Dambha yang mulai memainkan jemarinya pada mulut perempuan itu.
Nusa mengerutkan dahi untuk mengingat tanggal apa dan syukuran apa yang paling masuk akal untuk dirayakan oleh keluarganya. Namun, tidak sejengkal pun ada tanggal yang dirasa pas untuk membuat rumah begitu ramai beserta makanan yang sudah pantas menyaingi acara resepsi pernikahan.
"Syukuran apa? Siapa yang harus didoakan?" tanya Nusa lagi.
Nora mendongak pada mantan suaminya dan mengamati sekitar supaya tidak akan ada yang mendengar kalimat perempuan itu untuk Nusa.
"Syukuran, karena Papa dan Mama tahu Mas Djati nggak jadi cerai."
Nusa tersedak dengan ludahnya sendiri karena hal itu. Rupanya rahasia kakaknya itu sudah diketahui oleh orangtua mereka. Sebuah hal yang sangat menakjubkan hingga dibuat syukuran di rumah itu.
"Sampe sebegininya? Mas Djati emangnya tahu kalo dibikinin syukuran begini?"
"Nggak paham, deh. Mama cuma bilang, mempertahankan rumah tangga adalah hal yang sangat sulit. Kalau salah satu dari ketiga putranya bisa bertahan dan melewati badai perceraian, artinya harus didoakan supaya makin kuat ikatan rumah tangganya."
Nusa meringis dengan kalimat penjelasan dari Nora itu. Dia secara tidak langsung sudah menjadi contoh yang tidak sanggup mempertahankan rumah tangga yang berat itu. Apa pun alasannya dan siapa pun yang memohon untuk bertahan dalam pernikahan Djati, tetap saja konklusinya mereka tidak bercerai. Beda dengan Nusa dan Nora yang meski ada anak pun, mereka belum bisa memperjuangkan rumah tangga itu.
"Kok, berasa disindir Mama melalui kamu, ya, Ra?" ucap Nusa.
"Kalo kamu yang denger dari aku aja ngerasa disindir, apalagi aku yang denger kalimat itu langsung dari Mama kamu?"
Mereka berdua kompak terdiam setelahnya. Helaan napas berat sudah tidak mengherankan mereka keluarkan dari hidung. Untungnya memang mereka menjadi lebih waras dengan adanya perceraian. Keduanya menjadi lebih bisa mengerti komunikasi apa yang harus mereka gunakan untuk tetap berhubungan baik hingga kini.
"Heh? Aku baru sadar juga, kenapa kamu nyusuin di depan begini? Pekerja yang Mama suruh lagi pada sibuk kesana kemari, kamu malah nyusuin disini! Masuk angin nanti payudara kamu, Elnora."
Nora sontak saja panik sendiri dengan kalimat asal jeplak Nusa itu. Bibirnya berkerut memberikan tatapan penuh peringatan pada Nusa agar tidak bicara vulgar dengan menyebut bagian privat tubuh perempuan itu.
"Jangan ngaco, deh! Aku pake penutup begini. Apa yang kamu pikirin dengan pake acara bilang sumber ASI aku masuk angin! Gila kamu, ya, Sa!?"
"Aku nggak gila, cuma agak stres aja karena kamu masih belum mau rujuk sama aku."
Ini lagi. Nora sudah mulai hafal polanya. Nusa selalu menyelipkan ajakan untuk kembali bersama disaat yang tidak pernah terduga.
"Udah, ah! Males aku ngomong sama kamu. Mending aku cari tempat lain—"
"Eh, jangan! Disini aja. Aku masih pengen ngobrol sama kamu."
"Aku nggak mau ngobrol sama kamu kalo yang kamu bahas ngaco."
Nusa membentuk kedua jarinya berbentuk V, menunjukkan janjinya pada Nora.
"Mau ngobrol apa?" ucap Nora.
"Hm. Nggak tahu. Kalo direncanain, aku nggak tahu mau ngobrol apa sama kamu. Tapi kalo mengalir aja, pasti bisa bahas apa aja."
Nora menepuk bokong Dambha perlahan, berdiam sejenak sebelum memberikan kalimat untuk memulai pembicaraan lebih dulu.
"Gimana kabar mantan gebetan kamu?"
Nusa batuk karena tersedak dengan ludahnya sendiri untuk kedua kalinya. Itu pertanyaan yang sangat diluar prediksi dari Nora.
Nora tertawa karena reaksi Nusa itu. "Kenapa? Tegang banget kayaknya mau bahas ... siapa namanya? Afi?"
"Ngapain dibahas, sih? Udah masa lalu. Orangnya juga hidup dan tinggal di luar sama pasangannya."
"Oh. Jadi kamu tahu dia tinggal di luar. Cepet juga updatenya, ya."
"Kan. Bakalan selalu salah ngomong emang kalo bahas ginian."
Nora tertawa lagi. "Biasa aja kali. Aku udah nggak cemburu—"
"Hah?!"
Nusa terlalu keras merespon dengan suara HAH miliknya itu hingga Dambha terganggu dan menangis.
Nora pun segera menenangkan bayinya itu dan untungnya memang Dambha langsung tenang dan kembali menyusu dan memejamkan mata dibalik kain yang menutupi aktivitas tersebut.
"Kenceng banget, sih, Sa?"
"Ya, habisnya. Aku kagetlah. Kamu yang nggak cemburu artinya kamu nggak cinta lagi sama aku."
Pipi Nora bersemu dengan balasan itu. Sungguh mengejutkan karena Nusa semakin blak-blakan saja dengan membahas perasaan mereka.
"Memangnya kamu masih cinta aku?"
"Dasar perempuan. Kalo aku nggak cinta, ngapain kutipu kamu supaya nikah dan akhirnya Dambha lahir? Kalo aku mau nekat, aku nggak akan mau cerai kamu. Tapi aku menghargai apa yang kamu alami. Kita belajar lagi sama-sama, dan makanya aku ajak kamu rujuk. Kalo nggak cinta apa namanya?"
"Bisa aja karena Dambha."
"Nora, jangan mancing aku untuk memperkosa kamu sampai jadi adiknya Dambha supaya kamu percaya bahwa aku cinta sama kamu, ya."
Wajah Nora semakin memanas karena kalimat Nusa. Efeknya terlalu luar biasa bagi tubuh perempuan itu yang tentu saja rindu dengan sentuhan Nusa.
"Makanya percaya sama aku ... ayo rujuk—"
"Danusa! Parkir mobilmu yang bener! Mama nggak mau nanti tamu datang posisi mobilmu masih di tempat yang sama."
Nusa melirik Nora yang senantiasa diam kaku. Mau tak mau pria itu kalah lagi untuk ajakan rujuknya pada Nora.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
