They voyage to distant lands that we called;home.
|Danusa Roedjati.|
|Roedjati series #2|
Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
[Chapter 13 sudah aku unggah di Karyakarsa freelancerauthor. Tinggal 2 chapter lagi menuju ending, ya. Happy reading semuanya!]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak ada yang pasti di dunia ini, termasuk dengan ingatan Nora yang Nusa yakini bisa kembali kapan saja. Maka dari itu, yang bisa dirinya lakukan adalah berusaha untuk memiliki Nora sendiri. Sebab membiarkan Nora untuk dimiliki oleh keluarga pria itu, khususnya Daniyara, maka akan sangat mudah bagi Nora untuk kabur dan tidak bisa Nusa ikat lagi.
Pergi dari kediaman Roedjati adalah salah satu cara untuk mengamankan Nora dan ingatannya yang mungkin nantinya akan kembali. Menghadapi ingatan Nora yang akan kembali harus Nusa sendiri yang mengatasinya. Jangan sampai ada campur tangan dari keluarganya yang bisa membuat Nora terpikirkan untuk pergi begitu saja melalui dukungan para tetua di rumah Roedjati.
"Ini rumah kita mulai sekarang, Sayang."
Mudah saja bagi Nusa mendapatkan hunian yang layak baginya dan Nora dalam waktu yang terbilang singkat. Yang sulit adalah membuat Nora menunjukkan reaksi yang melegakan untuk dilihat.
Saat ini, ekspresi di wajah Nora membuat Nusa ketar ketir sendiri. Dia tahu ada keraguan yang tersimpan di wajah wanita itu. Reaksi yang sepertinya memang berasal dari ingatan di hatinya yang tidak bisa dibohongi begitu saja. Dalam situasi semacam ini, Nusa rasanya ingin memaki pada dirinya sendiri yang tidak bisa membuat perasaan Nora nyaman bahkan setelah pernikahan mereka.
"Hei." Nusa mendekati sang istri dan berusaha untuk memfokuskan wanita itu hanya pada Nusa saja. "Kamu nggak suka rumah ini?"
"Bukan begitu."
Ada bagian yang tidak bisa Nora sampaikan begitu saja. Bukan keraguan, tapi sesuatu yang tidak bisa wanita itu ungkapkan karena otaknya tidak bisa memproses informasi yang tidak diingatnya.
"Kamu masih nggak enak karena kita pindah dari rumah orangtuaku?" tanya Nusa lagi.
"Aku hanya nggak mau membuat hubungan yang keruh dengan keluarga kamu, Sa. Aku nggak mau dinilai menjauhkan kamu dari keluargamu sendiri. Aku nggak mau jadi menantu yang nggak tahu diri dengan semua perlakuan baik keluarga kamu."
"Elnora, kamu bukan menantu-menantu dalam cerita menyedihkan itu. Kamu berbeda. Kamu tetap disayangi keluargaku meski aku bawa kamu pindah."
"Tapi kita nggak ada pembahasan sama sekali sebelum pindah, Sa. Mama kamu dan saudara kamu akan berpikir bahwa aku mempengaruhi kamu untuk semua ini."
Nusa menggelengkan kepalanya untuk memberikan pengertian pada istrinya yang sedang insecure itu. Dengan perlahan Nusa usap wajah Nora dan mengecup keningnya.
"Percayalah, Nora. Mereka nggak pernah berpikir semacam itu. Kalo kamu mau tahu, yang bantu aku bisa sampai ke tahap ini juga mereka."
"Hm? Maksudnya? Bantu apa, Sa?"
"Bantu segalanya, supaya kamu akhirnya bisa bersamaku lagi disini. Keluargaku menyayangi kamu, Nora. Meski memang mereka terlihat kaku."
Nusa memeluk istrinya untuk menyembunyikan ekspresi yang mungkin akan mampu dibaca oleh wanita itu. Ekspresi yang menyembunyikan bahwa keluarga Nusa-lah yang membantu Nora untuk tetap bertahan di rumah tersebut dalam kondisi yang sangat menyedihkan akibat perlakuan Nusa sendiri.
***
"Mas Nusa udah nikah, beneran?" tanya salah satu pegawainya di production house miliknya itu.
Nusa melirik kepada Sakti dan kembali pada beberapa dokumen yang sudah menunggunya untuk kembali beraksi.
"Lo nggak lihat cincin yang gue pake?" ucap Nusa dengan cueknya.
"Ya, maksudnya ... Kadang cincin itu nggak menjelaskan yang sebenarnya. Siapa tahu Mas Nusa pake cincin cuma buat bikin cewek-cewek matre yang suka deketin di kelab malam jadi pada kabur aja."
"Kalo gue banyak nggak di kantor sampe kerjaan numpuk begini, itu artinya gue berhari-hari sibuk di kelab malam menurut lo?"
Sakti hanya menggaruk pelipisnya saja, siap untuk diomeli karena ucapannya yang menyinggung.
"Nggak gitu, loh, Mas maksud saya. Jangan marah begitulah."
Nusa hanya memberikan tatapan tidak peduli pada Sakti. Mulanya dia akan berhenti meladeni ucapan Sakti yag suka berani dan ngalor ngidul. Namun, ketika satu objek disebut, Nusa menjadi tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Berarti udah nggak tertarik lagi sama Afi, ya? Model yang beberapa waktu lalu Mas Nusa ..." Sakti merasakan tatapan setajam pedang yang Nusa layangkan. " ... eh, em ... nanti saya kesini lagi buat ambil berkas yang saya butuhkan, Mas. Saya permisi."
Nusa tidak sempat mengamuk pada Sakti karena pegawainya itu langsung pergi. Dia tidak menyangka bahwa pegawainya bisa lebih ingat dan mampu membahasnya seperti ini.
"Gimana nanti kalo Nora kesini? Omongan mereka bisa tambah ngaco. Dan kalo yang kayak gini terjadi lagi, besar kemungkinan Nora bakalan terus nanya siapa Afi yang dimaksud."
Nusa memiliki tugas tambahan untuk memastikan supaya tidak ada anak buahnya yang membahas mengenai Afi lagi. Toh, dia sudah tidak berada di negara ini lagi. Jangan sampai Nora mendengarnya dari orang lain yang tidak tahu kebenarannya.