Apa yang bisa dilakukan oleh Nora selain lebih banyak untuk berdiam diri? Dia tidak bisa serta merta merasaka ketenangan hanya dengan melihat Nusa yang selalu ada untuknya. Meski dengan keberadaan Nusa mengartikan bahwa pria itu sudah memilihnya ketimbang Afi, tapi tetap saja hati Nora bergeremat dengan rasa cemburu yang tidak bisa dirinya kendalikan.
"Masih nggak bisa tidur?"
Nora menoleh pada suaminya yang terbangun meski dia tidak melakukan selain melamum menatap langit-langit kamar.
"Kenapa? Masih sakit kepalanya?"
Nora menggeleng tanpa berkata. Dia terus menatap Nusa yang begitu telaten untuk mengetahui apa yang Nora rasakan.
"Sa," panggil perempuan itu.
"Hm?"
"Apa ada hal yang kamu sembunyiin dariku?"
Nora melihatnya, bagaimana Nusa membeku dan tidak bisa langsung menjawab. Akhirnya Nora bisa menyadari bahwa memang ada yang tidak beres dengan masa lalu yang berkaitan dengan tidak hadirnya ingatan perempuan itu. Bukankah memag aneh ketika Nusa tidak pernah membahas hal apa saja yang sudah Nora lupakan selama mereka bersama? Malah yang ada pria itu cenderung menutupi apa saja yang pernah terjadi dalam hidup Nora. Beralasan bahwa apa yang sudah terjadi di masa lalu tidak perlu diungkit karena tidak bisa diubah.
"Apa yang sekarang kamu pikirin, Nora?"
Nusa mengusap anak rambut Nora yang berada di sekitar dahi perempuan itu. Namun, itu tidak mengurangi rasa ingin tahu Nora dan jawaban yang ingin didengar.
"Aku berpikir ... kenapa kamu bisa jatuh cinta denganku, padahal aku sangat jauh dari apa yang jadi kriteria kamu."
"Kamu inget kriteriaku?" tanya Nusa.
"Ya. Kamu suka perempuan yang unik dan semakin bikin kamu penasaran, bakal semakin kamu kejar. Dan itu nggak ada di aku, karena sejak menjadi sahabat kamu, nggak ada hal unik yang ada dalam diriku. Aku juga nggak lagi bikin kamu penasaran, karena kamu udah tahu segalanya mengenai aku. Bahkan kita pernah ciuman. Ya, aku inget kita pertama kali ciuman waktu kuliah. Kamu yang ngajarin aku semua itu. Mungkin diingatan yang nggak aku ingat ... kita udah pernah tidur bareng?"
Nusa terlihat tidak bisa berkata-kata untuk sejenak. Dan pria itu mendekat untuk mengecupi pipi Nora.
"Aku memang udah pernah bilang kalo kamu nggak inget bagian dimana kita melakukan hal lebih dari sekedar sentuhan waktu kamu aku bawa ke villa. Kenapa kamu keliatan bingung kalo kita emang ngelakuin banyak hal yang dilakuin pasangan kebanyakan?"
Nora menahan bahu Nusa yang hendak mencium ke arah bibir perempuan itu. "Tapi kita bukan pasangan, Sa. Aku nggak pernah ingat kalo kita pasangan."
Hal itu membuat mata Nusa menyalak marah. Nora tidak tahu mana yang membuat Nusa marah. Apakah gerakan menahan agar pria itu tidak mencium Nora? Atau ucapan bahwa mereka bukan pasangan sejak awal?
"Apa pun yang kita punya dulu, aku sadar bahwa itu bukan hal biasa. Menyadari bahwa aku nggak ingin melepaskan kamu itu adalah bukti bahwa aku memang mencintai kamu."
Nora menyerah ketika Nusa mencium bibirnya, mengusap perut Nora yang semakin hari semakin buncit. Pria menyentuh Nora, memberikan sensasi yang membuat akhirnya konsentrasi Nora beralih pada keinginan untuk bercinta.
Lembut Nusa bergerak, berlama-lama untuk mencium perut Nora. Mereka saling bertatapan sebelum akhirnya melepaskan seluruh pakaian yang melekat. Nora menerima kehadiran Nusa. Merasakan bahwa tubuh pria itu memang ada untuknya. Meski bayangan ada perempuan lain yang menyentuh setiap bagian tubuh Nusa, nyatanya Nusa bersatu hanya dengan Nora.
"Apa aku satu-satunya?" bisik Nora yang membuat Nusa mengangkat kepalanya.
"Apa?"
"Apa aku satu-satunya yang tidur sama kamu?"
Dari cara Nusa yang tersenyum dengan begitu tenang dan yakin, Nora tahu bahwa dia sudah melakukan banyak hal untuk membuat Nusa bersamanya sejak awal.
"Aku harus berterima kasih ke kamu bahwa kamu adalah satu-satunya perempuan yang mau tidur denganku, Ra. Sejak awal, kamu satu-satunya."
Nora memejamkan matanya ketika Nusa mengecup lehernya dan berlama-lama di sana. Diam-diam, Nora menitikkan airmata dan menyadari secara logika bahwa memang dia yang sejak awal berkorban untuk bisa menjadi satu-satunya perempuan yang Nusa tiduri. Sepertinya, sejak awal memang Nora yang tergila-gila pada Nusa hingga dengan bodohnya meminta Dego mengirimkan semua foto-foto sensual Nusa dan Afi. Jika dia waras, sejak awal tidak akan pernah menjebak diri dengan Nusa yang tidak melihat kriteria perempuan idamannya dalam diri Nora.
Itu menyedihkan, Ra. Bahkan sebelum mengingat semuanya dengan jelas, dirimu memang sangat menyedihkan!
Nora mengerti dan merasa sangat masuk akal jika pada akhirnya dia malu dengan tingkahnya sendiri yang murahan untuk mendapatkan balasan cinta dari Nusa. Namun, bagaimana sekarang dia bisa keluar dari hasil jeratannya pada Nusa? Bagaimana bayinya bisa bertahan dan bisa dia urus sendiri jika Nusa memiliki kuasa untuk menahan langkah Nora?
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
