Voyage : 9.2

266 34 3
                                        

Datang, kerja, pulang.

Seperti itulah rutinitas bekerja yang Nora lakukan. Dia tidak bergaul dengan orang di perusahaannya bekerja. Pertama, dia merasa bahwa membangun pertemanan di usianya yang sekarang sudah tidak lagi menjamin hubungan pertemanan yang sepenuhnya baik. Kedua, dia tidak mau membuat pikiran suaminya kemana-mana hanya karena ada orang kantor yang menjadi temannya. Nusa benar-benar berada di titik sangat pencemburu.

"Udah mulai bosen belum?" tanya Nusa yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"Bosen apa?"

"Kerja."

"Kenapa aku harus bosen?"

"Ya, karena rutinitasnya sama aja. Aku perhatiin kamu juga nggak pernah ikut acara kantor apa pun. Apa bedanya kamu kerja atau nggak?"

Nora menata bantalnya untuk menyangga punggungnya yang semakin hari semakin mudah untuk pegal. Perutnya mulai terlihat membuncit dan rutinitas yang dilakukannya benar-benar harus memikirkan kondisi bayi di dalam tubuhnya.

"Lebih mending aku ada kerjaan. Jadi aku nggak bingung kalo di rumah nggak ada kerjaan."

Nusa bergabung dengan istrinya begitu selesai mengganti pakaiannya. Dia bergabung untuk bisa memeluk dan menciumi perut Nora, menyapa anak mereka dengan kecupan-kecupan lama yang disarangkan di atas kulit perut yang bajunya selalu Nusa singkap.

"Kamu lagi hamil, loh. Kalo makin capek karena kerjaan, aku akan sangat marah."

Nora mencubit ujung hidung suaminya itu dan mengusap kepala pria itu. "Aku tahu. Memangnya aku bodoh sampai nggak jaga anakku sendiri? Itulah kenapa aku juga nggak pernah memforsir diri hanya untuk kerja. Hidup aku, kan, bukan untuk kerja. Tapi kerja untuk mengisi waktu luang aja."

"Hm. Itu tau. Kamu nggak akan kekurangan dengan apa pun walaupun kamu nggak kerja. Hartaku cukup untuk kamu dan anak-anak kita."

"Hih! Dasar anak orang kaya dari lahir! Enak banget kalo ngomong."

"Aku serius, Ra."

Nora mengusap pipi suaminya begitu mereka saling bertatapan dalam diam.

"Kenapa kita nggak begini dari dulu, ya, Sa? Sebelum ayahku yang kasar dan tukang bikin masalah itu bikin ingatanku hilang begini."

Nusa menegang di tempatnya. Di dalam usapan lembut Nora itu, ketenangan tidak bisa Nusa sepenuhnya dapatkan. Setiap kali Nora membicarakan mengenai masa lalu, apa pun itu konteksnya, Nusa selalu ketar ketir. Dia takut memberikan jawaban yang rancu dan cenderung tidak tegas, hingga mungkin saja jawaban yang diberikannya akan mengalami cacat logika hingga Nora akan menekan dengan pertanyaan lainnya.

"Kayak gini? Maksudnya?" Nusa berusaha menanggapi dengan perlahan.

"Ya, kaya gini. Jujur sama perasaan kita sendiri, menikah, dan kamu menjamin hidupku sebaik mungkin."

Nora menghentikan gerakan tangannya yang mengusap pipi Nusa. Menatap suaminya dengan kernyitan di dahi, yang membuat Nusa semakin takut akan apa yang diucapkan istrinya selanjutnya.

"Apa mungkin sebelumnya aku nggak cinta kamu, sampai kamu nggak berani untuk melangkah lebih jauh untuk menikahi aku, Sa?"

Nusa menyembunyikan napas leganya dari sang istri dan membimbing tangan Nora untuk kembali mengusap pipi pria itu.

"Mempertanyakan mengenai masa lalu nggak akan ada habisnya. Memang takdir udah menggariskan kita untuk menjalani semuanya seperti sekarang ini."

Nusa tidak ingin ada jawaban kacau sama sekali. Dia hanya ingin menjadikan apa yang mereka jalani kini sebagai tanda mereka sudah meninggalkan masa lalu dan tidak perlu menggalinya lagi. Sebab menggali kisahnya juga akan menggali kesakitan yang terpendam.

***

Nora ingin makanan dingin dan manis. Untuk itulah dia datang ke salah satu toko kue di jam maka siang di salah satu mall dekat dengan kantornya. Perempuan itu makan dengan tenang sembari menyentuh perutnya, sang bayi jelas menyukai pilihan Nora hingga senyuman lebarnya menghiasi agenda makan siang dengan kue ini.

"Elnora?"

Nora menaikkan pandangannya dan mendapati seorang pria yang tidak bisa dikenalinya sama sekali.

"Eh, bener, kan? Elnoranya Bang Nusa."

"Oh, iya, bener."

"Ya, ampuuuun. Udah lama banget nggak denger kabar lo."

Nora tersenyum canggung dengan pria yang rupanya agak kemayu itu meski penampilannya sangat rapi dan cukup tampan.

"Terakhir kalo lo ke hubungin gue itu pas mau tahu hasil foto-foto Bang Nusa. Habis itu lo ngilang kayak ditelan bumi!"

"Eh ... maaf. Tapi aku ngalamin kecelakaan dan sekarang aku kehilangan sebagian ingatanku. Kalo boleh tahu nama kamu siapa?"

Pria itu melakukan gerakan menutup mulutnya dengan dramatis. "Ya, ampun. Sorry, ya. Gue Dego. Maaf banget bikin lo bingung. Sumpah gue nggak maksud ..."

"Nggak apa-apa. Oh, iya. Boleh tahu nggak hasil fotonya?"

"Oh. Lo lupa juga, ya? Bentar ... kayaknya waktu itu gue kirim salinannya ke email lo. Eh, udah lama gue hapus juga. Lagian, kan, sekarang Afi udah nggak di Indonesia, jadi gue nggak bisa ngajak kerjasama sama dia. File-file itu juga nggak gue simpen soalnya kan Bang Nusa simpen sendiri. Tapi sekarang, kan, semua udah clear Afi itu perempuan tulen. Dia cuma tepos aja. Ya, hasil gambarnya lucu dan panas, ya. Nggak heran kalo Bang Nusa kegilaan sama Afi si androgini. Tapi apa pun itu, intinya gue udah nggak simpen file nya. Mungkin lo bisa cek email lo sendiri atau mungkin Bang Nusa juga masih nyimpen ... eh? Gue kebanyakan ngomong soal hal yang nggak lo inget, ya? Duh, maaf, ya. Kadang mulut gue ini nggak bisa diajak kompromi kalo udah ngomong."

Nusa dan Afi? Nusa kegilaan sama Afi si androgini? Apa maksud dari semua informasi yang baru Nora dengar ini?

Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang