Nusa menyadari bahwa sikap Nora sangat berbeda belakangan ini. Bercinta dengan Nora tidak lagi memberikan perasaan puas, yang ada malah membuat Nusa merasakan emosi yang menyedihkan. Mungkin itu yang disebut dengan bercinta membuat pasangan saling mengenal satu sama lain. Semenjak kejadian di kantor perempuan itu juga Nusa megirimkan surat pengunduran diri dan membuat Nora semakin kecewa. Hingga berdampak dengan hubungan mereka belakangan ini yang semakin dingin.
Namun, Nusa tidak ingin tenggelam pada sikap istrinya yang seketika saja menjadi tak semanja dan sedekat biasanya. Dia berusaha untuk menerobos dinding tebal yang Nora buat.
"Hari ini kamu mau kemana? Ada rencana untuk keluar? Biar nggak bosen di rumah aja."
Nora meninggalkan fokusnya dari televisi dan menatap suaminya. "Aku ikut kamu kerja aja, boleh?"
Itu diucapkan dengan biasa saja. Nusa tidak merasa bahwa Nora sedang berusaha menguliti luka lama yang diciptakan pria itu. Dan salah satunya tercipta dari perusahaan Nusa sendiri. Pertanyaan besarnya adalah, apakah Nora sudah ingat atau tidak mengenai masa lalu yang tersimpan rapat di memori tidak sadarnya?
"Aku kerjanya agak banyak gerak. Justru aku yang harusnya tanya ke kamu, apa nggak masalah kalo kamu ikut aku mobile kesana kemari dengan kehamilan yang makin besar?"
"Kan, aku bisa nunggu di ruangan kamu. Nggak harus ikut mondar mandir."
"Sama aja nanti kamu bosen."
"Nggak akan. Selama aku liat hal baru, aku nggak akan bosen."
Tidak bisa memaksa istrinya untuk tidak ikut, Nusa akhirnya mengangguk. Toh, sekarang ini tidak ada yang perlu ditutupi. Afi sendiri sudah tenang menjalani hidupnya bersama keluarga kecilnya di luar negeri, tidak akan ada bagian orang di kantor Nusa yang bisa membuat Nora terpancing untuk mengingat masa lalu mereka yang memang pelik.
***
Kedatangan Nusa bersama Nora memang terbilang baru dan tidak terlalu aneh. Karena semasa masih menjadi sahabat, Nora sudah terbiasa berkeliaran di kantor Nusa. Ya, walaupun tidak sesering itu, tapi banyak pegawai yang sudah tahu siapa Nora. Hanya saja, sekarang status perempuan itu sebagai istri Nusa belum diketahui.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi."
Sapaan dari beberapa pegawai membuat Nusa berulang kali menoleh pada istrinya. Dia ingin tahu respon apa yang Nora tunjukkan. Masalahnya, tidak ada satu pegawai yang memberikan sapaan kepada Nora yang jelas-jelas berdiri di samping pria itu. Jika dulu hal tersebut bukanlah masalah untuk Nusa lihat, kini berbeda. Nusa sekarang bisa melihat bahwa berasa di posisi Nora yang tidak disegani sebagai pasangan pria itu sangatlah tidak menyenangkan.
"Apa perlu kita adakan acara untuk mengenalkan kamu sebagai ist—"
"Bang Nusa, ini ada telepon dari Mas Budi. Dia nanyain soal naskah yang udah dikirim, jadi taken kontrak atau nggak ya? Kalo nggak salah Mas Budi dapet tawaran dari PH sebelah. Ini ceritanya udah agak viral di medsos soalnya. Udah ada pasarnya. Makanya Mas Budi nggak mau nunggu keputusannya lama-lama."
Belum apa-apa, Nusa sudah disibukkan dengan laporan demi laporan baru. Dia hanya bisa melirik Nora yang memberi kode dengan gerakan kepala agar Nusa fokus mengerjakan tugasnya.
"Oke, ke ruang rapat, deh. Minta Budi datang segera. Kalo udah ada orangnya, kasih tau saya. Saya di ruangan mau cek beberapa berkas dulu."
"Oke, Bang Nusa."
Seluruh pegawai Nusa memiliki jatah pekerjaannya sendiri yang cukup unik. Kantor pria itu tidak tampak seperti pegawainya yang bekerja dari jam sembilan pagi ke jam empat sore. Beberapa orang tampak sudah berada di meja kerjanya sejak malam dan baru mau pulang pagi ini.
"Apa semua production house isinya orang-orang yang jam kerjanya nggak tentu begini?" tanya Nora.
"Aku nggak tahu gimana PH lain merancang jam kerja untuk pegawai mereka. Yang aku jalankan di perusahaanku, yang terpenting kerjaan mereka beres. Kalo nggak beres, nggak ada laporan, nggak pulang. Jadi, dibilang bebas juga nggak, tapi memang nggak seketat kantor pada umumnya."
"Gajinya?"
Nusa tersenyum pada istrinya yang tetap saja tertarik pada nominal uang.
"Gajinya sesuai projek. Ada gaji pokok, tapi akan ada bonus kalo masing-masing projek yang mereka tangani. Beda lagi urusannya sama pegawai yang memang urusannya administratif, itu gajinya ya sesuai kantor biasa."
"Ah, gitu."
"Kenapa? Kamu tertarik untuk kerja sama aku? Gaji kamu bisa lebih, karena di jam-jam tertentu, ketika aku butuh charge energi, kamu dapat bonus."
Nora mengabaikan ucapan Nusa, perempuan itu lebih tertarik untuk mengamati sekeliling ruangan Nusa yang memang luas dan agak maksimalis secara desain ruangannya.
"Aku nggak tahu kamu hobi mengisi ruangan dengan berbagai atribut begini. Di rumah desain yang kamu mau malah lebih minimalis."
"Itu karena rumah harus jadi tempat damai dan menenangkan untuk ketika aku pulang. Aku kerja di dunia yang gemerlap dengan berbagai hal. Di ruangan kerja ini, aku memaksimalkan diri untuk mencapai rupiah yang aku inginkan. Begitu pulang, aku mau suasana tenang untuk istirahat."
Nora mengangguk dan terus berkeliling untuk mengamati segala hal di ruangan itu.
"Apa ada kamera di sini?" tanya Nora saat menoleh pada suaminya.
Nusa bergerak ke salah satu dinding, lalu menekan tombol yang secara serentak menutup lemari-lemari kaca yang berisi koleksi piala, patung-patung kecil, dan poster-poster film di dalamnya.
"Beneran ada?" ucap Nora tak percaya.
"Sebagian action figure di dalamnya memang aku pasang kamera tersembunyi. Bahkan di lampu-lampu atas itu, aku juga pasang."
Nora mengamati langit-langit ruangan suaminya itu. Tanpa sadar bahwa Nusa sudah mendekat pada sang perempuan.
"Tapi karena kamu penasaran, aku matikan kamera di atas itu. Dan kita bisa mencoba sesuatu di sini. Gimana menurut kamu?"
Nora tidak mengelak, dia hanya mendengkus dengan kelakuan suaminya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
