Nora membelakangi ranjang untuk mengurus wajahnya sendiri. Jika biasanya dia menggunakan meja rias, maka malam ini tidak. Dia menghindari menatap Nusa yang sedang menemani tidur Dambha. Pria itu berada di kamar Nora dan melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan oleh Roedjati. Nusa meletakkan Dambha di dadanya dan mengusap bayi itu dengan sayang.
"Malam ini kamu siap ngurusin Dambha sendiri?" tanya Nora.
"Kan, aku nggak sendirian. Ada kamu."
Nora mengangkat alisnya lebih dulu sebelum memberikan tanggapan pada ucapan Nusa. "Aku nggak akan tidur sama kamu, Nusa. Dengan kamu yang pengen ikutin cara Papa kamu untuk tidur sama Dambha, aku nggak akan tidur di ruangan yang sama dengan kamu."
Nusa tidak langsung memberikan balasan kepada Nora. Pria itu hanya berdiam diri tapa melepas tatapannya dari Nora. Hal itu membuat Nora merasakan panas di pipinya. Dia tidak tahu apa makna dari tatapan Nusa selain mengintimidasi Nora dengan cara yang paling tenang. Tatapan itu juga memberikan Nora tekanan bahwa apa yang perempuan itu katakan adalah hal yang salah.
"Nusa?" Nora berusaha untuk mendapatkan respon dari mantan suaminya itu.
"Aku nggak akan berkomentar apa pun, Nora. Terserah kamu mau seperti apa. Aku akan mengikuti apa mau kamu."
Mereka saling terdiam setelahnya. Untung saja ketukan pintu kamar Nora memutuskan hening yang dipenuhi kecanggungan itu. Nora membuka pintu dan mendapati Djati.
"Mas Djati?"
"Nusa di dalam?"
Nora mengangguk dan Nusa yang sudah mendengar percakapan antara Nora dan Djati pun meletakkan Dambha di ranjang dengan perlahan. Nusa berjalan menuju pintu dan bertanya pada sang kakak. "Mau ngapain Mas Djati cari aku?"
"Keluar dulu. Mau ngomong sebentar."
"Aku harus jagain Dambha."
Djati menghela napasnya. "Dambha dijagain Nora sama pengasuhnya. Nggak perlu pusing mikirin Dambha, dia bayi yang tenang."
Nora yang ditatap oleh Nusa untuk dimintai bantuan agar tidak perlu ikut bicara dengan Djati pun malah memberikan gerakan agar pria itu pergi.
"Bicara dulu sana sama Mas Djati. Jangan ditunda-tunda."
Nora memang tidak ingin lebih lama menjadi canggung dengan Nusa. Lebih baik pria itu bicara dengan Djati dan tidak sibuk memberikan tatapan pada Nora saja.
***
"Langsung aja. Mas Djati mau ngomong apa?" todong Nusa.
"Maaf untuk waktu itu."
Nusa mendengkus dengan apa yang kakaknya ucapkan itu. "Butuh waktu berbulan-bulan untuk minta maaf doang ternyata."
"Kita ini dilahirkan dari orangtua yang sama. Ada sifat penyangkalan yang nggak bisa kita buang gitu aja, Sa. Aku dan kamu ini sama aja. Baru bisa meminta maaf dan berusaha memperbaiki kalo udah kepentok."
"Emangnya Mas Djati kepentok apa? Lagian kita nggak pernah saling kontak juga setelah hari itu, kan?"
"Yang bikin kepentok bukan antara kamu dan aku sebagai saudara. Tapi hubunganku dan Anjani."
Nusa sudah tidak heran sama sekali dengan kondisi rumah tangga kakaknya itu. Toh, sekarang kondisi pernikahan Nusa juga sudah gagal. Jadi, dia tidak ingin memberikan tanggapan berlebihan.
"Jadi cerai?" ucap Nusa.
"Entengnya mulut kamu tanya begitu."
"Ya, kalo sebelum aku cerai, aku nggak akan semudah itu nanya begini. Toh, yang bantuin Nora untuk menceraikan aku juga Mas Djati."
"Nggak jadi cerai."
Nusa menghela napasnya tidak senang.
"Kenapa malah keliatan nggak lega begitu? Harusnya kamu kasih dukungan ke kakakmu supaya nggak cerai."
"Sekarang udah beda. Nggak ada yang senasib denganku, jadi malah bikin nggak nyaman."
Djati memberikan pukulan pada bahu adiknya itu hingga mengaduh sakit.
"Jadi, pengenmu itu aku cerai?"
"Nggak juga. Kalo bisa bertahan, ya, bagus."
"Terus?"
"Ah, udahlah. Bosen bahas yang cerai-cerai melulu. Muak aku bahas beginian. Mendingan Mas Djati nggak usah ngomongin cerai lagi. Jadi, bisa gagal cerai itu karena akhirnya sadar saling cinta?"
Djati berdiam diri. Mengawang jawaban yang Nusa tunggu. "Mas?"
"Ada banyak alasan, selain cinta. Cinta aja nggak akan mempertahankan hubungan. Salah satu hal yang bisa bikin kami bertahan adalah karena Anjani pada akhirnya memohon."
Itu mengejutkan. "Seorang Mbak Anjani? Memohon? Harga dirinya yang setinggi langit itu terbang kemana? Sikapnya yang suka semena-mena itu apa bisa langsung berubah? Kemana dia yang suka sengaja jalan sama laki-laki lain buat bikin Mas Djati cemburu?"
Djati sekali lagi terdiam. Dia memiliki banyak pikiran pastinya. Nusa juga tidak bisa menyangkal bahwa urusan pasangan menjadi konflik utama mereka dalam hidup. Mungkin karena mereka sejak kecil juga tidak melihat pasangan yang ideal dari yang ditampilkan orangtua mereka.
"Tapi dia cinta sama Mas Djati. Itu udah pasti. Dulu Nora juga melakukan hal yang sama. Mohon-mohon supaya aku nggak pergi dan memilih perempuan lain. Perempuan bisa jadi nggak terbaca kalo udah cinta."
Djati mengacak rambutnya. "Apa perlu kita minum beneran kali ini, Sa?"
Nusa menggeleng dan segera berdiri dari tempatnya. "Nggak dulu, Mas. Aku nggak mau bikin Dambha kecewa. Bye, Mas!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
