VOYAGE ; 5.2

427 35 1
                                        

Nusa tidak bisa tenang sama sekali dengan apa yang didapatinya kini. Sudah lebih lima menit dari waktu yang seharusnya untuk Nora muncul. Semakin lama waktu berjalan, semakin Nusa resah jika ternyata Nora membatalkan pernikahan mereka. Bayangan bahwa Nora mengingat sesuatu yang hilang dari memori di kepalanya dan tidak mau menikah dengan Nusa memberikan tekanan sendiri pada diri pria itu. Belum lagi fakta bahwa keluarga Nusa berusaha untuk memisahkannya dari Nora ... semuanya menjadi masuk akal jika pernikahan yang sudah direncanakannya dengan cepat ini menjadi kacau.

"Kemana aja Mas Djati? Kenapa masih belum muncul?" bisik Nusa pada Roemaga di sampingnya.

"How do I know? Yang nyuruh dia jemput Nora itu lo sendiri. Coba kalo gue. Pasti nggak akan bikin drama meresahkan begini. Karena gue ngak peduli sama apa pun soal kehidupan lo dan calon lo itu. Beda dari Mas Djati yang pasti nggak bakal tinggal diem."

Nusa melirik keduanya yang tidak kalah menyebalkannya ketika bicara. Mengajak bicara Roemaga malah semakin membuat Nusa naik darah.

"Lo mau kemana?" tahan Roemaga pada kakak keduanya itu.

"Lepas! Gue mau pastiin Nora nggak dipengaruhi untuk pergi."

"Jangan gila! Tamu bisa sama paniknya kalo lo pergi. Biar gue aja yang pastiin. Lo disini, tunggu. Inget, ini acara lo sendiri. Jangan bikin kacau."

Roemaga baru saja akan melangkahan kakinya, tapi pintu altar terbuka dan secara perlahan menunjukkan sosok cantik dengan balutan gaun putih yang begitu menyempurnakan penampilan mempelai perempuan.

Secara cepat Nusa menahan napasnya, sekaligus meremas tangannya sendiri karena hampir saja menggila membayangkan Nora kabur dari acara pernikahan mereka.

"Lihat. Mas Djati ternyata nggak segila itu untuk bikin acara pernikahan adiknya sendiri hancur." Roemaga memberikan komentarnya yang tidak diperlukan bagi Nusa.

Pandangan Nusa hanya tertuju pada Nora yang begitu cantik. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan perempuan itu apa pun alasannya. Sekali lagi, Nusa tidak tahu kenapa dia bisa begitu buta dengan apa yang Nora miliki. Obsesinya pada perempuan androgini memang sinting hingga menghapus betapa sempurnanya penampilan Nora yang memang memiliki kriteria fisik yang Nusa suka.

Kemana aja selama ini gue? Sibuk terobsesi sama perempuan androgini malah lupa untuk lihat yang paling deket.

"Jangan ngelamun!" Roemaga memberikan sikutan pada rusuk Nusa.

Adiknya itu memang sangat tidak peduli dengan apa yang terjadi pada hidup kakaknya. Jangankan Roemaga, bahkan satu keluarga siap untuk melawan keinginannya untuk bisa bersama Nora.

"You look so beautiful in white dress."

Nora tersenyum dengan malu-malu di balik penutup kepalanya. Nusa tidak bisa membayangkan lagi perempuan lain yang berada dibalik balutan gaun putih dan tersenyum untuknya. Dia sudah sepenuhnya terpaku dengan apa yang Nora miliki, tidak ada wanita lain di kepalanya yang bisa menggantikan semua ini.

"Kamu udah lihat aku duluan tadi, kenapa masih pasang ekspersi begitu, Sa?"

"Karena kamu cantik."

"Ekhem!" Djati berdehem untuk menghentikan percakapan dua sejoli itu agar mereka segera melakukan prosesi pernikahan.

Kali ini, Nusa tidak ketakutan lagi jika Nora pergi. Sebab mereka sudah terikat. Mereka berada di dalam tali janji suci yang tidak akan pernah bisa dilepaskan dalam keyakinan mereka. Perceraian juga bukan jalan, sebab pisah di mata manusia tidak memisahkan mereka di mata Tuhan Yang Maha Esa.

***

Mengenai kaki Nora, perempuan itu memang mendapatkan fasilitas yang luar biasa hingga pada hari pernikahannya ini, dia bisa berjalan digandeng oleh kakak pertama Nusa.

"Jangan jalan!" larang Nusa.

"Kenapa, Sa? Aku udah bisa jalan dengan baik, kok. Kamu bahkan bisa lihat tadi, kan?"

Nusa berjalan menuju istrinya—ya, kini Nora sudah resmi menjadi istrinya. "Aku tahu kamu bisa. Tapi aku juga tahu kalo kamu masih belum nyaman untuk lama-lama berdiri. Kamu tadi oleng waktu aku cium. Aku nggak bisa membiarkan kamu begitu lagi."

Nora merapatkan bibirnya karena menyadari bahwa suaminya tidak paham dengan apa yang terjadi saat pria itu menyematkan ciuman di depan banyak orang tadi.

"Aku oleng karena aku malu, Sa. Diliatin banyak orang begitu, siapa yang dengkulnya nggak lemes?"

Melihat Nora yang menjawab dengan reaksi yang masih malu-malu meski sudah resmi bersatu, Nusa tidak tahan untuk tidak menggodanya dengan mengecup berulang kali bibir perempuan itu hingga tawa meledak dari bibir cantiknya.

"Sa! Hahaha! Stop, stop! Udah, Danusa!"

Nusa menghentikan ciumannya dan melihat reaksi sang istri setelahnya.

"Masih malu?" tanya pria itu.

Pinggang Nora masih berada dalam pelukan Nusa, dan mereka kini saling bertatapan tanpa jarak berarti. Nora menggeleng dan menyentuh kerah suaminya saat menjawab, "Nggak. Aku nggak malu kalo berdua aja."

"Oh, kamu memang nakal kalo kita cuma berdua aja. Oke. Sekarang aku bakalan lakukan hal lain karena kamu nggak malu kalo kita cuma berduaan."

Nusa membanting tidak terlalu keras tubuh istrinya hingga Nora memekik.

"Nusa!"

"Iya, Sayang. Mari kita lakukan malam pertama ini dengan baik dan benar."

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang