Tidak pernah dalam hidup Nusa yang sekarang ini kembali membayangkan bahwa Nora akan pergi. Dia yakin bahwa tidak ada yang terjadi diantara mereka, paling tidak, bukan hal yang salah yang terjadi sebelum dia mendapati ruang perawatan Nora kosong. Jantungnya berdebar begitu kencang, tentu bukan karena euforia kebahagiaan. Ini adalah fase dimana Nusa merasa ketakutan, sangat ketakutan untuk ditinggalkan oleh Nora.
"Ma, Nora nggak ada di kamar."
Nusa langsung menghubungi Daniyara yang pasti akan sangat kebingungan dihubungi jam lima pagi begini.
"Kamu jangan ngaco. Mau kemana dia jam segini? Coba cari dan pastiin yang bener dulu. Jangan kemakan panik."
"Aku serius! Mama beneran nggak merencanakan hal lain dariku, kan? Mama nggak diam-diam membawa pergi Nora—"
"Udah gila kamu!? Kalo Mama niat bawa pergi Nora, pasti bayi kalian duluan yang Mama bawa! Pastiin dulu sama orang rumah sakit! Mama siap-siap kesana."
Nusa mengikuti perintah mamanya. Dia membuat seisi rumah sakit ikut panik karena Nusa menuntut mereka semua untuk menemukan Nora.
"Pak, mohon tenang dulu. Kami akan pastikan lebih dulu pasien yang keluar dan masuk—"
"Saya butuh cek sendiri CCTV itu! Jangan menyepelekan masalah ini. Istri saya baru selesai operasi. Kalau terjadi sesuatu ke istri saya, rumah sakit ini akan saya tuntut!"
"Nusa?"
Sadar dengan suara yang memanggilnya, Nusa membalikkan tubuhnya dan mendapati Nora yang sedang berjalan ditemani salah satu perawat yang mendorong boks bayi.
Nusa menyimpan rasa marahnya pada orang rumah sakit yang menjadi korban dari kepanikannya itu. Begitu menyadari bahwa istrinya keluar dari ruang perawatan untuk mengunjungi bayi mereka segala kecemasan pun terhempas.
"Kenapa kamu marah-marah sama mas itu?"
Nusa memeluk Nora karena kelegaan yang dirasakannya itu. Beberapa kali juga Nusa mencoba memastikan tubuh Nora tidak mengalami suatu luka. Meskipun tidak masuk akal untuk dilakukan saat ini, tapi Nusa merasakan ketakutan yang tidak berbeda jauh ketika dia mendapati Nora tertabrak dan berlumur darah.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Emangnya aku harus kenapa? Kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa kamu marah-marah?"
"Aku ... Panik kamu nggak ada di ruangan."
Nusa bisa melihat reaksi tidak begitu nyaman yang Nora tunjukkan. Namun, perempuan itu langsung mengalihkannya dengan meminta sang perawat yang mendorong boks bayi mereka untuk menyerahkannya pada Nusa.
"Biar suami saya yang bawa bayi kami ke ruangan, Suster. Terima kasih bantuannya."
Mereka berjalan pelan menuju ke dalam ruangan dengan bayi mereka yang tenang terlelap. Apa lagi yang bisa dilakukan bayi selain tidur, menangis, menyusu, dan buang air? Dengan bayi mereka yang diam dan tidak menyebabkan masalah, Nora dan Nusa memiliki waktu yang banyak untuk mengamati rupa bayi mereka yang baru beberapa jam lahir.
"Aku nggak ngerti kenapa kamu sampai marah-marah kayak tadi, Sa. Kamu panik? Kamu pikir aku akan pergi kemana?"
Nusa menghela napasnya karena mendapati istrinya yang mengeluarkan ekspresi tidak nyaman.
"Maafin aku, Nora. Aku sepertinya terlalu mencampur aduk perasaan takut dari kejadian lama. Lain kali aku nggak akan melakukan itu."
"Ya, harusnya memang kamu belajar untuk menghargai orang yang lebih di bawah kamu secara finansial. Mereka kerja, udah capek, dan kamu yang malah melampiaskan emosi kamu sama mereka. Kebiasaan lama kamu yang suka menyepelekan orang dibawah kamu itu membuat aku kesal melihatnya tadi."
Tidak Nusa sangka akan sejauh itu Nora menjadi marah. Nusa jadi mengingat bagaimana dia memang tidak begitu menghargai perasaan Nora juga posisinya perempuan itu berada di dalam ekonomi yang buruk.
Keduanya tentu saja menjadi diam satu sama lain. Kondisi ini membuat Nusa dan Nora memikirkan kembali hubungan lama mereka. Hubungan yang dimulai dengan cara yang terbilang salah. Nusa yang terlalu menyangkal perasaannya berujung pada hal tidak menyenangkan begini.
"Apa Mas Djati masih tidur jam segini?" tanya Nora tiba-tiba.
"Hm? Kenapa kamu tanya Mas Djati?"
"Karena aku mau tahu proses perceraian kita udah sampai mana."
Dalam waktu kurang dari 24 jam mereka tiba-tiba menjadi pasangan yang saling bersisian dengan asing. Nora seolah tidak ingat bahwa sebelum melahirkan bayinya, mereka sudah menghabiskan waktu untuk seks berdua. Bahkan anggota keluarga Nusa pun menjadi saksi mata langsung. Namun, hal itu tidak membuat Nora mundur dari rencana perceraian.
"Bukannya lebih baik kita bicarakan lebih dulu soal nama anak kita, ketimbang soal perceraian?"
Nora mengamati bayi mereka dan Nusa secara bergantian. Sepertinya lupa mengenai hal itu karena terlalu fokus pada hal yang tidak perempuan itu suka dari Nusa tadi.
"Kamu ayahnya. Tentukan aja nama yang pas untuknya. Aku percayakan bagian itu sama kamu, Nusa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomansThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
