Nusa tidak tahu jika ketika dia pulang, seseorang menunggunya dengan wajah cemas tapi mencoba mengalihkan diri. Ya, siapa lagi? Tentu saja Nora yang menunggunya pulang.
"Kamu baru pulang?" tanya Nora dengan suara agak ragu.
Nusa bisa melihat keresahan yang terpancar dari mata istrinya itu. Dia juga bisa merasakan perhatian yang memang tidak bisa dihilangkan dari Nora begitu saja. Mereka bersahabat cukup lama sebelum perasaan cinta dan obsesi Nora menginterupsi. Bahkan mungkin tanpa disadari, Nusa sudah memiliki perasaan itu untuk Nora dan membuat persahabatan mereka lebih kacau.
"Kenapa kamu belum tidur?"
Nora tampak menggigit bibir bagian dalamnya. Dia tidak bisa menjawab langsung pertanyaan Nusa, dan hal itu tidak membuat Nusa perlu melanjutkan pembicaraan mereka yang pasti diisi dengan basa basi saja.
"Aku..."
"Udahlah, ayo aku antar kamu ke kamar. Anak kita pasti bikin ulah makanya kamu nggak bisa tidur, kan? Ayo, aku temenin kamu dulu sampai kamu tidur."
Nusa tidak mendapati adanya penolakan dari istrinya itu. Dia benar-benar menemani Nora dengan menyentuh perut perempuan itu untuk memberikan ketenangan bagi bayi mereka. Selama itu, mereka berdua hanya berdiam diri satu sama lain. Mungkin sekitar sepuluh menit berjalan, barulah Nora bertanya lebih dulu.
"Mas Djati kirim pesan tadi. Dia bilang kamu minta ditemenin minum. Tapi kenapa kamu nggak keliatan mabuk sama sekali?"
"Aku nggak minum. Cuma numpang tempatnya aja."
"Numpang di kelab yang berisik?"
Nusa mengangguk. "Justru aku emang cari tempat yang berisik."
"Kenapa?"
Nusa mari kutu dengan pertanyaan 'kenapa' itu. Dia memang mencari tempat berisik untuk numpang menangis. Jika dia menjawab dengan jujur seperti itu, bukankah kemungkinan yang lebih besarnya Nora malah menangkap bahwa pria itu sedang mengais rasa kasihan?
"Ya, pengen yang berisik aja. Kalo di tempat sepi, takutnya malah aku kesurupan karena mikirin banyak hal."
"Kamu memang bandel, nggak heran juga kenapa kamu ke kelab."
"Kalo kamu mau bahas mengenai aku di masa lalu lagi, aku pamit ke kamar aja, Ra."
Nusa sudah bersiap untuk berdiri dan meninggalkan kamar itu, tapi Nora menahan langkah suaminya.
"Tidur di sini, Sa. Temenin aku."
Nusa tidak mengerti. Nora yang menginginkan perpisahan, tapi perempuan itu menahan Nusa yang berusaha memberikan jarak agar tidak terlalu kebiasaan berdekatan dengan perempuan itu.
"Kamu tahu apa yang ada di pikiranku waktu kamu ajak tidur disini sama kamu, kan?"
Nora berdecak. "Cuma tidur, nggak ada yang lain. Hitung-hitung sampai kita beneran nggak bisa satu kamar lagi. Mau atau nggak?"
Nusa jelas tidak akan menolak. Dia juga masih ingin memiliki waktu berdua dengan Nora tanpa harus memikirkan perpisahan mereka. Namun, ini saja sudah lebih dari cukup. Setidaknya Nora tidak menjauhinya lagi. Jadi, dengan kesadaran penuh, Nusa melepaskan pakaiannya hingga hanya tersisa celana pendeknya saja untuk bergabung di ranjang istrinya.
"Jangan nyesel kalo nanti ada yang ganggu bokong kamu pas tidur. Kamu yang ngajakin aku tidur di sini sama kamu."
Nora tidak memprotes, perempuan itu justru menarik tangan kanan Nusa untuk menjadi bantalan, lalu menempelkan diri memeluk suaminya itu. Jantung Nusa berdegup kencang, tapi tidak berusaha menyentuh balik Nora.
"Kita terlalu sering nyakitin hati satu sama lain, Sa. Dari dulu aku udah memaksakan kehendak ke kamu. Maafin aku, ya, Sa."
Nusa memejamkan matanya. Dia benci harus berada dalam posisi seperti ini. Membicarakan yang sudah menjadi masa lalu mereka.
"Udah, tidur. Jangan begadang. Nggak bagus untuk perempuan hamil kayak kamu."
Nusa berusaha untuk mengabaikan Nora yang kembali bicara dengan suara pelan.
"Aku lakuin ini karena aku cinta kamu. Aku nggak mau cinta kita jadi beracun. Aku mau cinta kita bersih, Sa. Aku ingin cerita kita dimulai dengan lebih benar. Jangan benci aku setelah ini, ya, Sa. Karena kalo kamu benci aku, aku nggak bisa membesarkan anak kita dan kasih orangtua yang ideal untuk dia. Dan untuk balasan kamu malam itu, I love you too, Nusa. Mari kita mulai semuanya dengan cara yang lebih baik tanpa terobsesi satu sama lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
