Semakin besar usia kandungannya, semakin Nora tidak bisa bergerak dengan leluasa. Belum lagi jadwal tidurnya yang menjadi terganggu. Malam ini saja dia sudah berusaha mengistirahatkan tubuhnya, rapi rasa kantuk tidak kunjung datang. Yang ada malah dia merasa semakin lelah karena memaksakan diri. Anaknya ini memang sepertinya ingin menguji kesabaran Nora.
"Kalo kamu nggak tidur, Mama nggak bisa istirahat, Nak."
Nora berusaha untuk bicara dengan bayinya di dalam perut, tapi tidak ada reaksi yang ditunjukkan. Padahal, jika ada Nusa, anak itu akan dengan aktif menendang.
Ah, bicara tentang Nusa ... apa Nora harus melakukannya? Meminta pria itu membujuk anak mereka untuk bisa tidur malam ini? Tapi mereka akan bercerai. Masa iya, Nora memaksa pria itu untuk menyentuh perutnya?
Karena pikirannya yang terlalu kacau, Nora memutuskan untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang sebelum akhirnya keluar kamar untuk mencari makanan apa saja yang bisa menenangkan dirinya. Namun, baru saja pintu dia buka, Nusa sudah berdiri di sana.
Nora tidak salah membuka pintu kamar. Ya, Nora tidak salah membuka pintu kamar. Karena keterkejutannya sendiri, Nora menutup pintu kamarnya itu dan membukanya lagi untuk memastikan bahwa memang dia tidak menjadi pihak aneh yang melihat Nusa di depan pintunya. Padahal Nora tidak memanggil pria itu. Tapi kenapa Nusa sudah berada di depan kamar perempuan itu?
"Kenapa kamu belum tidur?" Nusa bertanya.
Ah, pertanyaan itu membuat Nora merasa lebih baik. Setidaknya dia tidak gila hanya karena kesulitan tidur.
"Hm ... Agak kesulitan tidur."
"Butuh bantuanku?"
Nora tidak tahu kenapa dia menjadi salah tingkah sendiri hanya karena pertanyaan itu. Mereka ini sudah pernah dan bahkan sering melakukan hal yang lebih intim. Tapi pertanyaan Nusa yang begitu pengertian dengan kondisi Nora ini malah yang membuat perempuan itu menjadi kelimpungan sendiri. Apa karena Nusa melakukannya disaat mereka dalam proses perpisahan?
"Nora?"
"Ah, aku mau ke dapur. Mau cek apa ada yang bisa bikin suasana hati lebih bagus dan bisa bikin tenang."
Nusa tidak memaksa untuk memberikan bantuan. Tidak peduli bantuan dalam bentuk apa pun, yang jelas Nora ingin menenangkan degup jantungnya lebih dulu dengan mengecek isi ruangan penyimpanan makanan yang Daniyara miliki di rumahnya.
Nora membuka ruangan pendingin yang biasanya tersimpan makanan enak yang chef pribadi Daniyara sediakan dan tidak termakan semuanya. Nora melihat beberapa makanan dan meraihnya untuk menghangatkannya di microwave.
Nora kembali dikejutkan ketika mendapati wajah Nusa yang menunggu dengan tenang di kursi bar di dapur mengarah pada perempuan itu.
"Astaga, kamu ngapain dari tadi bikin kaget, sih??"
"Aku temenin kamu. Memastikan kamu dalam kondisi yang baik karena perut kamu yang makin besar."
Nada bicara Nusa memang menjelaskan bahwa pria itu mencemaskan bayi di dalam perut Nora. Tidak ada yang salah. Perhatian itu memang harus diberikan seorang ayah pada anaknya meski belum terlahir.
"Biar aku bantu," ucap Nusa yang langsung meraih wadah dari makanan yang memang akan Nora hangatkan.
Nora tidak menghentikan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Dia justru menikmatinya karena mereka pasti akan menjadi berjarak setelah ketuk palu nantinya.
"Ada beberapa buah yang belum dipotong. Kamu mau?" tanya Nusa.
"Dimana?" balas Nora.
"Aku ambilin. Kamu tunggu sini aja."
Selama sisa jam yang terus bergulir menuju dini hari itu, Nusa mengurus ibu dari anaknya dengan sangat baik. Pria itu tidak banyak bicara dan hanya melayani saja apa yang sekiranya bisa masuk ke mulut Nora. Menyadari bahwa melakukan semua itu dalam diam, membuat Nora bisa menyimpulkan bahwa tidak menggebu-gebu dalam menjalani hubungan adalah hal terbaik.
"Kamu mikirin apa?" Nusa mengambil piring dan gelas kotor untuk dia letakkan di dalam mesin pencuci otomatis.
Nora menggeleng pelan. "Rasanya nyaman, ya, bisa jalanin hubungan tanpa buru-buru dan dipenuhi dengan pemikiran kerdil membuat kamu selalu berada didekatku. Ternyata hubungan yang tenang dan nggak macem-macem, hubungan yang nggak harus selalu menanyakan pasangan kita dimana, mencemaskan keberadaannya, dan mengamati apa yang pasangan kita lakukan dengan kesederhanaan itu hubungan yang kita butuhkan."
"Kita bisa melakukannya."
"Hm?" Nora menatap Nusa dengan bertanya-tanya.
"Aku bisa melakukannya. Jadi, apa kamu akan mencabut berkas di pengadilan?"
Nora menghela napasnya dan tersenyum dengan apa yang Nusa terus usahakan. Tidak ada jawaban yang Nora berikan, karena dia memang tidak ingin mengubah keputusan.
"Kamu beneran udah nggak berharap sama sekali dengan hubungan kita jadi lebih baik, Nora?"
"Justru karena aku mau kita lebih baik, makanya kita harus pisah."
"Dan nantinya balikan? Kenapa kita harus melakukan itu kalo bisa bertahan dan memperbaikinya?"
"Nusa, terkadang kita harus melepaskan cinta untuk orang lain supaya bisa menemukan cara untuk mencintai diri kita sendiri. Dan itu yang ingin lakukan. Mencari titik terang mencintai diriku sendiri sebelum bisa mencintai kamu dengan cara yang benar juga."
Dan untuk mendapatkan cara mencintai diri dengan benar, selalu ada hal yang harus dikorbankan. Sebab pilihan hanya bisa diambil satu, bukan dua atau lebih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voyage#2 | TAMAT|
RomanceThey voyage to distant lands that we called;home. |Danusa Roedjati.| |Roedjati series #2| Danusa dan Elnora mengawali kisah mereka bukan dengan cinta, melainkan obsesi salah satunya. Suatu ketika Elnora kehilangan ingatannya dan melihat Danusa ket...
