VOYAGE ; 2.4

854 118 0
                                        

Daniyara tidak habis pikir dengan tingkah anaknya yang sulit sekali diatur. Memiliki tiga anak laki-laki membuat isi kepalanya hampir membludak jika saja dia tidak kuat mental menghadapinya. Daniyara adalah ibu tangguh yang diyakini memiliki ilmu lebih dari Limbad yang bisa melakukan hal ekstrem di depan layar televisi. Padahal, Limbad tidaklah lebih hebat dari seorang ibu yang berjuang sejak hamil, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak hingga menjadi manusia seutuhnya, bukan Tarzan.

"Berhenti terlalu banyak pikiran, Bu." Sarisa—asisten khusus yang menjaga kondisi Daniyara memberikan pengingat pada wanita yang harus senantiasa menjaga kesehatannya di masa yang tak lagi muda itu.

"Gimana mau berhenti? Anak-anak saya aja hobinya bikin beban pikiran saya, Sari."

Sarisa tidak pernah protes jika Daniyara yang memanggilnya dengan nama 'Sari' saja. Jika orang lain, agaknya Sarisa menjadi marah.

"Sepertinya hanya anak kedua Ibu yang terlalu banyak menimbulkan masalah." Sarisa tidak melihat Djati dan Roemaga yang bermasalah. Danusa adalah sumber masalah di rumah ini.

"Siapa bilang? Djati juga bikin masalah, saya sampe nyuruh pekerja di sana supaya mengawasi Djati dan istrinya. Lalu, Roemaga. Dia itu suka memanfaatkan uangnya. Lihat saja nanti, pasti ada masalah yang timbul. Cuma anak perempuan saya yang bisa diatur. Hidup Swara normal dibanding ketiga kakaknya."

Sarisa mengangguk patuh. Dia menunggu Daniyara menghabiskan teh dan mereka akan beranjak menuju butik ketika Daniyara sudah siap.

"Saya nggak mau ke butik hari ini, Sari."

Sarisa terkejut. Pekerjaan Daniyara di butik tidak bisa ditunda lagi karena pesanan khusus sudah menunggu.

"Bu Dani, ini sudah terhitung 20 hari Anda tidak pergi ke butik. Pesanan khusus sudah menunggu."

"Tapi pikiran saya nggak bisa berpikir apa pun, Sari. Bukannya mendesain dengan bagus, yang ada saya justru mengacaukan pekerjaan pegawai lainnya."

Sarisa memiliki tanggung jawab untuk memastikan atasannya menjalani hari dan pekerjaan dengan seimbang.

"Kalau begitu mungkin Ibu Dani ingin pergi berkuda?" Sarisa mencoba menawarkan cara lain agar Daniyara tidak sibuk memikirkan anak-anaknya saja.

"Nggak. Saya bosan melihat kuda."

"Kira-kira apa yang Ibu ingin lakukan selain melamun di sini?" tanya Sarisa sabar.

Menghela napas, Daniyara mengungkapkan keinginan yang sulit untuk Sarisa lakukan.

"Hubungi Danusa dan katakan saya ingin bertemu dengannya."

*

Danusa menggeleng tak percaya dengan pesan dari nomor asisten mamanya. Danusa diminta untuk pulang dan membawa kembali Elnora.

Tidak akan! Nusa tidak akan membawa Nora kembali ke rumah orangtuanya jika belum ada tanda-tanda hati perempuan itu tertambat pada Nusa.

"Sa, aku boleh minta tolong?" Suara Nora mengaburkan pemikirannya sendiri.

"Ya! Sebentar."

Elnora ada di kamar mandi karena katanya bisa membersihkan diri sendiri. Tentu saja Danusa membuat cara lebih mudah dengan menyiapkan bathtub terisi air untuk perempuan itu mandi setelah berkeringat sehabis berjemur.

"Gimana, Ra?" tanya Nusa menengok sedikit tanpa berani masuk ke kamar mandi sepenuhnya.

Elnora terlihat bingung untuk bicara. Terlihat dari reaksi wajahnya yang menunduk malu dan berusaha menutupi dadanya di dalam air, perempuan itu sedang malu menghadapi Nusa.

"Kenapa? Airnya terlalu panas?" tanya Nusa lagi.

Gelengan kepala Nora sangat pelan, juga suaranya. "Aku udah selesai, Sa."

"Hm?"

"Aku ... selesai mandinya."

Danusa kebingungan. "Iya, kamu mau aku bantu apa?"

"Handuk," jawab Nora pelan.

Danusa mengangguk dan bergerak untuk mengambilkan handuk bagi Nora.

"Ini." Nusa mengangsurkan handuk itu untuk Nora pegang. Namun, berlama-lama menunggu, Nora tidak kunjung mengambil handuk yang diminta. "Nggak jadi?" tanya Danusa.

"Bukan gitu ... aku ..." Elnora mendongak mengunci tatapannya dengan Nusa. Tidak ada yang bisa mereka katakan untuk sejenak. Nora yang malu mengutarakan secara langsung dan Nusa yang tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

"Kamu kenapa, Nora?"

"Aku ... nggak bisa berdiri sendiri."

Nusa terkejut. Dia lupa tadi dia menceburkan Nora sekaligus dengan pakaiannya karena terlalu malu. Tentu saja sekarang Nora tidak bisa bangun dan meraih handuk begitu saja. Efek dari kecelakaan itu membuat Nora harus rajin terapi untuk mengembalikan saraf di kakinya untuk mampu bergerak kembali.

"Maaf, aku lupa, Ra."

Elnora menggeleng dan meminta Nusa bergerak lebih cepat. "Dingin, Sa. Jangan kelamaan berdiri aja, Sa."

Danusa kembali tercenung dan bergerak cepat untuk turun. Tangannya masuk ke dalam air dan merasakan kulit Nora yang licin karena basah.

"Tunggu!" seru Nora menghentikan niatan Nusa untuk mengangkat tubuh perempuan itu.

"Hah?"

"Tutup mata kamu."

Danusa mengernyit dan membalas, "Gimana bisa? Aku mau angkat kamu, kalo aku tutup mata, gimana aku bisa bantu? Kalo kamu jatuh gimana?"

Elnora jadi ikut bingung. "Aku malu kalo kamu nggak tutup mata. Aku telanjang!"

Aku udah pernah lihat. Ingin sekali Danusa mengatakan demikian, tapi otaknya yang cerdas melarang.

"Aku akan lihat ke depan. Aku nggak akan lihat tubuh kamu." Yakin bisa?

Danusa benar-benar diuji dengan mengurus Elnora sendiri. Atau sebenarnya Danusa yang berusaha menguji dirinya sendiri karena melakukan semua ini.

"Oke. Jangan lihat ke bawah, jangan lihat aku."

Danusa mengangguk, meski iblis di dalam pikirannya tidak.

Voyage#2 | TAMAT|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang