Harga penulis berupa vote serta comment.
Diharapkan jangan siders. Karena satu bintangmu itu sangat berharga untuk menghargai waktu, energi, dan tenaga penulis. Jangan plagiat. Karena jika kamu memplagiat cerita ini, kamu akan mendapatkan hukuman.♥♥♥
30. Di Skors
"Mas" panggil Quinnsha berdiri di samping brankar Badai yang masih terlelap. "Maafin aku Mas, aku udah buat kamu terluka" lirihnya menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Setelah sarapan pagi, Quinnsha langsung diajak oleh Ayah Edgar untuk menemui sang suami agar masalah mereka tak berlarut-larut. Dan di sinilah Quinnsha, di ruang rawat inap Badai.
"Ak–" ucapan Quinnsha tertelan kembali karena Badai membuka matanya perlahan.
"Quinnsha?" tanya Badai menyipitkan matanya melihat apakah benar wanita yang berada dihadapannya ini adalah istrinya? "Kamu Quinnsha? istri aku?" lanjutnya bangkit dari tidurnya dan langsung menarik Quinnsha kepelukkannya.
"Jangan pergi Sha. Aku gak minta maaf udah nyakitin hati dan fisik kamu" sesal Badai memeluk erat tubuh sang istri. "Aku gak akan ngelukain kamu lagi Sayang, maaf, maaf" sambungnya mendongak menatap Quinnsha yang diam saja.
"Kamu kenapa diam? kamu marah? kamu gak mau ngomong sama aku? kamu mau balas aku?" berondon Badai menghapus air mata Quinnsha yang mengalir begitu saja.
Quinnsha tidak menjawab pertanyaan dari sang suami, ia menangis histeris. Quinnsha menunduk dan memeluk erat tubuh kekar Badai, ia tenggelamkan wajahnya di perpotongan leher suami mudanya.
"Keluarin aja Sha gak apa-apa kok" pinta Badai menepuk-nepuk punggung bergetar Quinnsha, ia juga ikut mengeluarkan air mata. Namun, Badai berusaha untuk tidak mengeluarkan suaranya.
Setelah beberapa menit saling menangis, akhirnya keduanya berhenti menangis dengan Quinnsha mengurai pelukannya dan menangkup wajah Badai. "Maaf" lirihnya mengusap air mata sang suami.
"Baik 'kan?" tanya Badai ikut mengusap air mata Quinnsha.
"Gak!" balas Quinnsha menggelengkan kepala.
"Kenapa?" tanya Badai mengerutkan dahinya.
Quinnsha tidak menjawab pertanyaan Badai, ia melirik ke arah meja nakas samping brankar sang suami melihat adanya makanan di nampan. Quinnsha mengambil nampan berisi makanan Badai lalu menyodorkan sesendok bubur pada mulut pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Sha" rengek Badai. "Jangan diam aja dong" sambungnya menggelengkan kepala.
"Makan!" tegas Quinnsha masih menyodorkan sesendok bubur untuk Badai.
"CK" decak Badai melahap bubur sodoran Quinnsha. "Jangan diam aja dong, memang diam itu emas, tapi ketahuilah suara kamu itu seperti berlian" ucapnya tersenyum manis.
"Makan dulu!!" pinta Quinnsha kembali menyodorkan sesendok bubur kembali.
"Gak enak" rengek Badai mengerucutkan bibir dan mata berkaca-kaca.
"Terus?" tanya Quinnsha singkat.
"Suapi pakai mulut kamu" balas Badai tersenyum manis, sangat manis.
"CK, gak! makan sendiri!" tekan Quinnsha menyodorkan Kembali bubur ke arah bibir Badai.
"Udah kenang" ujar Badai setelah ia memakan bubur suapan Quinnsha.
"Masih banyak Mas, habiskan" pinta Quinnsha menggelengkan kepala dan kembali menyuapi sang suami.

KAMU SEDANG MEMBACA
01. My Husband Is a Student [END]
Fiksi RemajaFOLLOW DAN VOTE DULU SEBELUM MEMBACA‼️ ★Alghifhari The Series★ ★★★★ Gini nih rasanya nikah sama murid sendiri. Senang, bahagia, malu semua campur aduk. Itulah yang dirasakan seorang guru matematika di salah satu sekolah menengah atas. Berawal dari...